Hari-Hari Pernyataan Cinta MOSES POV
Your friends will know you better in the first minute you meet than your
acquaintances will know you in a thousand years. -Richard Bach, Illusions, The
Adventures of a Reluctant Messiah-
*** "Ngeliatin dia lagi?" Aku meletakkan pensil dan mengernyit ke arah
Adrian. Malas berbohong karena apa pun bohong yang kuupayakan, dia pasti akan
tahu juga. Itulah tidak
enaknya berteman dengan seseorang sejak kecil. Dia sudah
hafal tingkah-lakumu luar dalam.
"Man, lo udah jatuh cinta, rupanya." Adrian kembali
berkomentar, kali ini turut memperhatikan si dia yang sedang membaca dari
kejauhan. Yang dimaksud dia oleh Adrian
adalah seorang perempuan bernama Freya. Tinggi jangkung, berkulit putih pucat
tanpa rona merah. Postur tubuhnya agak membungkuk, seolah tinggi tubuh yang ia
miliki membuatnya tak nyaman. Aku
pertama kali berjumpa dengannya saat orientasi SMU beberapa bulan yang lalu.
Sepasang murid laki- laki dan perempuan dengan nilai tertinggi dipanggil untuk
maju ke podium pada hari pertama orientasi. Saat itu, namaku dan Freya disebut.
Seperti biasa, nilaiku hampir sempurna, dengan Freya satu poin di bawahku. Ketika kami diperkenalkan, aku menjabat
tangannya yang dingin dengan tegas dan menyebutkan nama lengkap, seperti yang
selalu kulakukan. Jabatan gadis itu tidak sekuat aku, dan ia menyebut namanya
dengan lirih. Freya. Begitu saja, tanpa embel-embel. Namanya
sesederhana orangnya, dengan potongan rambut hitam yang
mencapai bahu serta kacamata baca berbingkai hitam yang sering meninggalkan
bekas pada pangkal hidungnya. Dia tampak rapi dalam seragam barunya yang
bersih, tetapi sepatu putihnya terlihat sudah usang. Kami menjadi teman sebangku. Pada
minggu-minggu pertama, kami hampir tidak pernah bicara. Kata-kata yang kami
tukar hanya ucapan selamat pagi, apa pekerjaan rumah hari ini, hari ini giliran
piket siapa? Selebihnya, kami lebih sering diam dan mengerjakan tugas
masing-masing. Lalu, suatu hari, dia
tidak sengaja membawa pulang buku tulisku karena sampul depannya sama.
Semalaman suntuk aku membongkar isi ransel untuk menemukan buku tugasku dan
hampir pasrah menerima amukan Pak Suryo, guru mata pelajaran Sejarah, yang
paling tidak suka murid-murid tidak mengerjakan tugas. Namun, keesokan paginya
Freya, dengan muka merah karena malu, mengembalikan buku tersebut sambil
meminta maaf. Dan, dia tersenyum.
Mungkin itu jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin itu
hanya perasaan suka. Entah apalah. Yang jelas, aku merasakan sesuatu yang
berbeda, sesuatu yang belum pernah aku rasakan seumur hidupku. Sesuatu yang
selalu Adrian bicarakan, tetapi aku hanya pura-pura masa bodoh atau sudah
mengerti. Sejak saat itu, kekakuan di
antara kami mencair. Kami sering mengobrol mengenai pelajaran, sesuatu yang
sama-sama kami sukai. Terus terang, tidak banyak murid yang sungguh-sungguh
suka belajar. Kebanyakan dari mereka hanya belajar karena terpaksa, untuk
mendapat nilai bagus, untuk lulus dan modal masa depan nanti. Namun, aku dan
Freya berbeda. Kami menikmati kisah-kisah mengenai perang antarsuku,
pertarungan raja-raja zaman dulu, mengutak-atik rumus, dan berusaha menemukan
cara yang lebih baik untuk menyelesaikannya.
Setali tiga uang, begitu kata Adrian.
Adrian sendiri sedang naksir salah seorang teman seangkatan kami:
namanya Anggia, teman Freya. Anggia cukup populer di sekolah kami. Cantik,
kulit kecokelatan dengan rambut ikal yang tergerai sampai punggung. Aku pribadi
tidak terlalu mengenalnya,
tetapi selama rapat OSIS, selalu saja ada senior yang
mengusulkan Anggia menjadi kandidat sekretaris, demi alasan cuci mata dan agar
rapat tidak membosankan. Dasar kekanakan. Padahal, OSIS bukan ajang cari teman
kencan dan ada beberapa murid yang sungguh- sungguh berdedikasi untuk kegiatan
sekolah. "Belum ada perkembangan
sama si dia?" Adrian bertanya, sebelah tangannya sibuk memutar-mutar
sebentuk kaleng bekas minuman yang sudah penyok. Aku menggeleng. Aku dan Freya sesekali
mengobrol pada jam istirahat, bertukar teori, berbasa-basi, tetapi tidak pernah
lebih dari itu. "Nanti keburu
disamber si jangkung, lho." Si
jangkung itu adalah Erik, teman Freya yang selalu pulang bareng bersamanya.
Mereka sangat dekat. Pacarankah? Sepertinya tidak. Mudah-mudahan sih, tidak.
Lagi pula, ucapan Adrian tadi sama-sekali tidak membantu apa-apa. Bicara
tentang kisah cintaku yang non-eksisten membuatku tak nyaman. Cara terbaik
adalah mengalihkan pembicaraan. Adrian paling suka bicara tentang dirinya
sendiri.
"Lo dan Anggia
gimana? Tanggapannya positif, netral, ngambang, atau negatif?" Aku
bertanya, mengutip kalimatnya yang sangat menyebalkan tempo hari. Dia nyengirngkung? Nggak ada sisi cool- nya
sama sekali." Aku berpikir.
Presentase diterima... hmmm... lima puluh persen. Presentase ditolak, juga lima
puluh persen. Fifty-fifty. . "Gue
bakal nembak Anggia Senin depan, Mos. Gimana kalo lo ikutan juga?" "Nembak Anggia juga, maksud lo? Nggak,
ah." "Untuk seseorang yang
IQ-nya hampir mencapai 150, kadang lo bego banget, tau nggak. Maksud gue, lo
ikutan nembak Freya." Adrian garuk-garuk kepala, tahu aku akan bilang
tidak. Dia selalu tahu. "Ayolah, Mos. Mau sampai kapan lo menguntit dia
dari jauh dan cemburu buta sama si ja
"Kalau ditolak, paling dia nggak ngomong lagi sama lo
selamanya karena cewek cenderung kasihan atau menghindari cowok yang udah
ditolaknya," sahut Adrian santai, lalu melemparkan kaleng bekasnya ke tong
sampah—gaya three point yang menjadi andalannya di lapangan basket. Masuk.
"Kalau gue ditolak, gue bakal lari sepuluh kali keliling lapangan, hari
itu juga. Di depan semua orang sambil teriak I love youuu....
Gimana?" Aku tersenyum. Adrian
gemar hal-hal ekstrem yang cenderung gila. Tak punya urat malu. Namun, harus
kuakui, membayangkan dia berlari-lari konyol mengelilingi lapangan cukup
menghibur dibandingkan parodi lagu dangdut yang dilakukannya di tengah kantin
tempo hari karena frustasi nilainya jeblok.
"Kalau gue yang ditolak?"
"Lo yang lari keliling lapangan sambil teriak I love youuu....
Gampang, kan? Nggak lebih susah dari ulangan Fisika, kok." "Nggak deh, makasih."
Dan, tentu saja,
Adrian tahu hal yang tepat untuk diucapkan. "Jangan jadi penakut, Mos.
Masa lo nggak berani nembak cewek?"
Maka, jadilah taruhan itu. Kami berdua akan membuat pernyataan cinta di
hari yang sama, tiga hari lagi, hari Senin, sebelum kelas berakhir. Siapa pun
yang ditolak harus berlari sepuluh kali keliling lapangan sekolah. Siapa pun
yang kalah harus membiarkan dirinya dilihat satu sekolah, sedang berlari
merelakan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Hari Senin tinggal sebentar lagi. Aku hanya bisa menunggu. ***
ADRIAN POV "Hai,
cantik."
Cewek itu mendongak, wajahnya merah padam karena panas dan
bersimbah keringat; membuatnya kelihatan makin imut saja. "Gombal," sahutnya manja, tetapi
dia tersenyum. Perkanlakan cewek
ini—calon pacar gue, namanya Anggia Azizah. Cakep, matanya bundar, pipinya juga
bundar, enak kalau dicubit, dan senyumnya lucu. Anak kelas 1-1, nggak suka
pelajaran yang ribet-ribet itungannya, paling suka kelas olahraga dan seni rupa
karena dia senang menggambar. Ikut tim basket hanya karena gue ada di sana.
Hehehe. Kalau yang terakhir ini, gue nggak tahu persis sih, tapi kalau feeling
gue bener, berarti dia juga punya perasaan buat gue. Yes! Cewek berambut panjang dan bertubuh mungil
kayak dia di sekolah ini banyak, tetapi nggak tahu kenapa gue suka aja ngeliat
Anggia. Orangnya supel banget, jadi enak diajak ngobrol tentang apa aja. Kalau
diledek, selalu bisa ngeledek balik. Bersama dia, rasanya sangat menyenangkan. "Makan bareng, yuk. Gue traktir deh.
Bakso."
"Hari ini, aku
makan bareng gengnya Riko," jawabnya.
Kemarin, bareng Cakka dan anak-anak OSIS. Hari ini, bareng Riko. Kadang,
kalau nggak nanya dari jauh-jauh hari, seringnya nggak kebagian jadwal makan
siang sama Anggia, deh. Waktu gue kasih tahu begitu, Anggia cuma ketawa. "Kalau begitu, Anda sedang kurang
beruntung." "Jadi kapan dong,
makan siang sama gue?" Dia
mengerucutkan bibir, sibuk berpikir, membalik- balik jadwal tak tertulis di
kepala. "Kapan-kapan, deh." Akhirnya, dia memberikan jawaban
diplomatis, yang bikin gue langsung ingin mencubit pipinya dengan gemas. Kadang-kadang, gue juga merasa kalau nggak
buru- buru, cewek ini pasti duluan kesamber orang. Makanya, gue harus cepat menyusun
acara penembakan yang jitu buat Anggia.
Dia suka
melukis. Dia suka drama Korea. Dia suka warna pink. Dia suka bunga. Aha. Gue dapet ide buat nembak Anggia hari
senin nanti ANGGIA POV I hate
monday! ***
Hari Senin selalu melelahkan. Pagi-pagi, saat semua orang
masih menguap dan pengin bersembunyi di balik selimut untuk limaaaa menit saja
tidur lagi, kami harus mengikuti upacara bendera dan bermandikan cahaya pukul
tujuh pagi yang menyengat. Itu, diikuti dengan pelajaran Pancasila yang
super-duper membosankan, lalu sorenya ada ekstrakurikuler yang menguras
tenaga. Hari ini pun tanpa kecuali.
Memasang tampang bete di Senin pagi sudah jadi trademark-ku, yang selalu digoda
oleh Freya, sahabatku, sebagai muka 'awas cewek galak'. Setelah upacara berakhir, aku segera bergegas
ke loker untuk mengambil buku Pancasila yang berat saking tebalnya. Aku dan
teman sekelasku, Adrian, berbagi loker karena sekolah kami kekurangan
fasilitas. Itu artinya harus berbagi dengan cowok paling populer sesekolah
walau harus rela sesekali mencium aroma tak sedap karena kaus bekas minggu lalu
yang lupa dibawanya pulang. Okelah, aku masih bisa terima hal itu. Yang kadang-kadang bikin kesal adalah tumpah
ruahnya loker karena lembaran amplop pink berisi surat cinta yang sepertinya
habis-habisan disemprot parfum.
Atau kado warna-warni berbagai bentuk. Saking
menyesakkannya, loker kami yang sempit sering memuntahkan segala isinya begitu
pintu dibuka. Aku sudah terbiasa.
Adrian memang bintangnya SMU kami. Banyak murid perempuan yang suka padanya,
menyimpan debaran hati setiap dia lewat. Dia jago basket. Pintar mengambil hati
orang. Dan, ganteng. Yaaaa... nggak lebih ganteng dari Johnny Depp yang fotonya
setia menghuni dinding lokerku (dan sukses membuat Adrian merengut karena
kompetisi timpang itu), tetapi dia memang ganteng. Harus kuakui hal itu. Sejak kelas satu, sejak pertama kali
melihatnya melompat dan melemparkan bola dalam jarak jauh (masuk dengan cantik,
pula!), aku sudah mengaguminya. Awalnya, hanya sebagai objek seni yang indah.
Kemudian, rasa kagum itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih. Walau dia selalu cuek meninggalkan sepatu
kotor di loker. Walau dia nggak pernah
membereskan hadiah-hadiah yang ditinggalkan penggemarnya.
Dan, sering dengan
nyeleneh mengejek hadiah-hadiah yang ditujukan untukku. Ada sebuah kompetisi tak tertulis di antara
kami. Aku dan Adrian selalu berlomba mengecek loker setiap hari Senin. Siapa
yang mendapatkan hadiah dan surat cinta lebih banyak karena jumlah penggemar
kami hampir sama banyaknya. Kadang ada sekuntum mawar untukku (yang dia bilang
terlalu standar dan nggak ada poin uniknya), seperangkat alat tulis untuk
Adrian (yang selalu menghilangkan pensilnya). Surat cinta. Bekal makanan.
Semuanya dijejalkan dalam loker sumpek kami oleh entah siapa yang enggan
mencantumkan nama. Hal ini menjadi kesenangan tersendiri oleh Adrian, sebuah
permainan untuk meledekku, kompetisi popularitas yang tak pernah jelas siapa
pemenangnya; dia atau aku. Sejujurnya,
aku nggak keberatan sama sekali. Senang melihat senyum dan tawanya, senang
mendapat kesempatan untuk saling meledek walau hanya sebentar. Menikmati
debaran jantung yang mendadak tak beraturan begitu dia ada di dekatku. Walau
kami bisa dibilang cukup dekat, selama ini sepertinya dia hanya menganggapku
teman, nggak lebih.
Orang yang sering
menjadi tong sampah curhatanku (dan lebih efektif dari halaman diary) adalah
Freya, sahabatku dari kelas sebelah. Dia adalah satu-satunya cewek yang sama
sekali nggak punya perasaan apa-apa pada Adrian. Nggak suka, pun nggak kagum;
biasa- biasa saja. Karena itu, dia cenderung lebih objektif saat menilai
orang. Adrian itu contoh orang yang
baik sama semua orang, makanya kita nggak bisa benar-benar ngeliat kepribadian
asli di balik senyum yang permanen nempel di wajahnya, begitu pendapat Freya
mengenai Adrian. Selebihnya, dia tidak banyak berkomentar. Jawaban itu hanya menambah kebimbanganku.
Mungkin Adrian memang menganggap semua orang sama rata. Mungkin aku nggak lebih
dari sekedar teman ngobrol untuknya.
Pagi ini, loker kosong begitu kubuka. Hanya ada beberapa kuntum bunga
daisy yang masih segar, dengan kelopak putih sehalus beledu. Harumnya
samar.
Sisa-sisa makanan yang biasa ditinggalkan Adrian, baju
olahraga kotor yang malas dibawanya pulang, dan buku pelajar kami yang
berjejal, semua hilang jejaknya. Hanya ada buku itu, dan cinta yang
dijanjikannya. Dengan malas, aku
menutup pintu loker. Pasti ada seorang murid perempuan yang dengan senang hati
membersihkan loker kami dan meletakkan sebuket bunga untuk Adrian. Akhir-akhir
ini, memang ada seorang penggemar rahasia yang kerap kali meletakkan sekuntum
mawar di dalam loker. Akhirnya, aku
melangkah gontai ke kelas, melewati lapangan tempat Adrian masih bermain basket
dengan asyiknya, tanpa memedulikan bel yang sebentar lagi akan berbunyi. "Hei, ada kejutan apa di loker pagi
ini?" Aku mencibir. Sengaja dia
mau menggodaku, menunjukkan dia menang. Aku berjalan terus tanpa menoleh. PMS
datang lebih awal bulan ini. Dia menjatuhkan bola basketnya dan berlari
menghampiriku.
"Nggi, jutek
amat sih. Gue nanya dicuekin."
"Penggemar rahasia kamu ngasih bunga lagi, tuh." Aku menjawab
males, enggan mengakui bahwa dalam hati ada cemburu yang merayap. "Siapa?" Adrian mengernyit. Aku menatapnya cemberut. "Mana
kutahu." Tiba-tiba, dia tertawa,
begitu lepas hingga aku bingung. Dengan sebelah tangan, dia mencubit pipiku,
membuatku merengut semakin dalam walau diam-diam menyukai sentuhannya. "Ya
ampun, Anggia... yang bener dong kalo terima bunga...." Aku masih memandangnya dengan
bertanya-tanya, sampai dia menarik pergelangan tanganku ke arah barisan loker.
"Tuh, liat." Dia menunjuk buket bunga itu. "Ambil kartunya. Baca
yang bener."
Kuturuti kata-katanya, lalu membaca huruf-huruf yang ditulis
dalam tulisan cakar ayam, khas tulisan cowok. Mawar merah terlalu standar untuk
cewek seperti kamu. Anggia Azizah, mau jadi pacarku? Wajahku spontan memerah, campuran antara
senang dan malu. Bunga itu untukku... bunga itu untukku..! Eh, barusan Adrian
minta aku jadi pacarnya..?? But two can
always play the game. Maka, aku pun berpaling kepadanya, memberikan pandangan
paling tegas saat aku menantangnya, "Masukin bola sepuluh kali
berturut-turut ke dalam ring, aku bakalan bilang iya." Adrian ingin ini menjadi sebuah permainan,
bukan? Maka, aku bertekad melanjutkan permainan ini, untuk kami berdua. Dia tidak tampak gentar; itu jelas terlihat
dalam seringainya yang balas menantangku. "Oke." Adrian berjalan kembali ke tengah lapangan,
mengambil bola pertama dan melemparkannya ke arah
keranjang. Masuk. Aku memberikan tepuk tangan untuk
menghargai usahanya. Kedua kali, masuk
dengan mudahnya. Ketiga, keempat, dan
kelima kali kembali lolos, seakan dia sama-sekali tidak memerlukan usaha untuk
mencetak angka. Keenam, bola mengitari
rangka keranjang sebelum masuk. Terdengar sayup-sayup tepuk tangan murid yang
menonton. Ketujuh, masuk. Adrian tampak
sangat nyaman dengan keberhasilannya.
Kedelapan, masuk. Aku nggak kaget. Hal ini memang biasa. Dia kan jagoan
tim basket sekolah kami. Namun, sepuluh tembakan masuk berturut-turut juga
didukung oleh keberuntungan dan sedikit harapan.
Kesembilan, masuk. Bel berbunyi. Murid-murid bergegas ke
kelas, meninggalkan lapangan yang kini hanya ada kami berdua. Kesepuluh. Adrian melirikku sebelum melempar
bola terakhirnya. Aku tersenyum, baru sadar aku benar-benar ingin dia
berhasil. Bola terakhir menggelinding
di sekitar rim keranjang. Sepertinya lama sekali, hingga lolos masuk ke net dan
memantul beberapa kali di atas semen sampai akhirnya menggelinding menjauh.
Adrian tersenyum menang. "Jawabannya iya, kan?" Untuk sesaat,
terlihat sekelebat kekhawatiran di matanya.
Aku tertawa. "Masuk atau gagal, sebenernya jawabannya tetap iya." ***
FREYA POV
Life is a box of chocolates, you never know what you're
gonna get. -Forrest Gump- *** Kata orang, cokelat adalah simbol cinta.
Dimulai dari sejarah ditemukannya cokelat pada zaman peradaban suku Maya dan
Aztec, cokelat lalu dijadikan komoditas berharga. Awalnya, minuman yang dibuat
dari cokelat hanya dapat dikonsumsi oleh keluarga kerajaan, hingga akhirnya
seiring waktu, cokelat mulai dinikmati oleh rakyat jelata. Dan, sekarang ini,
cokelat menjadi tanda cinta, seperti pada hari Valentine dan White Day. Semua itu kubaca dari sebuah buku berjudul
Chocolate. Aku sering membacanya di balik buku pelajaran, kalau guru di depan
kelas sedang membahas materi yang sama dan membosankan. Pernah sekali, teman
sebangkuku, Moses, memergokiku. Saat itu, di tengah kelas yang hening, hanya
terdengar ocehan Pak Bambang menjelaskan rumus Phytagoras untuk bahan ujian
minggu depan. Sesekali, terasa embusan angin yang meniupkan lembaran bukuku
yang terbuka sia-sia di halaman delapan puluh. Dan, aku sadar seseorang sedang
memperhatikanku.
Tidak lama kemudian,
dia mencorat-coret sesuatu di secarik kertas dan mendorongnya ke arahku. Lagi baca apa? Aku mendongak. Moses sedang menatap
lurus-lurus ke depan sehingga aku tidak dapat melihat ekspresinya. Aku
menuliskan sederet jawaban, lalu mendorong kembali kertas itu ke mejanya. Buku tentang cokelat. Dia membalasnya dengan cepat. Kamu suka
cokelat? Ada sesuatu mengenai Moses
yang terasa dingin saat pertama kali melihatnya. Namun, entah mengapa terkadang
aku justru menangkap momen-momen saat dia tampak hangat. Momen ini adalah salah
satunya.
Suka, adalah jawabanku. Kami bertukar coretan obrolan sampai
jam pelajaran berakhir, dan aku meminjamkan buku itu kepadanya. Hari ini pun pelajaran berlangsung
membosankan. Aku terbiasa membaca bab yang akan dipelajari sehari sebelumnya
sehingga kadang apa yang diajarkan di kelas terasa repetitif. Aku begitu larut
dalam bacaanku hingga tak sadar bel tanda pelajaran berakhir sudah berdering
dan murid-murid lain sudah keluar untuk makan siang. Entah sudah berapa lama aku larut dalam
bacaanku hingga akhirnya aku mengangkat wajah dan baru menyadari, sedari tadi
Moses sedang duduk diam di sampingku.
Kemudian, dia menyodorkan sekotak cokelat ke mejaku. Kami berpandangan. ***
MOSES POV Hari ini hari Senin; hari saat aku akan
meminta jawaban Freya akan perasaanku. Mungkin, aku harus lari keliling
lapangan. Mungkin, aku akan tertawa menang. Tidak ada yang tahu, dan
ketidakpastian membuatku sedikit gentar. Aku tidak suka segala sesuatu yang
tidak pasti. Begitu pula dengan Adrian,
yang sudah berstrategi dengan caranya sendiri. Dia sudah membawa sebuket bunga
yang sudah dipetiknya pagi-pagi dari kebun kecil di rumahnya, mencuri start
dengan meletakannya di loker Anggia pagi-pagi buta sebelum upacara dimulai. Namun, aku punya caraku sendiri pula. Jika
Adrian berpikir Anggia memang menyukai bunga, aku tahi satu hal yang Freya
sukai. Sudah semalaman aku berkutat di dapur, membuat serangkaian cokelat
berbagai rasa dan bentuk. Aku akui, aku tidak pandai merangkai pernyataan
cinta. Mengungkapkan satu kalimat aku suka kamu saja terasa begitu sulit.
Tetapi, untuk menunjukkan perasaanku kepada Freya, kurasa barisan cokelat yang
kubuat ini cukup dekat dengan apa yang ingin kusampaikan.
Secara tidak
sengaja, aku tahu Freya menyukai cokelat. Hari itu, ia meminjamkan buku
mengenai cokelat dan aku menghabiskan semalam membacanya. Buku kecil yang
disampul rapi itu tebalnya hampir seratus halaman, dengan gambar yang
menarik. Sejarah cokelat, dari kokoa dan
jenis-jenisnya, kandungan nutrisi di dalamnya, dan tipe-tipe cokelat dengan
ilustrasi yang akan menerbitkan air liur siapa pun yang membacanya. Sejak hari itu, aku merasa itu adalah sebuah
rahasia kecil di antara kami berdua. Aku menarik kesimpulan, orang yang suka
membaca tentang cokelat tentunya sangat suka makanan tersebut. Dengan cara itu
pula, aku ingin menyentuh hatinya.
Entah apa rasanya cokelat buatanku. Bentuknya saja kurang meyakinkan.
Namun, aku memantapkan hati untuk melanjutkan rencana ini. Aku tidak bisa
mundur dan menyerah tanpa memulai, bukan?
Lima menit, sepuluh menit. Dia tidak kunjung menyadari bahwa murid-murid
lain sudah keluar untuk makan siang, dan hanya tersisa kami berdua di dalam
kelas. Akhirnya, Freya mendongak, mungkin terganggu dengan
bunyi lambungku yang mulai memerih.
"Eh, Moses," katanya, seakan aku baru datang dan bukan sedang
mengamatinya sejak setengah jam lalu. "Nggak makan?" Aku menggeleng. Tanpa kata-kata mengeluarkan
kotak kecil berisi cokelat-cokelat yang kubuat semalam, dan menyodorkan benda
itu kepadanya. Kali ini, dia
memfokuskan pandangan kepadaku bingung. "Cokelat?" Cokelat buatanku bentuknya tidak beraturan.
Ada yang berbentuk hati, tetapi terlalu gepeng, ada yang warnanya tercampur
hingga tampak kacau. Ada yang terlampau lunak hingga hancur saat dicampur
dengan almond, ada juga yang terkena air hingga rusak di tengah pembuatan.
Freya menelitinya satu per saatu, lalu meraih sebentuk cokelat berbentuk
bintang yang ujungnya penyok terkena sendok saat aku membuatnya semalam.
Aku memandang Freya, tiba-tiba jantungku berdegup lebih
kencang dari biasa. "Kamu buat
cokelat-cokelat ini sendiri?" Freya bertanya-tanya sambil terus mengunyah.
"Ada perayaan apa?"
"Rasanya gimana?" Aku mengalihkan pembicaraan, meraih cokelat
berlumur kacang. Cokelat gepeng yang terlalu tipis, rasanya aneh karena
kebanyakan kacang daripada cokelatnya.
Freya tersenyum tipis. "Mau jawaban jujur atau bohong?"
candanya, lalu meraih sekeping lagi.
"Jujur." Aku melirik
jam. Sebentar lagi waktu istirahat akan habis. Waktuku sudah tak banyak, habis
untuk mengobrol tentang cokelat dan embel-embel lain yang tak relevan. Aku pun
berkata tanpa berpikir lagi, "Freya, aku suka."
Hening. Aku salah
bicara. Timing-nya kurang tepat. Freya
kelihatan canggung. Kaget. Terasa lama
sekali hingga akhirnya dia angkat bicara. "Cokelatnya hambar. Tapi, aku
tahu kamu buatnya tulus, makanya terasa manis." Lalu, dia tersenyum, dan
memasukkan sebutir cokelat lagi ke mulutnya.
Fiuh. Rasanya seperti beban berat terangkat dari pundak. Dan hangat,
ketika aku meraih tangannya dan dia membiarkan jemarinya kugenggam. Rasanya, seperti telah menelan
berpuluh-puluh butir cokelat yang kubuat sendiri. Rasanya, aku tidak akan
sanggup makan cokelat hambar itu lagi.
***
Adrian sudah menunggu di lapangan sepulang sekolah dengan
ransel di punggungnya. Dia tersenyum lebar ketika melihatku. Sebelum dia sempat
menyombongkan diri, kutepuk pundaknya sekali.
"Lari sepuluh kali keliling lapangan, yuk." Untuk sesaat, dia memandangku heran, tapi
kemudian mengangguk mengerti. "Ayo."
Dan, kami pun berlari sepuluh kali keliling lapangan, dia tengah terik
matahari sore, disoraki puluhan murid- murid, tetapi kamu berdua tertawa sambil
terus melangkah.
Perubahan-Perubahan Itu
FREYA POV
"Freyaaa!!"
Aku sudah tahu siapa yang meneriakkan namaku dengan begitu
noraknya. Berikutnya sepasang tangan kurus hampir mencekikku dari
belakang. "Eriiik...." Aku
mencoba melepaskan diri dari serangan mendadak itu, setengah kesal karena tangannya
penuh bercak bekas makanan dan hampir mengotori seragamku. Erik adalah temanku sejak SD. Kami pindah ke
SMP, lalu SMU yang sama sehingga hubungan kami sangat dekat, bahkan bisa
dibilang seperti saudara. Erik itu manusia aneh nan kurus, dengan sepasang
kacamata bundar yang old-fashioned, dan selera humor yang agak jayus. Namun,
dia teman yang baik, juga pecinta wanita yang selalu gagal. Kombinasi yang
ironis, aneh sekaligus menyedihkan, memang.
Tiba-tiba, Erik melepaskan tangannya dan bersiul-siul, berubah menjadi
penjahat cinta bohongan, menjadi playboy kelas teri. Perubahan sikap ini hanya
dapat disebabkan dua alasan; cewek cantik sedang lewat, atau Moses datang.
Kali ini, Moses yang datang menghampiri kami karena Erik
langsung menjauh. Dia memang tidak suka kepada Moses, walau Moses dan aku sudah
berpacaran lebih dari dua tahun lamanya. Dan rasa tak suka itu bukan
berlandaskan alasan Moses kebetulan punya modal tampang yang lebih baik
daripada Erik, juga bukan karena Moses adalah ketua kelas, ketua OSIS, dan
murid dengan predikat nilai terbaik setiap tahunnya. Menurut Erik, Moses
bukanlah orang yang tepat untukku. Ya
ya ya, jomblo yang mudah jatuh cinta itu berani bilang begitu padaku. Udah hampir lumutan kali, lo pacaran sama
Moses. Gue sih nggak bakal heran kalau lo tiba-tiba berubah jadi android
berkepala dingin kaya dia, begitu kata Erik setiap kali aku cerita tentang
Moses. Seperti biasa, Erik
malas-malasan menyapa Moses dan yang disapa tidak terlalu menanggapinya, justru
berbalik menatapku.
"Aku ada rapat mendadak sama anak-anak OSIS. Mungkin
agak telat, sampai sore, soalnya mau ngomongin acara pensi akhir
tahun." "Nggak apa-apa, aku
tunggu sampai selesai." Aku melirik Erik, yang tentunya siap menemani
dengan dua cangkir teh manis hangat dan pisang goreng, sogokan maut yang tak
pernah ditolaknya. "Oke."
Dengan jawaban singkat itu, Moses pun berbalik menuju ruang OSIS. "Kok, lo tahan sih, sama dia?"
Erik mendelik sebal. Topik yang sama
lagi. "Pisang goreng tiga ya, Rik?" tawarku untuk membungkamnya. "Gue nggak ngerti kenapa lo pacaran
sama Moses. Masih bayak cowok lain yang lebih baik dari dia, lebih cakep, lebih
hangat, lebih baek.... Lo tau nggak sih, ada di dekat dia bikin lo berubah?"
Erik masih melancarkan opini bertubi-tubi yang tak diminta. "Lo tuh butuh
seseorang yang bikin lo ketawa, seseorang yang
melengkapi lo. Bukan kutu buku yang jadwal pacarannya
belajar di perpus." Biasanya, aku
selalu menjawab, dia orang yang baik,
Rik...., sebagai pertahanan satu-satunya. Moses memang bukan cowok paling
romantis sedunia. Kata-kata paling manis yang diucapkannya mungkin hanya kamu
udah makan belum? atau udah malam, jangan pulang sendirian, dan yang namanya
kosakata gombal tidak pernah eksis di kamusnya...., tapi bersamanya membuatku
merasa aman. Dan, rasa aman itu adalah
segalanya bagiku. "Tambah dua
rempeyek, ya, Rik," ujarku kalem, supaya Erik cepat diam. Hari ini, aku
sedang tidak ingin bedebat. "Dan,
dua tahu goreng!" Erik menawar dengan lincah, membuatku tertawa. "Ya udah, tapi minumnya air
putih."
Sambil ketawa, Erik pun menggamit tanganku, siap ditraktir
di kantin. "Anggia mana?"
Erik membuka percakapan lagi setelah mulutnya tersumpal dengan tahu goreng
sogokan. Anggia adalah sahabtku, yang
belakangan ini menjadi objek cinta Erik. Anggia itu..., bagaimana
mendeskripsikannya? Pokoknya, Erik tergila-gila dengan sosoknya yang riang tak
kenal malu, percaya diri, dan pintar bergaul. Selain Erik, masih banyak laki-
laki yang mengantre ingin jadi pacarnya.
"Anggia udah punya laki, lo masih aja berminat," ungkapku
ringan. "Adrian? Playboy cap kabel
kayak gitu. Anggia itu pantesnya ngedapetin cowok seperti gue, Frey. Walau
nggak ganteng, tulus sayang sama dia...."
Aku mendengus. "Kalau gue nggak salah denger, kemarin lo baru
nembak cewek kelas sebelah kan, yang namanya Nadya itu?"
Kedua bahu Erik
jatuh lunglai. "Ditolak, Frey."
"Di mana sisi tulusnya ketika yang gue liat cuma mata
keranjangnya?" sindirku, membuatnya terkekeh tak jelas. Seperti aku dan Moses, hubungan Adrian dan
Anggia sudah berjalan sejak awal kelas satu, berlanjut terus walau dengan acara
putus-sambung yang dramatis, mereka selalu balikan lagi dan kembali mesra
seperti dulu. Kalau kubilang, mereka justru pasangan paling top di sekolah; yang
cowoknya atlet basket yang paling banyak dapat teriakan murid-murid perempuan
yang datang ke pertandingan basket untuk cuci mata, yang ceweknya disukai
guru-guru dan merupakan pelukis berbakat yang sering memenangi berbagai lomba.
Mereka juga pasangan paling mesra, paling gila, paling heboh versi buku tahunan
SMU kami. Picture perfect, pokoknya.
"Mungkin lo cuma iri sama Anggia dan Adrian." Aku menanggapi.
"Karena mereka berdua terlalu cocok."
Erik mendelik sewot. "Lo dan Moses juga sama aja. Semua
orang menganggap lo berdua dewa dewi sekolah ini. Yang satu juara umum, yang
satu ketua OSIS." "Tapi, gue
ngerasa biasa-biasa aja, ah." Berbeda dengan Anggia dan Adrian, Moses dan
aku lebih suka tetap di bawah radar. Berpacaran dalam kadar yang wajar; seperti
dua orang teman yang sudah lama mengenal.
Erik melahap sisa pisang gorengnya yang terakhir sambil menjilati
jarinya; jorok banget. "Pernah nggak sih, lo berharap punya cinta yang
lain? Yang meledak- ledak, yang bikin kaki lo lemes, yang bikin jantung nggak
keruan.." Erik tahu definisi
pacaran bagiku adalah pulang bareng Moses, mengerjakan pekerjaan rumah bareng
Moses, makan siang bareng Moses, dan belajar bersama di perpustakaan. Duniaku
berputar dalam rotasi tersebut, selama dua tahun penuh. Sementara Erik selalu
beranggapan cinta yang sesungguhnya adalah cinta seperti permainan roller
coaster, tetapi mengapa harus dikategorikan seperti itu? Bukankah cinta, apa
pun jenisnya, memiliki berbagai bentuk?
"Menurut lo, Adrian dan Anggia bahagia nggak,
Rik?" Pertanyaan itu tercetus begitu saja, membuatku menyesal telah
menanyakannya. Tentu saja mereka bahagia. Anggia selalu dengan gembira
berceloteh kepadaku di telepon setiap malam. Adrian ini..., Adrian itu... dan
Adrian juga kelihatannya sayang banget sama Anggia. "Semua orang pikir mereka bahagia,
kan?" Erik melirikku sekilas. "Kenapa tiba-tiba nanya
begitu?" "Karena...."
Aku menggantungkan kalimat itu, tidak mampu menjawab. Erik menyeruput air putihnya dengan berisik,
lalu menimpali dengan ringan, "Karena lo ingin seperti mereka?" Strike.
***
ANGGIA POV Life is
wonderful *** Bener nggak? Tapi, pernyataan itu cukup akurat, kok.
Hidup ini indah, apalagi masa-masa sekarang ini; saat banyak banget kegiatan
sekolah yang menyenangkan (minus pekerjaan rumah, maksudnya); kelas melukis,
aktivitas OSIS, ekstrakurikuler, klub basket. Hanya ada satu syarat agar bisa
populer di sekolah, dan syarat itu adalah: EKSIS. Eksis-lah yang membuatku punya banyak
lingkar pertemanan dari berbagai lingkup. Akrab dengan para kakak dan adik
kelas serta guru-guru. Bertemu dengan tokoh-tokoh dan narasumber terkenal. Dan,
itu juga yang membuatku pertama kali bertemu dengan Adrian, dua tahun yang
lalu.
Nggak terasa kami sudah dua tahun berpacaran. Oke, aku akui
kami punya banyak ups and downs, seperti layaknya pasangan lainnya. Bahkan, di
awal jadian kami sempat putus. Tapi, setiap kali bertengkar, aku selalu kangen,
dan kami selalu kembali ke satu sama lain. Itu yang penting, bukan? “Hei.”
Orang yang sedari tadi dibicarakan tiba-tiba datang dan menghempaskan
seluruh bawaannya di atas meja. Dia mengecup bagian teratas kepalaku dan
meneguk habis isi kaleng sodaku. Dia bau keringat dan matahari, bau yang aku
sukai. “Hai, Yan.” “Lagi gambar apa?” Ia menyampirkan sebelah
tangan di bahuku dan melongok untuk melihat sketsa yang sedang kukerjakan.
Kalau sedang menunggunya selesai latihan, biasanya aku menggambar sambil ngemil
di kantin bersama Freya. Sayangnya, hari ini Freya harus pulang lebih cepat untuk
membantu ayahnya di toko.
“Kamu.” Buku
gambarku penuh oleh sketsa Adrian. Favoritku adalah saat ia bermain basket.
Tepatnya, saat ia melayang di udara—seperti terbang. Lukisan itu yang nantinya
kurencanakan sebagai kado ulang tahunnya, bulan depan. Tepat sebelum kelulusan.
Untuk sekarang, hadiah itu masih belum selesai. “Hidungku nggak segede ini, deh.” Adrian
mengeluh, kebiasannya menggodaku walau dia tahu sketsaku selalu sangat detail.
Lalu, dikecupnya hidungku sambil berkata, “Bercanda, deh. Pulang, yuk?” Aku mengangguk. “Sekalian mampir ke Kedai
Cumi, ya?” Ekspresi Adrian berubah
cerah saat mendengar nama restoran favoritnya disebut. Kami bergegas merapikan
bawaan dan berjalan ke arah gerbang sekolah. Bergandengan tangan. Life is indeed wonderful.
ADRIAN POV I had
never spoken to her, except for a few casual words. And yet her name was like a
summer to all my foolish blood. -James Joyce-
*** Gue berdiri dengan sebelah
tangan menggenggam ponsel, berusaha melawan statik yang sedari tadi bikin
sambungan telepon putus-putus. Suara Freya terdengar agak jauh, putus-putus
karena sinyalnya nggak bagus, dan agak kesal. “Moses bilang dia nyusul,”
ulangnya untuk ketiga kali. “Dia....”
“Hah?” Gue juga mengulangi kata itu lagi, untuk yang kesekian kalinya.
“Gue nggak denger.” Kudengar di ujung
sana Freya mendesah, mungkin frustasi dengan sinyal yang buruk. Kami semua tahu
dia cenderung nggak sabaran. “Moses nggak bisa jemput
gue, Adrian. Gue juga nggak bisa ke sana karena mobil dibawa
Bokap.” “Ohh....” Akhirnya, gue
mangangguk-angguk mengerti. Moses sepertinya belum pulang dari bimbingan
belajar mingguannya (salahnya sendiri, siapa sih orang normal yang ikut bimbel
di hari Sabtu?), dan Freya terpaksa menunggu jemputannya untuk ke café langganan
kami berempat setiap akhir pekan.
“Anggia juga masih di sanggar lukis. Dia bilang bakal nyusul
sendiri.” Freya terdiam. Gue bingung
gimana caranya mengisi kekosongan itu. Sebenarnya, gue dan Freya nggak dekat.
Gue kenal dia sejak dia pacaran sama Moses dan temenan sama Anggia, jadi
interaksi di antara kami nggak lebih dari senyum sapa tiap kali bertemu, dan
cerita basa-basi satu sama lain. Kami memang jarang mengobrol. Ketika
berkumpul, Freya seakan menghilang di balik canda tawa Anggia, punggung Moses,
guyonan gue. Dia nggak banyak bicara, cuma sesekali menimpali ocehan Moses yang
mulai terdengar membosankan, atau tertawa kecil bersama Anggia, nggak
lebih.
“Gue jemput deh, ya?” Usul itu mengejutkan Freya, yang nggak
langsung menjawab, dan juga mengejutkan diri gue sendiri. Yakin mau stuck
selama beberapa jam dengan si kutu buku yang pendiam? Itu adalah pertanyaan
pertama yang muncul di kepala gue sesaat setelah gue menawarkan diri. Tapi, mau
gimana lagi, gue udah terlanjur ngomong begitu. “Menunggu nggak jauh lebih baik
daripada bengong sendirian,” ujar gue, berusaha menutupi kecanggungan yang
sekarang makin menganga lebar. “Kita nunggu Anggia dan Moses di café aja,
gimana?” Gue mengira dia bakal bilang
ngga. Sedikit bagian dari diri gue bahkan berharap dia menolak, tetapi dia
justru bilang. “Oke. Gue tunggu, ya.”
Telepon ditutup. Gue pun
meluncur ke sana. Melihat Freya menunggu terkantuk-kantuk dalam kostum
regulernya; jeans belel dan kaus putih dengan MP3 player di pangkuan. Gue
membunyikan klakson sekali, membuat dia menyipit dengan ekspresi kaget, lalu
bergegas masuk mobil.
“Kita cabut duluan, nih? Nggak apa-apa Moses dan Anggia?”
tanyanya begitu gue mulai menyetir mobil ke luar kompleks perumahannya. “Lo punya usul yang lebih baik daripada
duduk nunggu dan nepokin nyamuk?” sahut gue. “Main monopoli, mungkin?” Kami
semua tahu Freya paling nggak bisa main monopoli. Dengan rekor nilainya di
sekolah, kadang gue masih susah percaya dia selalu kalah kalau main board game. “Ha. Ha. Ha,” jawabnya tanpa humor. “Moses lebih gampang langsung nyusul
daripada balik buat jemput lo, dan Anggia pasti seneng kita nggak ngaret
seperti biasa.” Akhirnya, gue memberikan jawaban lain. Pernyataan logis yang
tak bertele-tele sepertinya dapat lebih mudah diterima oleh Freya. Dia tak berkata apa-apa lagi
setelahnya. Jalan ke arah café macet
lumayan parah, mungkin karena malam minggu. Untuk mengisi kekosongan yang mulai
terasa aneh, gue memasukkan sekeping CD
Green Day koleksi lama ke CD player. Gue jarang dapat
kesempatan untuk muter CD itu karena Anggia selalu mengeluh bahwa musik sejenis
itu bikin dia sakit kepala. Namun, hari ini, pilihan musik jadi otoritas
pemilik mobil. Gue sempat melirik Freya sekali, mau tahu apa dia akan
berkomentar dengan pilihan gue. “Wah,
„Minority‟,” tiba-tiba dia nyeletuk begitu single favorit gue bermain. “Udah
lama nggak denger lagu ini.”
“Suka?” “Suka,” jawabnya simpel.
“Pencerahan pada dunia musik.” “Lagu
Green Day mana yang lo suka?” Gue iseng bertanya sekaligus mengetes. Kadang,
orang sering mengaku menyukai sesuatu tetapi nggak benar-benar
menyukainya. “Lebih suka lagu-lagu
awalnya, tahun sembilan puluhan. Kayak album Kerplunk dan Dookie. Belakangan,
lagu-lagunya terlalu komersial.”
Hm. I’m impressed.
“Terus, suka band apa lagi?” Dia
mengangkat bahu. “Blink 182. Aerosmith. Linkin‟ Park. Banyak.” Gue terperangah. Nggak banyak cewek yang
suka lagu punk yang keras dan lebih banyak suara orang teriak bersama tabuhan
drum dan petikan gitar listrik. Cewek- cewek yang gue kenal suka lagu top
forties dan balad mendayu-dayu. Gue pun bilang begitu kepada Freya. “Semua orang punya apresiasi musik yang
berbeda. Bukan berarti genre itu jelek, atau sebaliknya. Namanya juga selera,”
jawabnya. Gue mengangguk. “Keren juga
filosofi lo.” Dia tersenyum, menerima pujian itu. Gue meraih sekotak rokok dari kantong dan
menyulut sebatang. Anggia benci kalau gue merokok, katanya nggak baik untuk
kesehatan. Menurut gue, rokok adalah salah satu bentuk terapi untuk
menghilangkan stres.
Gue berpaling ke arah Freya yang sudah kembali diam, lalu
menyodorkan sebatang. Dia menggeleng pelan.
“Belum pernah, atau nggak suka?”
“Belum pernah,” jawabnya jujur. Gue ketawa. “Mau coba?”
Freya terhenyak sejenak, memandangi rokok putih itu dengan ragu.
Perlahan , diterimanya benda itu, lalu menyalakan lighter. “Isap aja,” saran gue, dan dia menurutinya,
tanpa terbatuk sekali pun. Cool juga cewek ini, gayanya memegang rokok dan
mengisapnya tanpa cela. Tanpa sadar, sedari tadi gue menilainya sambil
berpura-pura konsentrasi pada puluhan mobil yang mengantre di depan lampu merah
dan berlomba-lomba melewati kemacetan kota. “Gimana?”
Freya mengembuskan kepulan asap keduanya. “Lumayan.” Lalu,
“Anggia benci asap.” Dia juga tahu itu.
Kami melewati jalan tol dan untungnya nggak macet. Gue memarkir mobil di
depan café dan kami masuk ke tempat yang sudah ramai itu. “Hei, Man.” Gue
menepuk pundak salah seorang waiter yang sudah kami kenal di sana, dan langsung
menuju ke meja kami di pojokan; tempat bebas keramaian yang paling pas untuk
melihat live music di lantai bawah. Gue sempat menengok ke belakang,
mencari-cari sosok Freya yang entah terdampar di mana, mungkin terdorong
kerumunan pengunjung. Akhirnya, gue melihat dia, tersisih di tepi dan nggak
bisa lewat. Tanpa banyak pikir, gue sambar tangannya dan menariknya ke tempat
kami. “Gila, rame banget, ya,” kata gue
sambil membuang sisa puntung rokok di atas asbak. “Iya.”
Gue melepas tangannya yang masih gue pegang. Gila, kenapa ya hari ini gue
canggung banget di depan Freya?
Makin canggung lagi karena dia nggak bicara sepatah kata
pun, hanya sesekali dia menyibak poninya yang jatuh menutupi mata, atau gue
yang mendendangkan lagu yang diputar.
“Oi.” Akhirnya, gue nggak tahan dan mencolek lengannya dengan telunjuk,
membuatnya tersentak. “Ngomong, dong. Apa lo kalau lagi berduaan sama Moses
juga diem-dieman begini?” Dia nggak
menjawab, tetapi balas bertanya, “Ngomong apa?” “Apa aja deh. Asal jangan tentang pelajaran.
Udah cukup Moses ngomongin begituan.”
Freya nyengir. “Lalu?”
“Cita-cita, kek. Hidup, kek. Apa aja.”
Dia terlihat berpikir sejenak, tangannya sibuk memelintir kertas menu di
pangkuannya. “Hidup, ya?
Kata orang, hidup itu seperti roda. Kadang kita ada di atas,
kadang kita ada di bawah.” “Kata
Forrest Gump, hidup bagai sekotak cokelat, entah rasa apa yang bakal kita
dapetin.” Gue menimpali. Freya
manggut-manggut setuju. “Mungkin bener juga.”
“Menurut gue, hidup itu kayak judi bola, Frey.” “Judi bola?” “He, eh,” gue melanjutkan, “karena lo nggak
akan tahu akan menang atau kalah. Waktu sebuah permainan sedang berjalan dengan
sangat baik, di detik terakhir bisa aja pihak lawan yang nyetak gol, dan kita
kalah, padahal udah yakin bakal menang.”
Freya tertawa. “Boleh juga,” pujinya. ”Hidup juga kayak cuaca. Hari ini
bisa hujan, besok bisa cerah. Tapi, lo nggak akan punya hujan selamanya, atau
kemarau selamanya. Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah bentuk
keseimbangan.”
“Pahit dan manis?”
Gue menggoda. “Kok, jadi kopi?” “Yeeee.
Yang mulai berfilosofi siapa?” Gue
terkekeh. “Oke, oke, gue serius. Jadi lo percaya pada konsep keseimbangan
hidup?” Freya mengangguk mantap.
“Menurut gue, nggak ada orang yang bisa seratus persen bahagia, nggak ada juga
orang yang seratus persen sedih. Hidup itu kan pernuh emosi, makanya dalam satu
periode waktu kita bisa ngerasain berbagai emosi berbaur jadi satu. Karena itu,
kita jadi seimbang.” “Misalnya...
sedih, kecewa, tapi juga senang?” timpal gue memberi contoh. “Bingung, marah, lega.” “Kesal, kaget, sedih.”
“Senang, merasa
bersalah, bingung, marah.” Freya tersenyum sambil menyeruput jus alpukatnya.
“Keseimbangan yang aneh, kan, Yan.” Gue
tercenung. Cuma Anggia yang biasa manggil gue Yan. Bahkan, Nyokap manggil gue
Adrian. Dan entah bagaimana persisnya,
emosi yang gue rasakan saat itu adalah gabungan sekian banyak perasaan yang
menciptakan keseimbangan dalam diri gue sendiri. Senang dan lega karena telah
mengatasi kecanggungan di antara kami, kaget, bingung, dan satu lagi. Nyaman.
FREYA POV Sudah lima
hari aku belum bertemu Moses. Moses bilang, dia terlalu sibuk memimpin
rapat-rapat OSIS menjelang hari H pensi yang akan dirayakan minggu ini. Selain
itu, dia juga sibuk latihan untuk lomba debat antar-provinsi. Aku pasrah.
Untungnya, hari ini Moses punya waktu luang, setengah hari penuh khusus
untukku. Sepulang sekolah, kami berdua duduk di teras rumahku; Moses masih
dalam setelan putih abu-abunya yang putih bersih dan badge ketua OSIS melekat
di bagian saku. Aku duduk di kursi rotan, setengah membaca majalah di pangkuan
setengah memandangi Moses yang tenggelam dalam bacaan ilmiahnya. Pacaran dengan Moses seperti berteman dengan
ketua kelas yang perhatiannya lebih tercurah pada urusan sekolah. Sebenarnya,
Moses punya banyak teman, tetapi sikapnya yang serius cenderung dingin hampir
sama parahnya dengan sifatku yang alergi pada segala bentuk interaksi sosial.
Aku memang dari sananya
pendiam, dan sering kali kesulitan membuka pembicaraan,
sedangkan Moses terlalu sibuk dalam urusannya sendiri sehingga kadang aku
merasa tidak diacuhkan. Kasat mata. Tidak terlihat. Oh ya, ada satu hal lagi. Aku belum pernah
dicium Moses. Anggia selalu mendesak
aku untuk membuat kontak pertama. Asal tahu saja, Anggia dan Adrian adalah
penganut sejati public displays of affection. Keduanya sering tertangkap sedang
sembunyi-sembunyi berpelukan di balik tangga. Anggia sering melompat memeluk
Adrian dari belakang untuk mengejutkannya, dan sebaliknya Adrian sering
mendadak mendaratkan kecupan di pipi pacarnya. Namun, itu bukan berarti aku
bisa seperti mereka. Sementara Moses,
dia bahkan jarang memegang tanganku. Bentuk perhatiannya adalah diskusi serius
mengenai masa depan, membawakan barang-barangku, dan membukakan pintu. Satu
tahun lalu, hal-hal tersebut memang cukup manis. Sekarang, hatiku rasanya
menawar.
Pengakuan: aku bosan. Aku jenuh. Mungkin juga itulah satu-satunya alasan aku
sering menghindari topik yang sama dengan Erik. Karena jauh di dalam lubuk
hatiku, aku setuju dengannya. Karena aku juga menginginkan cinta seperti yang
dimiliki Anggia dan Adrian. Karena baik suka maupun tidak, harus kuakui, aku
bosan hanya membaca cerita cinta di majalah dan novel. Karena aku juga ingin
kejutan kecil dalam tas, pelukan hangat tiap kali bertemu. Sekali lagi, aku bosan. “Freya.” Suara Moses yang berat memecah
keheningan. “Mmmm.” Aku menyahut sambil
tetap membolak-balik halaman majalah National Geographic edisi terbaru. “Laper. Bikin mi instan, yuk.” Aku mendongak dan menangkap pandangan Moses
yang setengah tersenyum. Aku balas tersenyum. “Yuk.”
Kami berjalan ke
dapur. Moses menjerang air, sementara aku merobek bungkus plastik mi rebus.
Kami memasak dalam hening. Kalau boleh
jujur, aku ingin sedikit kehangatan— sedikit percakapan di tengah aktivitas
yang seharusnya punya potensi untuk menjadi momen romantis ini walau hanya
memasak sebungkus mi instan. Namun, aku tahu Moses bukan tipe orang seperti
itu, dan tidak ada gunanya berharap terlalu banyak. Setelah beberapa menit yang terasa sangat
lambat, akhirnya Moses bicara. “Kemarin Sabtu waktu ke café kamu dijemput sama
Adrian?” Walau pertanyaan itu terdengar
wajar, aku cukup sensitif untuk menangkap nada bertanya-tanya dari kalimat
barusan. Bukan curiga, apalagi cemburu. Hanya bingung, mungkin, karena tidak
biasanya aku bergaul dengan Adrian. Cowok selengean itu tidak punya hubungan
apa pun denganku, kecuali saat pergi bersama. Mengobrol saja jarang, apalagi
berteman.
“Iya. Bukannya waktu itu dia udah bilang sama kamu?” Moses mengangguk. “Nggak bosen sama
Adrian?” Aku terkekeh, tahu bahwa Moses
hanya khawatir sifat antisosialku muncul. Enggan berinteraksi dengan orang
lain, malas bicara, hanya diam. Waktu pertama kali kenalan, aku bahkan tidak
memedulikan Adrian dan larut dalam game di ponsel sampai setengah jam, dan baru
bicara setelah game over karena aku sudah malas bermain lagi. Tapi, peristiwa
tempo hari membuktikan Adrian ternyata adalah teman bicara yang cukup
menyenangkan—siapa sangka, aku juga bisa membuka diri kepadanya walau kami
hanya bicara seputar musik dan hal-hal trivial lainnya. “Nggak kok, malah kita ngobrol cukup seru.
Ternyata, aku bisa juga ngobrol seru dengan orang lain selain Anggia, kamu, dan
Erik.” Moses tersenyum tipis. “Kata
Adrian, kamu orangnya kocak juga.”
“Adrian bilang begitu?”
“Yaah... ucapannya
sebenarnya adalah, cewek lo keren juga, Mos. Dia suka Linkin’ Park, dia suka
komik silat kacangan, dan yang gue tau, dia sama-sekali nggak freak kayak yang
orang-orang bilang.” Moses meniru gaya bicara Adrian, dengan ekspresi yang
dibuat-buat. Aku tergelak sekarang
sambil menyumpit mi yang masih panas. “Padahal, kan sebenernya....” “Hus.”
Moses paling tidak suka kalau aku merasa terintimidasi seperti itu.
Padahal, kan memang begitu apa adanya. Banyak orang yang menganggap aku aneh
hanya karena aku sulit diajak bicara.
Entah terbawa angin apa, Moses meraih kepalaku dan merengkuhnya dalam
pelukan longgar. Katanya, “Jangan merendahkan diri sendiri. Kamu bukan seperti
apa yang orang lain bilang. Kamu adalah kamu.”
Aku terhenyak, lalu mengangguk. Aku mencium sedikit
kekhawatiran, dan rasa protektif yang sering kali ditunjukannya. “Aku tahu,
kok.” Pelukan dilepas, Moses beranjak
ke luar membawa mangkuk mi, ingin meneruskan membaca. Sebelum melangkah pergi,
ia berbalik dan berkata, pelan, tetapi jelas, “Aku sayang kamu.” Kali ini, aku hanya membalasnya dengan
senyuman. *** ADRIAN POV
...If you love enough, you’ll lie a lot -Toni Amos- ***
Belakangan ini, gue ngerasa makin sering bohong sama Anggia.
Bukan bohong besar kayak selingkuh di belakangnya atau bohong di hari ulang
tahunnya kalau gue sakit dan nggak bisa datang. Justru bohong-bohong kecil yang
muncul, dan ironisnya, bohong itu jadi seperti gulali yang menghilang di ujung
lidah begitu diisap. Sekali sebut, lalu dilupakan. Dan, bohong kecil lainnya
mengikuti. Seperti semalam misalnya,
ketika gue ngejemput dia dari sanggar lukis, begitu masuk Anggia langsung
bilang tanpa mengendus. “Abis ngerokok, ya?”
Gue memang merokok, lagi. Dan, Anggia benci itu. Sementara gue, gue
benci kenapa nggak diperbolehkan lari ke rokok setiap kali butuh refreshing.
Buat gue, rokok adalah semacam doping yang bersatu dengan kopi panas, menguapkan
setiap beban pikiran gue. Instan.
Namun, gue lagi-lagi memilih untuk berbohong. “Tadi, Sion numpang
pulang, terus dia ngerokok.” Begitu mudahnya gue menyediakan alibi palsu dan
begitu mudahnya dia percaya.
Tadi pagi, dia sempat bertanya di sekolah sambil gue
menyalin jawaban soal PR Matematika dari Moses yang superpelit. “Nanti malam
kita jadi kan, ke pesta sweet seventeen Zahra?” Gue tertegun saat itu, benar-benar lupa.
Dan, nggak sebodoh itu untuk keceplosan bilang lupa karena Anggia bisa ngambek.
Sebenarnya, gue bisa aja bilang iya, langsung pulang ganti baju setelah
pelajaran terakhir, dan langsung jemput Anggia untuk pesta dengan teman-teman
di ballrom hotel tempat acara itu diadakan. Tapi, hari ini, gue lagi malas
bersenang- senang. Setiap Anggia ngajak
gue ke distro, gue ikut. Anggia mau nonton di cinema baru, gue mengiyakan.
Teman- teman mau pesta gila-gilaan di diskotik, ayuk aja. Namun, entah kenapa
gue mulai bosan dengan semua itu. Tahu
nggak malam ini gue pengin ngapain? Gue Cuma pengin duduk dengan gitar,
semalaman memetik senar, atau main game online sampai subuh. Pengin merokok di
balkon rumah sambil minum coke dingin pakai es batu banyak-banyak. Pengin
nonton Celebrity Death
Match sambil makan snack berbungkus-bungkus. Sendirian. Gue pengin sendirian. Masalahnya, gue tahu kalau gue minta timeout
itu. Anggia akan salah paham dan menganggap gue ninggalin dia. Dia pasti
langsung berasumsi buruk, berpikir yang aneh-aneh, lalu bertanya apa yang
salah? Apa yang salah sih, Yan? Dan, sejujurnya, nggak ada yang salah
sama-sekali. Gue hanya ingin sendirian saat ini, itu saja. Kalau sampai gue ditanya seperti itu, gue
yakin akan langsung beralih ke standard defensive mode yang sangat gue kenal,
saat gue akan langsung membela diri dan akhirnya terkesan memutarbalikkan
kesalahan. Kemudian, gue dan Anggia akan berantem lagi. Cewek terlalu sering
membesar-besarkan masalah dan dua tahun dengan Anggia sudah membuktikan dia
bisa tersinggung sampai ngambek berat berhari-hari. Jadi, gue pun mengucapkan bohong kecil nomor
kesekian pada Anggia. "Sori, Nggi, aku lupa. Hari ini ada Nenek yang lagi
mau datang ke rumah.” Untuk
meredakan sedikit amarahnya yang akan meletup, gue bilang
lagi, “Minggu depan deh, kita pergi main mini golf. Oke?” Akhirnya, Anggia merelakan gue untuk
„kedatangan Nenek‟, plus rayu-rayuan dan kata sayang. Untuk hari ini, gue bisa
menghela napas lega. Kenapa sih harus
bohong? Suara hati kecil gue terus bertanya.
Gue sayang Anggia—sayang sampai nggak mau melihat dia sedih. Sayang,
sampai merasa harus berbohong, supaya nggak ada pihak yang terluka. Dan, nggak
bisa menjelaskan, bahwa rasa sepi dan kosong yang tiba-tiba muncul ke permukaan
hidup gue, nggak bisa hilang begitu saja hanya dengan lima jam clubbing. Bahkan,
belum bisa terisi dengan kehadiran Anggia sekali pun. Mungkin gue lagi depresi. Ha! Sejak kapan
gue bisa depresi.
Dan, gue pun masih mengucapkan bohong-bohong kecil yang
selanjutnya. *** FREYA POV And breath by breath and death by death we
followed the chain of chagre. -Langdon Smith-
*** Aku berdiri di depan pagar
rumah Anggia dengan tas selempang yang penuh buku pelajaran, mengenakan celana
pendek hitam, kaus santai biru cerah dan sepasang sandal jepit. Pembantu rumah
Anggia membukakan pintu, sudah familier dengan wajahku. Aku melangkah masuk dan
menyapa Mama Anggia yang sedang sibuk melayani pelanggan di salon rumahan milik
keluarga mereka. Salon kecantikan itu selalu penuh dengan klien, yang rata-rata
merupakan pelanggan reguler dan para ibu tetangga.
“Anggia ada di kamar tuh, katanya nungguin kamu,” kata Mama
Anggia. Saking seringnya aku main ke sana, aku sudah dianggap anak kedua,
seperti bagian keluarga sendiri. Pintu
kamar Anggia terbuka lebar, dari kejauhan terdengar reff lagu pop dari stasiun
radio remaja. Pemiliknya sedang duduk di atas karpet berawarna merah jambu,
leyeh-leyeh sambil membaca majalah fashion dari luar negeri. Aku masuk dan
langsung mengambil posisi favorit—di atas sebentuk beanie bag berukuran raksasa
berwarna pink terang. Kamar Anggia
adalah salah satu tempat kesukaanku. Kamar itu luas, lantai marmernya yang
mewah dilapisi karpet selembut beludru. Ranjang besar bermodel victorian yang
memberikan kesan dramatis, seperti seorang putri. Seperangkat DVD player dan LED
TV bertengger manis di sudut. Ruang walk-in closet dibangun tersembunyi di
balik kamar, berlawanan dengan balkon yang dipenuhi pot-pot bunga mungil.
Sepertinya, tidak akan ada yang bisa bosan di kamar semegah itu. Namun, yang
paling kusukai adalah bau cat minyak yang bercampur dengan manis wangi parfum,
aroma yang selalu menyelimuti ruangan itu.
“Hei, lukisan baru, ya?” Aku mengamati kanvas besar yang
disandingkan di sebelah meja belajar Anggia. Sebuah lukisan hujan, proyek
terbarunya. “He, eh.” Anggia menjawab
sekenanya, tangannya sibuk meraih sekepal kacang rebus sambil membolak- balik
halaman majalah. “Belum selesai. Ternyata susah banget melukis hujan.” Anggia suka, dan jago melukis. Kamarnya
penuh dengan hasil sketsa, dan lukisan yang belum selesai. Seluruh lukisan yang
sudah selesai disimpan rapi dalam lemari kayu, sesekali dikeluarkan untuk
diangin- anginkan. Aku mengeluarkan
buku Bahasa Inggris dari tas dan mulai menyiapkan alat tulis, bertekad menyelesaikan
jadwal pelajaran hari ini. “Anggia, ayo dong. Katanya mau belajar Inggris
bareng.” Anggia menurunkan majalahnya
dan memberikan sebuah tatapan. Aku tahu tatapan itu. Artinya bosan dan ingin
mencari kegiatan lain yang lebih menyenangkan. “Lo tahu nggak, sekarang gue
lagi pengin ngapain?”
“Belajar Bahasa
Inggris.” Aku menyahut dengan kalem.
Anggia mengerang malas. “Setiap hari belajar terus. Ini kan, hari Sabtu,
masih pagi pula. Gue pengin siap-siap buat pesta Keke di café entar
malam.” Aku melirik jam besar yang
tergantung di dinding kamar. “Pestanya pukul tujuh malam. Sekarang baru pukul
sembilan pagi.” “Daripada belajar,
mendingan kita manikur pedikur di salon. Mumpung masih pagi, belum rame.” Kalau sudah begini, biasanya tekad Anggia
akan sulit digoyahkan. Ia bangkit dan beranjak memilih beberapa jenis cat kuku
dari meja riasnya. Meja rias Anggia
juga sangat cantik. Feminin sekali. Penuh dengan botol-botol produk kecantikan
ternama yang mereknya tidak kukenal baik. Parfum dengan berbagai jenis
wewangian, pewarna pipi, bedak, lotion, pelembap wajah, dan koleksi lipstik
aneka warna
tersusun rapi, sama rapinya dengan koleksi buku-buku silat
di kamarku yang sempit. Kadang, ada
saat-saat di mana aku sangat ingin memiliki kehidupan Anggia. Ingin punya ibu
yang memasak sarapan untuk anaknya, ingin kamar yang luas dan wangi, ingin
cantik seperti Anggia—dengan rambut panjang ikal dan bulu mata lentik. Namun,
aku bukan Anggia. Aku hanya seseorang biasa-biasa saja yang canggung dengan
penampilannya sendiri. “Ah.” Tiba-tiba,
Anggia berhenti memilih-milih cat kuku, lalu berpaling menatapku. “Rambut. Gue
mau catok rambut ah, buat nanti malam.” Dia memandangku lama, seakan secetus
ide sedang terformulasi di kepalanya. “Gue punya ide! Gimana kalo lo ikut
nyalon? Kayaknya lo butuh potongan rambut baru, deh. Rambut lo udah panjang,
sekarang mencuat-cuat keluar. “Potong
rambut?” Aku menyentuh rambut yang kini sudah melewati kerah baju, akibat bolos
potong rambut beberapa bulan. Apa boleh buat, banyak kepentingan lain yang
lebih mendesak. “Gimana kalau sekalian
cat rambut?”
Aku semakin panik,
tidak suka dengan ide yang dilontarkannya. “Cat rambut?” Anggia tertawa. “Yang temporary aja, jangan
yang permanen, kalau lo nggak mau dipanggil guru BP. Kita bikin rombakan
penampilan, khusus malam ini.” “Hari
ini yang ultah kan Keke, bukan gue. Kenapa gue yang harus merombak penampilan?”
Aku mencoba mengelak, gagal membayangkan diriku sendiri dengan warna dan
potongan rambut baru. Aku tidak pernah suka perubahan baru. “Freya.” Anggia berkacak pinggang menatapku
dengan tatapan garang. “Kadang, lo harus mencoba sesuatu yang baru. Apa lo
nggak bosen dengan segala sesuatu yang begitu-begitu aja?” Ah. Pertanyaan itu terdengar tak asing.
Lalu, dengan lebih lembut, Anggia melanjutkan, “Kalau nyokap
lo masih ada, beliau pasti juga seneng ngeliat anaknya sedikit genit buat jadi
cantik.” Aku menghela napas. Ucapan
sahabatku ini memang ada benarnya. Model rambutku sudah seperti ini sejak
kecil, lurus sebahu, tanpa pewarna, dengan gaya yang itu-itu saja. Apalah
artinya sedikit perubahan? Bukankah aku selalu mengeluh jenuh dengan segala
sesuatu yang berjalan konstan dan pasti?
Bukankah aku iri dengan Anggia yang manis walau tanpa ulasan make up?
Sama seperti yang selalu kurasakan ketika ada yang berkomentar bahwa Anggia
cantik, sedangkan aku hanya pintar. Ada kebanggaan tersendiri saat disebut
pintar, tapi betapa inginnya aku juga dibilang cantik. Itu pula yang membuatku
akhirnya mengalah, kali ini. “Ya udah deh,
tapi jangan yang ekstrem, ya.” Anggia
tersenyum, tahu sejak awal bahwa aku tidak akan menolak. Usaha persuasinya
memang selalu meyakinkan. "Ke supermarket di depan kompleks, gih,"
suruhnya sambil beranjak menyiapkan peralatan. "Beli
satu kotak pewarna rambut temporary. Pilih warna yang lo
suka. Nanti kita kerjain bareng di salon. Gue beres- beres dulu." Aku bangkit, mengekor Anggia. Sedikit
perubahan, sedikit saja... tidak akan terlalu kentara, kan? ***
Aku berdiri termangu-mangu di depan rak yang penuh dengan kosmetik
danalat kecantikan. Sudah hampir lima belas menit aku di sana, masih berusaha
menentukan warna apa yang akan kupilih. Aku memegang telepon dengan sebelah
tangan sambil sibuk mengambil kotak-kotak cat pewarna rambut, menelitinya
sejenak, lalu meletakkannya kembali.
"Burgundy, cooper, atau ash?" gumamku kesal. "Nggi, gue
butuh bantuan ahli, nih." Di
saat-saat seperti ini, aku sungguh berharap ibu ada di sini. Aku melewati
masa-masa pubertas sendirian,mulai dari menstruasi pertama, hingga belajar
menyetir dan menggunakan pelembap wajah. Walau sekarang aku
punya seorang ibu tiri yang kupanggil Mama, beliau terlalu
sibuk bekerja untuk usaha catering rumahan kami dan jarang menghabiskan waktu
denganku, apalagi untuk urusan semacam ini.
"Burgundy itu warna kemerahan," ocehan Anggia membuyarkan
impianku. "Cooper itu tembaga, ash keabuan. Kayaknya lo lebih cocok warna
cokelat gelap deh, Frey. Jangan terlalu terang, ntar kaget." "Sekali lagi, gue butuh alasan kenapa
gue harus ganti warna rambut." Aku mendengus kesal, menyesal membiarkan
Anggia meracuni pikiranku dengan sukses, seperti yang selalu dilakukannya.
Kalau sama Anggia, rasanya aku kebanyakan mengalah, deh. Dia tertawa lepas di ujung telepon.
"Sekali ini aja deh..., oke?"
"Antara warna cokelat tua dan merah gelap, nih." Aku
menimang-nimang kedua kotak cat rambut itu dengan gemas. "Yang mana,
Nggi?" "Yang merah
bagus."
Sebuah suara
mengagetkanku, membuatku hampir menjatuhkan kotak di tangan. Adrian berdiri
persis di belakangku, tubuhnya yang jangkung basah oleh keringat namun
samar-samar aku dapat mencium aroma cologne maskulin yang segar. Dia nyengir,
menunjuk kotak yang bertuliskan burgundy, seakan tidak sadar dia baru saja
membuatkua tekejut setengah mati, plus agak malu karena tertangkap basah dalam
keadaan seperti ini. "Itu Adrian,
ya?" Anggia berseru di telepon. "Frey, kasih teleponnya ke Adrian
dong, gue mau ngomong!" Pasrah,
aku menyerahkan telepon genggam kepada Adrian. "Anggia, nih." Adrian menjauh untuk bercakap-cakap dengan
sang pacar, sedangkan aku masih frustasi dengan pilihan cat warna. Akhirnya,
aku mengambil satu dan berjalan ke arah kasir untuk membayar. Selamat datang,
rambut merah!
"Thanks." Adrian menghampiriku, mengembalikan
telepon sambil menyeringai lebar. "Gue abis ngebasket sama anak-anak dan
haus mau beli minuman di sini. Nggak nyangka ketemu si cikal bakal rambut
merah. Anggia ngomong apa sampe lo setuju?" Aku tidak menjawab pertanyaan tersebut,
lebih kuatir dengan warna yang telah kupilih. "Menurut lo warna merah ini
bagus?" "Buat lo," tukas
Adrian. "Merah, bukan
cokelat?" Aku tidak jadi mengeluarkan uang untuk membayar, tiba-tiba
khawatir Adrian hanya sedang iseng mempermainkanku. Seperti yang pernah dia
lakukan saat mengganti minuman Moses saat yang bersangkutan sedang ke toilet,
atau mengirimkan SMS palsu yang sempat membuat erik mengira cewek yang
ditaksirnya sedang mengajaknya kencan. Sinting, tapi jenius. Sekarang, aku
hanya takut akan menjadi korban olok-olokan selanjutnya. Namun, Adrian mengangguk mantap. "Yep.
Merah, bukan cokelat." Tangannya meraih sebotol minuman energi dingin dari
rak kasir, lalu meletakkannya di
samping belanjaanku. "Sekalian traktir ya, buat saran
makeover gue." Aku tertawa kecil,
memutuskan untuk percaya padanya. "Iya deh. Habis ini gue langsung ke
rumah Anggia." "Sampai ketemu
nanti malam, rambut merah” Dan, lelaki
itu pergi begitu saja. *** Aku kembali muncul di gerbang rumah Anggia
setengah jam kemudian, masih ragu dengan keputusanku melakukan perombakan
penampilan. Sebelum mampu memprotes lebih lanjut, aku digiring masuk dan
terpaksa duduk di kursi salon, sambil menggigiti kuku dan memandangi kotak
pewarna rambut dengan cemas. Anggia duduk di belakangku, di atas kursi yang
lebih tinggi, perlahan mewarnai helaian rambutku sedikit demi sedikit. "Kok jadinya warna merah?"
godanya. "Katanya nggak mau perubahan ekstrem."
"Jangan
komentar deh, udah terlanjur nih." Aku merengut. "Gara-gara Adrian
yang bilang warna ini bagus."
"Adrian memang suka warna merah." Anggia tersenyum sambil
terus menyapukan warna itu. Aku terdiam. Tapi, tadi dia bilang, warna merah
bagus untukku. Dan aku percaya padanya.
Dua jam kemudian, warna merah sudah meresap ke rambut hitamku.
"Nanti potongnya model seperti ini, ya." Anggia menunjuk sebuah gambar
di majalah yang diletakkannya di atas meja. Mama Anggia mengangguk-angguk siap
menggunting. Aku tidak diperbolehkan melihat, karena katanya nanti potongan
rambut ini akan menjadi kejutan. Aku hanya bisa pasrah menunggu dengan kedua
mata terpejam rapat. Mama Anggia mulai merapikan rambutku yang baru
dibasuh. Aku mulai panik karena merasakan begitu banyak bagian rambut yang
dipangkas. Mama Anggia terus memotong dengan cekatan, dengan Anggia yang duduk
di sebelahnya sambil terkikik jail.
"Nah, selesai."
Aku membuka mata. Kaget adalah satu kata yang paling tepat untuk
mendeskripsikan perasaanku detik itu.
Rambutku yang tidak terlalu panjang kini menjadi sangat pendek, hampir
menyerupai rambut pria. Warna merahnya tidak terlalu menyala, hanya kelihatan
kemerahan saat tertimpa cahaya matahari. Namun, potongan rambutnya....
drastis. "Ini model pixie cut ala
Demi Moore yang terkenal beberapa tahun lalu." Mama Anggia berkata.
"Tapi tante nggak potong sependek itu, cuma ditambahkan trap sedikit di
bagian belakang." Aku masih tidak
sanggup berkata-kata. Anggia meletakkan kedua tangan di atas pundakku,
tersenyum puas. "Perhatiin baik-baik. Cantik banget." Aku menatap wajahku sendiri di cermin.
Perubahan yang sangat besar. Wajahku yang tirus dengan garis wajah tegas
semakin diperjelas dengan potongan
rambut pendek. Poni yang biasa kubiarkan menutupi separuh
wajah dipangkas pendek, kini menjuntai tipis menutupi dahiku yang lebar. Warna
merah gelap juga kontras dengan kulitku yang putih. Aku terlihat seperti makhluk asing.
Seseorang yang tidak kukenali. Ini
bukan perubahan kecil. Ini salah satu perubahan terbesar dalam hidupku. ***
ANGGIA POV Kesan pertama yang
kutangkap saat meletakkan kuas dan lipstik di atas meja adalah: cantik. Hampir
sama seperti saat aku pertama kali melihatnya dua tahun lalu, di lapangan
sekolah saat orientasi SMU. Freya
memang nggak bisa dibilang diva sekolah, tetapi dia menarik. Kecantikannya
terhalangi oleh poni panjang, rambutnya selalu dipotong rata tanpa model,
dan dia terlalu sederhana untuk menjadi pusat perhatian.
Freya itu istilahnya, segelas susu putih dalam gelas kaca biasa. Sekilas
terlihat sangat biasa, tanpa pernak-pernik, tanpa rasa, tetapi
menghanyutkan. Aku baru berteman
dengannya selama kurang lebih dua tahun, tetapi cukup mengenalnya untuk bilang
bahwa kesulitan hidup hanya membuatnya lebih kuat. Seperti yang kami semua
tahu, ayah Freya yang hanya lulusan SD membuka sebuah toko obat kecil di rumah
merreka. Ibu tirinya bekerja siang malam dengan membuka usaha catering. Dia tidak seperti teman-teman kami yang
lain, yang bisa merayakan ulang tahun di hotel dan cafe ternama. Bukan seperti
kami yang punya banyak televisi dan gadget terbaru di rumah, tapi masih berebut
untuk menggunakannya. Dia hanya punya sebuah mobil butut yang mesinnya
membatukkan asap setiap kali di-stater, sedangkan kami semua punya setidaknya
dua mobil mewah terparkir di garasi. Freya harus membantu orangtuanya begitu
pulang sekolah, dan hebatnya, nilainya selalu paling tinggi di kelas. Beasiswa
demi beasiswa disabetnya tanpa kesulitan, tanpa menyisakan ruang untuk
murid-murid yang setengah mati belajar untuk meraihnya.
Freya nggak seperti aku.
Kadang, aku kagum pada kekuatannya berkembang dalam segala sesuatu yang
seharusnya memurukkannya. Hanya, dia sendiri nggak pernah sadar kalau dia
memiliki semua itu. Malam ini, Thanks
to me dan tangan-tangan artistikku, Freya kelihatan cantik sekali dalam balutan
skinny jeans ketat berwarna gelap dengan aksen diamente di pinggangnya, dan
blus satin warna putih. Pakaian yang kupinjamkan padanya itu terlalu sempit di
badanku, tetapi pas di tubuh Freya. Aku juga meminjamkan sepasang flat shoes
dengan pita-pita satin warna lembayung. Nggak lupa juga, menyapukan sedikit
pemerah pipi dan lipstik warna peach. Freya nggak pernah cocok dengan warna
pink; di wajahnya warna itu selalu kelihatan sendu. Rambut merahnya kelihatan
lebih gelap dari seharusnya, dan entah bagaimana, Adrian benar. Warna itu
sangat cocok untuk kulit Freya yang pucat.
Tadinya, aku hampir mencak-mencak saat Freya berencana mengenakan gaun
selutut berbahan denim yang dulu pernah dikenakannya ke acara pernikahan guru
kami. Gaun itu polos, agak usang, sekilas
kelihatan kayak daster. Begitu dia mengeluarkan benda itu
dari tasnya, aku hanya bisa melotot.
Freya meringis, tahu aku akan bilang apa. "Jangan komentar,"
katanya. "Kita mau ke sweet
seventeen party di café, Freya sayang... bukan ke pasar!" Untungnya dia
nggak pakai sandal jepit sekalian!
Freya memutar bola matanya. "Memangnya, gue separah itu,
ya?" Aku memilih untuk nggak
menjawab. "Menurut lo?"
Akhirnya, dia setuju meminjam bajuku.
Kami diantar sopirku ke pesta Keke. Café yang dipilih sudah setengah
penuh ketika kami tiba. Keke berdiri di tengah ruangan, mengenakan gaun
rancangan designer ternama berwarna biru muda beraksen ruffles. Aku melihat
Adrian di sudut ruangan, sedang mengobrol dengan Moses dan Erik.
Aku menarik tangan
Freya. Dia masih kelihatan risih dalam baju yang terbuka itu, dengan tak
nyaman, ia menarik-narik ujung bajunya. "Jangan tarik-tarik bajunya,"
desisku. Duh, Freya norak banget, deh.
Adrian mengecup pipiku begitu kami datang dan berbisik hai, cantik,
seperti yang sering dilakukannya. Aku sendiri hari ini memilih mini dress motif
print abstrak bermodel tube yang baru kubeli minggu lalu. Kemudian, perhatian
semua orang berpindah ke Freya, yang dipanggil Adrian 'si rambut merah'. Erik dan Moses (terutama Moses) terlihat
shocked. Pipi Freya memerah. Lalu, memucat begitu Moses angkat suara. "Rambut
kamu diapain?" Nadanya dingin dan
tenang seperti biasa, tapi kami semua menangkap getar emosi yang jarang muncul
dari seorang Moses. Adrian dan Erik saling memandang. Aku menatap Freya yang
menunduk, berharap dia memiliki sedikit keberanian untuk menjawab.
"Kamu apain rambut kamu?" Moses bertanya lagi,
kali ini suaranya lebih keras.
"Aku..." Freya menggantungkan kalimatnya. Moses nggak pernah
membentak, apalagi kepada Freya.
Akhirnya, aku yang angkat bicara. Kasihan Freya. "Gue yang usul
supaya rambutnya dipotong dan dicat. Nggak permanen kok, beberapa kali cuci
juga ilang warnanya." Moses
berbalik menatapku. "Kenapa Freya harus pake baju terbuka dan cat rambut
jadi merah? Lo kan tau dia nggak nyaman, sekali liat bahasa tubuhnya aja lo
udah tau dia risih!" Suara Moses lirih, tetapi wajahnya menyiratkan kesal.
Dilepaskannya jaket yang dipakainya dan setengah dilempar ke arah Freya. Freya semakin pucat. Aku tahu dia benci
pertengkaran dan argumen, apalagi di depan umum. "Bukan karena Anggia, Mos.
Anggia nggak salah, kok," ujarnya berulang-ulang berusaha menengahi. Aku menghela napas yang sedari tadi kutahan.
Kadang, Moses benar-benar keterlaluan. "Memangnya, apa yang
salah dengan baju pesta, sedikit riasan, dan cat rambut?
Freya nggak butuh izin lo untuk itu."
Rahang Moses mengeras, tampak dia sedang berusaha mengendalikan
kemarahannya. Adrian bertukar pandang denganku, tahu aku sedang nggak mood
meminta maaf untuk kesalahan yang nggak kulakukan, dan berusaha mencairkan
suasana. "Udahlah, Mos. Lo kenapa
sih? Freya kan cuma mau coba penampilan baru. Harusnya lo seneng liat dia
tampil cantik." Namun, si keras
kepala satu itu menyahut datar tanpa emosi, "Jangan ikut campur. Ayo
pulang, Freya. Pakai jaketnya."
Dengan ragu, Freya mengenakan jaket Moses, semakin risih ketika
disadarinya orang-orang di sekeliling kami sedang memperhatikan. "Ayo kita pulang," ulang Moses
sekali lagi, lebih lembut."
"Tapi, kita kan
baru sampe.... Aku belum salamin Keke. Kadonya...." "Ayo." Moses menarik tangan Freya
sehingga kado Keke yang dipegangnya jatuh ke lantai. Erik berusaha menghalangi,
tetapi Adrian mencekal lengannya, mengisyaratkan agar kami nggak bertindak
lebih jauh. Aku ingin sekali membawa Freya kembali. Aku bisa melindunginya
lebih baik daripada Moses. Tapi, dia sempat menoleh, dan walau langkahnya
tergesa, dia berusaha tersenyum untuk meyakinkan bahwa dia nggak apa-apa. Bahwa
dia bisa sendiri. Jadi, aku pun
membiarkannya hilang di antara kerumunan orang-orang yang sedang berpesta. *** MOSES
POV Kami berdua duduk dalam keheningan
di dalam mobilku. Mesinnya sudah dihidupkan, tetapi tidak ada
yang bicara. Aku dapat mendengar napas kami tidak beraturan,
saling bertentangan, bertaut dalam kebingungan. Napas Freya berat, seperti
mencerminkan takut. Takut kepada siapa? Kepadaku, yang separuh menyeretnya ke
dalam mobil dan tidak membiarkan dia protes barang sekata pun? Sementara
napasku liar, tidak tenang, pantulan akan rasa takut yang lain. Takut akan
diriku sendiri karena telah membentak gadis yang paling kusayangi, melukai
hatinya hingga sekarang dia menundukan kepalanya dalam-dalam sambil memeluk dirinya
sendiri. Aku tidak tahu apa jelasnya
yang membuatku begitu marah begitu melihat Freya di pesta barusan. Rambutnya
yang berkilau kemerahan, dipotong pendek. Hilang sudah poni panjangnya yang
biasa menutupi sebagian wajahnya, seakan ingin menutupi separuh jiwa yang tak
mau dibagi dengan orang lain. Hilang sudah helai-helai rambut halus yang sering
kuputar dengan jemariku, sebuah cara menyayanginya. Bukan hanya rambutnya yang
membuatku kaget. Lebih marah lagi karena baju-baju sederhana yang biasa melekat
di tubuhnya telah tergantikan oleh jeans ketat dan baju berbelahan dada rendah.
Apa yang dipirkannya, aku tidak tahu, dan memilih untuk mengalihkan kekesalan
itu pada Anggia yang mengusulkan (bahkan meminjamkan) baju semacam itu.
Tadi, aku melemparkan jaketku untuk menutupi tubuhnya.
Kelihatan jelas Freya cukup kaget melihat letupan kecil amarahku karena
wajahnya langsung berubah pucat. Aku tahu dia tidak suka pertengkaran dan
terbiasa menghindarinya. Namun, aku tak tahan lagi. Aku ingin membawanya pergi
jauh dan tidak pernah melihatnya berubah.
"Freya." Tanganku menyentuh ujung rambutnya. Sebelum mendarat
di kepalanya, dia sudah menjauh. Amarahku hilang seluruhnya, digantikan rasa
sesal karena telah membuatnya sedemikian takut. Aku meraih pipinya yang lembut,
kemerahan dengan pewarna yang disapukan Anggia. Aku lebih suka pipinya yang
pucat dengan sedikit bintik kecokelatan.
"Maaf." Aku berusaha bicara selembut mungkin, tetapi suaraku
masih bergetar melihatnya seperti ini. Seperti bukan Freya. Kulihat sedikit kulitnya yang terbuka di
balik jaketku. Bulu kuduknya meremang, mungkin karena kedinginan, mungkin
karena enggan bersentuhan denganku. Diangkatnya sedikit kepalanya. Rambutnya
masih kemerahan, bahkan dalam pantulan cahaya malam. Dia
menatapku dalam-dalam dan berkata lirih, "Aku hanya
ingin jadi cantik malam ini."
Freya, apa yang harus aku rasakan kalau kamu berkata seperti ini? Aku bukan orang yang biasa mengucapkan
pujian gombal. Kata-kata seperti kamu bidadari tercantik di dunia selalu berhenti
di tenggorokanku, tidak pernah keluar walau dalam bisik sekali pun karena aku
bukan lelaki seperti itu. Freya. Kamu
cantik dengan senyum sedihmu. Namun,
aku tidak bisa mengatakannya. Aku hanya dapat membelai kepalanya, merasakan
lembut rambutnya di tanganku. Sedikit sedih karena entah kapan aku bisa
membelai rambutnya yang dulu lagi.
"Tidak perlu berubah." Akhirnya, aku berkata begitu. Hanya itu
saja yang bisa kubilang kepadanya walau aku berharap nada suaraku bisa lebih
manis. Freya menatapku lagi, dan kali ini dia tersenyum. Lalu, mengangguk.
"Bukan salah
Anggia." Freya berkata sekali lagi. "Aku yang pengin coba buat
perubahan." Dasar Freya, masih saja membela Anggia walau sudah dijadikan
korban mode. "Ya, sudah." Aku
mengalah. Jarang sekali Freya memperlihatkan kemanjaan, dan harus aku akui, aku
senang melihatnya. "Tapi, jangan lepas jaketnya sampai tiba di
rumah." Freya tertawa,
kekhawatiran di wajahnya sirna. "Ya." ***
FREYA POV Sudah hampir pukul dua
belas malam. Aku duduk di depan cermin,
menyisir helaian rambut dengan jemari. Memperhatikan wajah gadis yang balik
menatapku dari cermin. Memiringkan sedikit kepala, lalu
tersenyum. Sebelum pulang, Moses sempat
memintaku membasuh rambut merah ini hingga bersih. Hingga warnanya tak tersisa
lagi. Hari senin nanti, aku toh akan
kembali menjadi Freya yang biasa. Untuk sesaat, biarlah aku menjadi cantik.
Biarlah aku seperti ini, sebentar saja. FREYA POV Aku berdiri di tengah lapangan basket
sekolah yang luas, kedua tangan memegang bola dengan tak yakin. Kupantulkan
bola itu sekali, dua kali, kemudian kembali memandang tiang ring yang terlihat
jauh di luar jangkauan. Pelajaran
olahraga adalah salah satu kelemahan terbesarku. Aku tidak pernah mampu
memegang boa dengan benar, apalagi mencetak skor, sedangkan sebentar lagi ujian
fisik di bidang ini akan diadakan. Sprint jarak pendek, lari maraton, dan
sedikit gerakan
gymnastic, masih bisa kulakukan walau tidak dengan baik.
Namun, basket... sungguh, aku mengaku kalah.
Anggia dan Erik sempat bergantian mengajariku, tetapi aku masih
kesulitan. Masalahnya adalah, aku tidak cukup cekatan, tidak memiliki kemampuan
menilik jarak,dan timing-ku sering tidak pas.
Jam pelajaran sudah berakhir. Aku memastikan sudah cukup sore hingga
murid-murid sudah pulang, lalu berdiri sendirian di sana, bertekad untuk
mencoba sekali lagi. Aku memang tidak pintar olaharaga, tapi aku bukan tipe
orang yang mudah menyerah. Kuluruskan
kedua lengan, berusaha mengira-ngira sudut lemparan seperti apa yang akan mendaratkan
bola hingga masuk ring. Perlahan, kulempar bola di tangan, yang hanya meluncur
tidak jauh dari tempatku berdiri dan bahkan tidak menyentuh ring sama-sekali.
Kuambil bola itu kembali, mencoba sekali lagi, tapi masih dengan hasil yang
sama. Terulang terus, sampai aku mulai gerah dan frustasi dengan diri
sendiri. Masa sih, hal seperti ini
lebih sulit dari mengutak-atik rumus integral?
"Coba lebih
fokus pada pergelangan tangan."
Aku menoleh, menemukan Adrian sedang duduk berselonjor di atas kursi
panjang tidak jauh dari sini, memperhatikanku. Wajahku sontak memerah, tidak
sadar kalau sejak tadi aku memiliki penonton.
"Sejak kapan lo ada di sana?"
Adrian menyeringai. "Cukup lama untuk tahu lo nggak bakat olahraga
sama-sekali." Aku menjatuhkan
bola, bergegas ingin cabut dari sana, tetapi Adrian malah bangkit menghampiriku
dan memungut bola itu. "Lo nggak
akan menyerah semudah itu, kan?"
Aku balas menatapnya, mempertimbangkan tantangan tersebut. Jauh dalam
diriku, aku tidak ingin menyerah kalah. Tapi, jujur sejujur-jujurnya, aku malu.
Otot-
ototku pegal bukan main. Aku letih. Dan, aku tidak suka
ditonton, apalagi dalam keadaan bodoh seperti sekarang. Kenapa ya, Adrian
sering sekali menemukanku dalam kondisi tolol?
"Ayo." Adrian memberikan gestur untuk bergabung, lalu
memeragakan posisi yang tepat. "Berdiri seperti ini, kedua kaki jangan
goyah." Aku menurutinya dengan
setengah hati, berharap aku tidak terlihat terlalu konyol. "Untuk memasukkan bola, lo harus punya
kontrol penuh terhadap seluruh gerakan lo. Kecepatan dan akurasi itu perlu,
tapi yang paling penting adalah fokus."
Aku mengangguk, mencoba meniru Adrian yang kini melemparkan bola menuju
ring, dan masuk tanpa cela. "Nah,
sekarang giliran lo. Kita coba dari jarak yang dekat dulu, kalau udah bisa baru
agak jauh."
Sekali lagi, aku mengikuti tanpa banyak keluh kesah,
berkonsentrasi pada gerakan lengan dan tiang yang ada di hadapanku. Lumayan,
lemparanku kali ini tidak masuk, tetapi sempat menyentuh permukaan ring. "Bagus. Sekali lagi." Kamu melakukan gerakan yang sama
berulang-ulang— melempar, memungut bola, melempar, hingga akhirnya satu
lemparan berhasil masuk dengan mulus. Aku terpekik girang, untuk sesaat lupa
mengontrol diri, dan Adrian mengangkat sebelah lengan, ingin memberikan tos
tanda keberhasilan. Aku menyambutnya tanpa ragu. Latihan itu berlanjut hingga satu jam
kemudian, hingga matahari hampir terbenam dan kami berdua bersimbah keringat,
lelah, tapi dengan senyum lebar di wajah masing-masing. ***
Adrian bilang, basket tidak segampang kelihatannya, tetapi juga bukan
olahraga yang susah.
Aku setuju. Tadinya, untuk dribbling saja aku sudah
kewalahan. Gerakan bola sering kali lebih cepat dari gerakanku, dan aku tidak
memiliki kontrol sama-sekali. Namun, setelah sekian lama berlatih bersama
Adrian, rasanya cukup aman jika kubilang aku sudah lebih percaya diri untuk
menghadapi pengambilan nilai di mata pelajaran olahraga minggu depan. "Lo nggak bakal salah deh, belajar dari
king of three- pointers sekolah ini," ujar Adrian, membanggakan diri. Dia
menghempaskan diri di atas lapisan semen, lalu berbing, menatap langit yang
sudah ternoda warna oranye. Aku ikut duduk di sebelahnya, baru pertama kali
merasakan hangat dan kasar tekstur lapangan yang menciptakan kontak langsung
dengan kulit. Rasanya menyenangkan bersentuhan dengan bumi. "Makasih, ya. Karena lo, mungkin gue
nggak jadi jeblok di ujian." Aku berterima kasih, tulus. Adrian ternyata
guru yang cukup baik. Dia tidak berdecak tak sabar saat lemparanku gagal untuk
kesekian kalinya, tidak mengkritik berlebihan saat postur tubuhku salah,
dan tidak terburu-buru agar hasilnya sempurna. Aku
menghargainya. "No problem.
Kuncinya cuma latihan, dan...."
"Fokus." Aku menyelesaikan kalimat itu, membuat kami berdua
tertawa kecil. "Sejak kapan sih, lo suka basket?" Aku jadi ingin
tahu. "Sejak nonton Robert Horry
dan tembakan three-point- nya di final NBA." Adrian berkata,
mengingat-ingat momen tersebut. "Keesokan harinya, gue minta Nyokap beliin
gue jersey, bola basket, dan sepatu keds." Dia bercerita tentang pertandingan basket
pertamanya—timnya kalah. "Nyokap bilang, nggak ada yang namanya menang
atau kalah, selama kita berusaha. Dan itu yang bikin gue mencoba lagi. Basket
itu hidup gue. Kalau bisa, gue pengin terus main basket sampai gue nggak mampu
lagi." "Gue ngerti." Aku
menyahut di sampingnya. Mungkin itu juga alasan yang membuatku tidak ingin
menyerah sampai berhasil memasukkan bola ke ring. Juga alasan
yang membuatku tidak pernah berhenti sampai aku berhasil
melakukan sesuatu. Adrian menoleh
memandangku. "Waktu lo pertama kali liat gue, apa sih yang lo
pikirin?" "Lo peduli dengan
apa kata orang mengenai lo?" Aku balas bertanya. Dia mengangkat bahu. "Gue pengin tau,
gimana orang melihat gue dan nge-judge gue. Apa mereka langsung jatuh cinta
pada pandangan pertama, atau malah nggak suka samague." Aku tertawa kecil. "Lo terlalu percaya
diri." "Gue serius, Frey.
Anggia bilang, pertama kali dia liat gue, gue sepenuhnya nyaman dengan diri
gue. Gue nyaman di tengah lapangan. Gue seperti terbang." Pertama kali aku melihat Adrian adalah saat
dia tergesa- gesa melewati gerbang sekolah, terlambat pada hari pertama
orientasi. Saat itu, dia menabrak aku yang
sedang melintas, tapi dia tidak berhenti, hanya menoleh
sejenak untuk meminta maaf. Lalu, dia tertangkap basah oleh para senior dan
mulai dibentak-bentak dengan gaya penuh otoritas, tetapi dia hanya tertawa
santai, seolah sama-sekali tidak terpengaruh, yang justru hanya membuat mereka
semakin kesal. "Lo seperti orang
yang sadar bahwa lo disukai. Itu yang membuat lo percaya diri. Tapi, sering
kali orang-orang hanya bisa melihat satu sisi aja. Sisanya nggak lo
tunjukkin." Adrian
mengangguk-angguk, mencerna kalimat itu. "Hmmm. Lo cocok jadi psikologis." Dokter. Cita-citaku adalah menjadi
dokter. "Inget nggak, waktu gue
nabrak lo, hari pertama masuk sekolah? Lo sama-sekali nggak senyum. Waktu itu,
gue pikir lo orang yang kaku. Nggak mau bergaul karena lo anggap lo lebih baik
dari orang lain. Tapi, ternyata gue salah." Dia tersenyum lebar.
"Asumsi itu sering salah, Freya."
Dia ingat. Ternyata, Adrian ingat. "Eh, liat tuh. Matahari terbenam."
Adrian menunjuk matahari yang sudah tenggelam di balik langit biru, aneka palet
warna menciptakan lukisan alam yang sangat indah. "Kapan ya, terakhir kali
ngeliat matahari terbenam? Gue nggak ingat. Lo ingat?" Aku menggeleng, lalu tersenyum diam-diam,
turut merasakan hangat sinar matahari sore hingga langit berubah gelap, dengan
dia di sampingku. *** Pelukan di Tengah
Hujan FREYA POV And I look again towards the sky as the
raindrops mix with the tears I cry. -Unknown-
*** Malam itu, agak
mendung. Hampir pukul sebelas malam ketika aku mendengar telepon rumah
berbunyi. Ayah dan Ibu sudah tidur, jadi aku bergegas menyibakkan selimut dan
berlari ke ruang keluarga untuk meraih telepon di atas meja. "Halo." Suaraku serak menahan
kantuk. Siapa sih yang menelepon malam-malam begini? "Freya?" Suara Anggia
terputus-putus, samar, tetapi aku dapat menangkap panik di suaranya yang jarang
kudengar. "Ada apa,
Nggi?" Anggia dan Moses sedang
ikut camping anggota OSIS di Bandung selama tiga hari. Hari ini hari pertama. Anggia
sebagai sekertaris dan Moses sebagai ketuanya memimpin rapat yang membahas
acara tahunan sekolah sambil mendiskusikan event kelulusan.
Statis. Tiba-tiba, terdengar isakan keras, lalu terdengar
suara Moses, tegas seperti biasa.
"Mos, ada apa? Kalian nggak apa-apa?" Untuk sesaat, rasa
khawatir menyelinap. Kenapa Anggia menangis? Kenapa Moses terdengar begitu
serius? "Kita nggak apa-apa,"
ujar Moses menenangkan. "Kami baru dapat kabar, mamanya Adrian barusan
kecelakaan dan sekarang ada di rumaha sakit." Aku terhenyak. "Beliau... nggak apa-apa?" Aku
takut mendengar jawabannya. Moses
terdiam sejenak sebelum menjawab, "Beliau sudah meninggal, Frey."
Suara Moses masih dengan tenang menjelaskan kondisinya. "Kecelakaan mobil,
ditabrak lari ketika menyeberang jalan. Sekarang, aku dan Anggia menyusul.
Pulang ke Jakarta, tapi kita harus pinjam mobil dulu. Mungkin lewat tengah
malam baru bisa sampai di sana."
Aku cuma
mengangguk-angguk hingga aku sadar Moses tak bisa mendengarku jika aku hanya
mengangguk patuh. "Iya. Cepatlah pulang. Hati-hati di jalan ya." "Freya?" Anggia kembali mengambil
alih telepon, masih terisak, tetapi lebih bisa menguasai diri. "Gue minta
tolong... pergi ke rumah sakit. Seenggaknya temani Adrian di sana sampai gue
dan Moses datang. Ya?" Aku
menghela napas. "Iya. Gue ke sana sekarang." Anggia terdengar lebih lega. "Thanks,
Frey. Tolong, ya." Kami menutup
telepon. Aku meraih sisir, menyisir seadanya, lalu berganti pakaian. Aku
meninggalkan pesan untuk orangtuaku, mengambil kunci mobil dan payung, lalu
berhenti sejenak. Berbalik ke lemari untuk mengambil sehelai jaket besar yang
cukup tebal, lalu bergegas.
Di luar hujan deras. Aku menyetir perlahan ke arah rumah
duka. Entah apa yang Adrian rasakan sekarang. Tidak, aku tahu. Sedih, kecewa,
marah, kalut. Kosong. Kini, hanya wajahnya dan suara Anggia yang terngiang-
ngiang. Aku memarkir mobil di antara
baris-baris mobil. Mencari-cari Adrian dan mengenali abangnya di antara
kerumunan orang yang sedang bicara di ruang tunggu, tetapi tidak menemukan
Adrian. Aku memutuskan untuk mencarinya, menarik jaket erat-erat untuk menutupi
tubuh yang mulai kedinginan. Aku
melihatnya berdiri di pintu keluar bagian belakang, tidak jauh dari toilet
pria. Dia sedang merokok. Rambutnya basah kuyup, begitu pula tubuhnya. Aku
tidak bisa melihat wajahnya.
"Adrian." Aku memanggil pelan. "Anggia dan Moses sedang
dalam perjalanan ke sini." Tak ada
jawaban. "Yan."
Dia menoleh sekilas.
Tersenyum, seakan tak terjadi apa-apa. "Hai, Freya. Kok malam-malam ke
sini?" Aku khawatir. Anggia ingin
aku datang. Adrian butuh seseorang. Entah jawaban mana yang harus kuberikan.
Jadi, aku tidak menjawab. Kuserahkan jaket yang kubawa untuknya, dan dia
tersenyum lagi saat mengenakannya. "Thanks. Lo pulang aja, gue nggak
apa-apa." Nggak apa-apa, katanya?
Wajahnya pucat pasi, senyumnya palsu, matanya sedih. Tatapan kosong yang
membuatku takut. Aku berdiri di
sebelahnya, masih tidak mengatakan apa- apa. Diam-diam, menghirup asap rokok
yang dikepulkan Adrian, perlahan teringat akan luka masa lalu yang terkorek,
kenangan yang sama seperti enam tahun silam. Rasa itu membuatku tiba-tiba
merasa rindu. "Kenapa ya,
orang-orang yang kita sayang harus pergi begitu cepat?" Tiba-tiba, Adrian
bicara. "Kenapa, hidup
nggak bisa adem-ayem? Kenapa bahagia nggak bisa berlanjut
lama?" Aku mengamati hujan yang
masih turun dengan derasnya. Titik-titik air yang riuh mengacaukan kesepian
kami. "Kita jadi takut merasakan bahagia karena kalau terlalu bahagia,
suatu saat semua itu bisa hilang dan menjadikan kita hampa." Adrian mengangguk. "Tadi, Nyokap lagi
pergi sebentar buat beli makanan. Katanya, dia seneng anak-anaknya udah pada
gede, udah bisa jaga diri sendiri. Jadi, dia nggak usah khawatir lagi kalau dia
nggak ada." Aku berjongkok,
memeluk lutut. Udara semakin dingin. "Waktu hidup manusia itu nggak pasti.
Kita nggak punya kemampuan untuk nentuin masa dan arah hidup kita.... kalau
yang di atas bilang waktu kita selesai, kita harus lepas tangan. Itulah
ironisnya kehidupan. Hidup ini milik kita, juga bukan milik kita sendiri." "Ya, begitulah manusia."
Aku berpaling menatap Adrian, yang masih mengisap rokoknya
dengan tenang. Ketenangan yang jarang kutemukan pada dirinya yang ceria;
ketenangan yang sangat mengerikan. Karena tiba-tiba aku merasakan cahaya mata
dan kesepian yang sama, seperti enam tahun yang lalu. Tidak ada yang bisa
menyelamatkan siapa pun dari rasa semacam itu.
"Kamu nggak usah pura-pura." Entah dari mana kata- kata itu
muncul. Adrian mendongak, seperti tidak menyangka kata-kata itu akan muncul
lugas dari mulutku. "Lo berharap
gue bereaksi seperti apa? Nangis meraung-raung ditinggal Nyokap? Menghibur
anggota keluarga yang tertinggal? Langsung turun tangan ngurusin masalah
pemakaman?" Suaranya tiba-tiba meninggi dengan emosi yang memuncak.
"Atau lo mau gue cari bajingan yang nabrak Nyokap, terus langsung gue
bunuh? Yang mana yang harus gue lakuin, Freya?" Rokok telah jatuh ke tanah, bercampur dengan
air hujan. Aku hanya bisa balik memandang matanya, membiarkannya merasakan
segalanya yang harus ia rasakan.
"Nyokap gue juga meninggal, enam tahun yang
lalu." Adrian terdiam, masih
berusaha menata emosi. "Nyokap gue
yang sekarang bukan ibu kandung. Dia menikah sama bokap gue tiga tahun lalu.
Nyokap gue sakit parah, semua harta benda keluagra dijual habis untuk biaya
pengobatannya. Tapi, beliau tetap meninggal." Aku menarik napas dan
mengembuskannya pelan-pelan. "Bokap menikah lagi dengan orang yang menjadi
ibu tiri gue sekarang. Butuh setahun sampai gue bisa nerima dia sebagai ibu,
dan bukan pengganti. Butuh waktu buat kembali percaya lagi, kalau gue pantes
bahagia." Tubuh Adrian mulai
gemetar. Sama seperti waktu itu, enam tahun yang lalu, saat aku sendirian duduk
di tempat yang sama, menangis sendirian sampai seseorang datang menjemputku. Sampai
tangis mereda, dan kehilangan kemampuan untuk menangis. Aku mengerti. Perlahan, aku merengkuh tubuhnya yang basah,
merasakan gemetar itu, merasakan beban yang disimpannya sendirian.
"Saat itu, gue
bilang sama diri sendiri, Nyokap pasti pengin gue tetap kuat dan nggak nangis.
Tapi, gue belajar, bahwa pada saat-saat seperti ini, lo hanya harus menjadi
diri sendiri. Lakukan apa yang lo mau, rasain apa yang harus lo
rasain." Dan, air mata mulai
membasahi pundakku. Aku memeluknya sepanjang malam, memeluknya hingga dia
berhenti mengigil, dan ia balas merengkuhku hingga hangat dan tenang menyentuh
jiwanya. *** ANGGIA POV
Aku duduk di samping Moses yang sedang menyetir perlahan di jalan tol
menuju Jakarta. Sesekali, aku menarik cardigan tipis yang kukenakan
rapat-rapat. Hujan masih terus turun dengan derasnya, reaksi dengan udara
menimbulkan kabut di kaca mobil. Radio masih terus menyiarkan berita kecelakaan
dan kondisi lalu-lintas. Aku melirik Moses sekilas, pandangannya
lurus ke depan dan pegangannya pada setir terlalu erat,
tetapi ekspresi wajahnya datar tanpa emosi.
Dua jam yang lalu, aku iseng mencuri waktu untuk menelepon Adrian dari
telepon hotel tempat kami menginap. Dalam pertemuan OSIS yang harusnya
berlangsung sampai lusa ini, ponsel kami disita dan aku kesulitan menghubungi
Adrian dari Bandung. Padahal, aku kangen suaranya. Kangen mengobrol sebelum
tidur dan mengakhirinya dengan ucapan I love you. Butuh beberapa kali dering sampai telepon
rumah Adrian diangkat. Suara Mbok Rumi gemetaran ketika menjawab telepon. "Mbok, ini Anggia. Adrian
ada?" Senyap. Sepertinya rumah
juga sedang kosong. Tidak terdengar suara Adrian main game di ruang keluarga,
atau suara berita yang ditonton ayahnya tiap malam. Baru pukul sepuluh malam,
dan biasanya keluarga Adrian jarang tidur sebelum pukul dua belas.
Ketika aku mengulang pertanyaanku, hanya tangis Mbok Rumi
yang terdengar sambil mengabarkan perihal kecelakaan Ibu Adrian. Awalnya, aku nggak percaya. Memastikan
berkali-kali sampai aku terduduk lemas dan berusaha mencerna kabar buruk itu. Aku
langsung memutar nomor ponsel Adrian, yang diangkat pada dering pertama. "Yan? Kamu dimana? Kamu nggak
kenapa-kenapa, kan?" Adrian nggak menjawab. "Aku segera ke sana. Kamu
tunggu aku, ya." Suara Adrian
begitu pelan, hampir nggak kedengaran di tengah bahana hujan dan riuh orang
berbicara di sekitarku. "Iya."
Klik. Telepon dimatikan, dan ponsel-nya nggak bisa dihubungi lagi
setelah itu. Mungkin dimatikan. Selanjutnya,
aku dan Moses bersikeras untuk segera kembali ke Jakarta. Kami terpaksa meminjam
mobil dari kenalan Moses di Bandung karena kami datang ke sini dengan bus
sekolah. Untungnya lalu-lintas nggak
terlalu macet, tetapi langit yang gelap dan hujan deras
memperlambat perjalanan kami.
"Tenang aja." Suara Moses memecah keheningan. Mungkin dia
merasakan kegelisahanku.
"Hmm." Aku menekan-nekan tombol radio dengan tak sabar.
"Gue ganti stasiun radionya, ya? Dengerin berita kecelakaan bikin gue
gugup." Moses hanya mengangguk
singkat, membiarkanku memilih. Lagu instrumental piano mulai mengalun.
Setidaknya, ini lebih menenangkan.
"Ada Freya di sana. Pasti baik-baik aja." Moses berkata lagi,
seakan bisa membaca pikiranku. Aku
meremas-remas tangan, masih cemas. "Gue takut Adrian ngamuk. Lo kan tahu
sendiri dia orangnya emosian. Dia pasti...." Aku nggak sanggup
melanjutkan. Hancur. Kata itu yang barusan akan kukatakan. "Ada Freya. Jangan khawatir,"
ulangnya yakin.
Ya, benar. Freya
akan menjaga Adrian supaya dia nggak gegabah. Tolong jaga Adrian, begitu yang
kukatakan kepadanya sebelum kami menyusul ke Jakarta. Dan, dia sudah
menyanggupinya walau aku tahu betapa bencinya Freya pada rumah sakit. Freya nggak suka segala sesuatu yang
berkaitan dengan rumah sakit, baunya, rumah duka, pemakaman. Aku hanya pernah
mendengar sekilas ceritanya dari Erik. Sejak kepergian ibunya, Freya anti
dekat-dekat dengan yang namanya rumah sakit. Dia jarang mau pergi ke sana,
kecuali benar-benar terpaksa. Waktu aku masuk rumah sakit untuk operasi usus
buntu tahun lalu, baru aku tahu cerita yang sebenarnya. Yang benar-benar tahu keseluruhan ceritanya
adalah Erik. Aku dan Moses yang sudah mengenalnya selama dua tahun bahkan nggak
mampu mengorek luka lampau itu dan mendengarnya dari mulut Freya sendiri. Semua
disimpannya rapat-rapat, seperti tameng, seperti rahasia. Apa yang dia rasakan,
apa yang dia pikirkan, kami nggak tahu jelas. Akhirnya, aku memutuskan untuk
nggak memaksa. Mungkin hal-hal semacam itu lebih baik tidak dibicarakan.
Udara semakin sejuk. Moses nggak mematikan AC mobil karena
embun dan kabut kian tebal merayapi kaca mobil dan menghalangi pandangan. Mobil
berhenti di depan lampu merah, sebentar lagi kami akan tiba. Mendadak, aku merasa takut, ingin menangis.
Ingin segera memeluk Adrian, ingin memberi tahunya kalau semuanya akan
baik-baik saja. Ingin melihatnya tersenyum dan bukan menangis. Ingin segera
sampai di sana. Tanpa kusadari, air
mata mulai berguklir ke pipi. Aku terisak, menutupi muka dengan kedua
tangan. Tangan yang lembut tiba-tiba
mengusap rambutku. Perlahan, bahkan ujung jarinya hampir tidak menyentuhku. Aku
membiarkan Moses membelai kepalaku sekali, dua kali, mencoba menenangkanku
dengan caranya sendiri, tanpa sepatah kata pun. Lalu, kamu melanjutkan perjalanan dalam
keheningan. ***
MOSES POV Kami tiba di rumah sakit setelah tiga jam
perjalanan yang melelahkan. Aku harus ekstra hati-hati karena jalanan sangat
licin. Anggia yang duduk di sebelahku terus menangis, membuatku serbasalah. Aku
tidak pernah melihat seorang gadis menangis, dan bingung bagaimana caranya
bersikap jika seorang perempuan menangis di depanku. Apa yang harus aku
katakan? Atau, apakah aku seharusnya membiarkan dia menangis sampai puas? Akhirnya, aku melakukan apa yang dulu sering
dilakukan kakak perempuanku, setiap kali aku menangis jika ayah dan ibu terlalu
sibuk untuk pulang ke rumah. Kakak sering membelai kepalaku, mengelusnya lembut
hingga aku berhenti menangis. Aku suka belaian itu, membuatku merasa lebih baik
setiap kali Kakak melakukannya. Anggia
berlari ke dalam rumah sakit tepat setelah aku memarkir mobil pinjaman itu.
Kulihat mobil Freya terparkir di sana; berarti dia sudah menunggu di sana
hingga pukul dua pagi. Dia tampak sedang duduk di ruang tunggu depan. Wajahnya
letih, tetapi tidak ada
sisa tangis di sana. Dia terlihat.... tenang. Adrian duduk
di sampingnya, memegang segelas air putih. Wajahnya lebih pucat dari kami
semua, matanya merah dan tangannya terkepal di sampingnya. "Adrian!" Anggia langsung
menghambur ke arahnya dan memeluknya erat. Tangisnya pecah dan Adrian
mengelus-elus kepalanya, mencoba menenangkannya. Freya menangkap tatapanku dan
tersenyum tipis, lalu mengajakku ke luar dari sana. "Freya," panggil Adrian sesaat
sebelum kami pergi. Freya berbalik. "Thanks." Freya hanya tersenyum simpul. Kami berdua berhenti di area parkis,
bersandar di kap mobilnya dambil memandang langit yang semakin kelam. Hujan
sudah berhenti sejak tadi, tetapi udara membawa rasa yang lain; bau tanah yang
becek, antiseptik yang menyengat.
"Gimana Adrian?"
Freya mengangkat
bahu. "Sedikit lebih baik. Tadi waktu aku datang, dia nggak mau ngomong
apa-apa." "Ibunya?" Freya menunduk lebih dalam. "Ibunya...
hampir nggak bisa dikenali. Separuh tubuh dan wajahnya hancur. Lehernya
patah...." Suara Freya makin pelan, tidak ingin melanjutkannya lagi. Aku
menyentuh tangannya. "Sepertinya Adrian syok banget." "Sudah sewajarnya dia terpukul. Anggia
juga nangis dari tadi...." Freya
mendesah. "Kita tunggu mereka di sini, ya? Sampai semuanya
beres." Aku mempererat
genggamanku, mencoba berbagi kehangatan dan kekuatan. "Ya, kita tunggu di
sini."
ERIK POV Kalau
sekarang ada yang tanya sama gue, apa opini gue mengenai seorang Freya, maka
gue akan panjang-lebar cerita tentang dia.
Freya itu sahabat gue sejak kecil, sejak kita masuk SD di tempat yang
sama. Sejak kita berdua jadi tetangga satu kompleks perumahan, dan cerita
mengenai bagaimana gue menjadi satu-satunya orang yang bisa diajak bicara
hati-ke-hati olehnya. Gue akan bilang
kalau menganggap Freya layaknya adik perempuan yang paling gue sayangi. Gadis
kecil yang suka menyimpan semuanya sendirian dan enggan bicara tentang perasaan
pribadinya. Dan cuma gue yang bisa membaca pikirannya. Freya sudah pendiam dari sananya. Namun,
enam tahun yang lalu, ibunya meninggal karena kanker yang baru dideteksi di
stadium terakhir, meninggal setelah beberapa bulan perawatan di rumah sakit.
Freya yang tadinya cukup berada menjadi Freya yang hanya bisa sekolah karena
beasiswa dan pertolongan para orangtua murid lain. Ayahnya membuka toko obat
tradisional di
rumahnya yang kecil karena bisnis apotek besar yang mereka
kelola dulu terpaksa dijual, begitu pula dengan mobil mewah dan rumah, beserta
harta-harta lain yang digadaikan. Sekarang, keluarganya hanya punya sebuah
mobil jip tua yang langganan keluar-masuk bengkel, itu pun hanya kalau
terpaksa. Namun, bukan hanya kemiskinan
mendadak yang mendera Freya. Yang lebih mengena adalah kehilangan ibunya. Saat
itu, Freya baru dua belas tahun. Gue ingat, waktu itu dia kembali dari rumah
sakit membawa berita buruk tersebut. Dia mengunci diri di kamar, nggak keluar
berhari-hari, bolos sekolah seminggu. Ayahnya menelepon gue supaya datang, tapi
Freya nggak mau bicara. Sampai akhirnya, enam hari setelah kepergian ibunya,
Freya mulai keluar dari kamar dan memasak. Dia masak makanan kesukaan ayahnya
seperti yang sering diajari ibunya, dan tersenyum seakan nggak terjadi
apa-apa. Di situlah letak bahayanya.
Gue tau dia lebih sakit dari itu. Dia lebih ringkih dari kelihatannya. Lebih
ingin menangis dibandingkan kami semua. Sama seperti waktu dia diledek tiang
listrik jelek oleh teman-teman sekelas, dia bertindak seakan dia baik-baik aja,
tapi gue menemukan dia menangis diam-diam sepanjang perjalanan pulang.
Dia terus bilang ke
gue, gue baik-baik aja kok, Rik, tapi di balik itu, gue tahu semuanya. Gue
tahu, tetapi nggak bisa berbuat apa-apa. Sama seperti ayahnya yang hanya bisa
memperhatikannya dengan putus asa, kita semua berpura-pura mengikuti caranya,
beranggapan semua udah lewat dan nggak perlu diungkit lagi. Lalu, ayahnya menikah lagi, dengan wanita
yang ditemuinya di toko suatu hari. Freya tersenyum di setiap foto pernikahan
mereka, membawa buket bunga cantik yang dirangkainya sendiri, tampak seperti
anak perempuan paling bahagia di dunia. Namun, sekali lagi gue tahu, dia
sebenarnya lebih sakit hati dari itu. Dia diam saja, dan di antara kami seperti
ada perjanjian tak tertilis untuk berpura-pura bahwa semua lancar apa
adanya. Seiring waktu, saat SMU, Freya
berpacaran dengan Moses dan berteman dengan Anggia. Anggia adalah satu-satunya
teman perempuan Freya; bagaikan langit dan bumi, gue juga bingung kenapa mereka
bisa berteman. Freya bilang, Anggia adalah satu-satunya orang yang nggak
melihat dia karena dia pintar, karena dia tinggi, atau apa pun itu. Mereka
hanya cocok, itu saja.
Sejak saat itu,
Freya sedikit lebih terbuka, lebih banyak bicara. Dia tampak lebih happy,
lebih... apa ya? Normal. Gue cukup
senang karena Anggia yang riang dapat mengundang sisi itu dalam diri Freya
walau Moses sepertinya terlalu protektif dan kaku untuk dapat membahagiakan
Freya. Dan, diam-diam, gue kecewa... karena mungkin dulu gue terlalu pengecut
untuk lebih menyelami hatinya atau mencoba menyembuhkan lukanya. Akhirnya, gue melihat dia hari ini, berdiri
di samping Anggia dan Adrian, mengobrol dengan mereka. Ibu Adrian baru saja
meninggal beberapa saat lalu, dan gue merasa melihat sesuatu yang lain di mata
Freya. Rasa kesepian yang dulu
disimpannya rapat-rapat, yang nggak bisa diganggu-gugat orang lain dan nggak
bisa dikorek oleh siapa pun, menguap sedikit demi sedikit. Dia terlihat lebih
manusiawi, terbuka, lepas....
Satu lagi. Gue melihat matanya mengekori sosok Adrian. Mungkin terlalu prematur bagi Anggia dan
Moses untuk merasakan apa-apa mengenai kedua orang yang dulunya nggak dekat
itu. Namun, entah mengapa... gue khawatir. Mereka lebih dari dua orang yang
sama-sama suka musik rock dan buku silat seperti yang gue bagi dengan Freya
selama delapan tahun persahabatan kami.
Freya sendiri tampaknya nggak menyadarinya. Karena itulah, gue
khawatir. *** ANGGIA POV
Sudah lewat kurang-lebih seminggu sejak ibunya Adrian meninggal karena
kecelakaan. Aku masih ingat malam itu, bagaikan baru terjadi kemarin. Malam itu, ayahnya turun tangan mengurus
masalah pemakaman, sedangkan kakak laki-laki Adrian sibuk
menenangkan para sanak saudara yang berkumpul di rumah
sakit. Adrian diam menggenggam tanganku, tanpa berkata apa-apa, hanya mencium
aroma rambutku sambil termenung hingga subuh. Dia nggak menangis walau kuliht
matanya merah menahan air mata. Entah
kenapa, aku sulit melupakan ekspresi wajahnya yang seperti itu. Sudah seminggu, tetapi dia masih tetap seperti
Adrian pada malam itu. Sore ini kami
nongkrong di Kedai Cumi, tempat kencan favorit kami sepulang sekolah. Namun,
mood-nya sama-sekali berbeda dari kencan-kencan kami yang biasa. Aku duduk di
seberangnya, mencoba menikmati pekatnya mi yang sudah disajikan. Mi berwarna
hitam yang dijual di Kedai Cumi itu adalah makanan favorit Adrian. Dia makan mi
ini saat sedang merayakan sesuatu, saat berduka, saat bosan, saat lapar... Sekarang pun dia masih makan dengan
lahapnya, menyumpit mi yang berminyak dan berlumur tinta cumi-cumi itu dengan
nikmat.
Aku sendiri nggak
nafsu makan, hanya sesekali mencoba menelan daging yang terasa hambar. Padahal,
biasanya kami bisa menyantap lebih dari dua kotak mi sendirian, bahkan kadang
sampai berebut. "Aahh...."
Adrian menyeruput es tehnya dan bersendawa sekali, keras. "Enakkk....
seperti biasa." Seperti biasa.
Kata-kata itu berdengung di kepalaku. Biasanya, Ibu Adrian akan memasakkan
masakan kesukaan anak bungsunya setiap malam. Sekarang, mereka lebih sering
memesan takeaway dari luar, atau Mbok Rumi yang memasak seadanya karena ayah
dan kakak Adrian jarang pulang. Aku tahu. Aku tahu. Walau Adrian nggak pernah
bilang. "Anggia?
Kenapa?" Aku tersentak. "Eh.
Iya, lumayan," jawabku sekenanya. "Udah belajar buat ulangan
besok?"
"Belum," responnya dengan mulut penuh mi.
"Nanti aja, deh. Kemaren kita juga udah dapet kisi-kisi, kan." "Kalau gitu, aku datang ke rumah ya
nanti malam. Kita belajar bareng... sekalian aku buatin makan malam.
Oke?" "Mbok Rumi masak,
kok." Dia berkilah. "Nggak
sehat kalau setiap hari kamu cuma makan gorengan... malah kadang nggak ada
sayurnya." Aku memulai dengan khawatir. "Apa jadinya kalau setiap
hari kamu bergadang sampai malam, terus telat bangun dan lupa sarapan? Siang
makan nggak sehat, malam juga begitu...."
Adrian hanya terkekeh. "Tenang aja, aku banyak stok
makanan." Aku merengut. Stok
makanan yang dimaksudnya adalah snack cepat saji yang disimpannya dalam lemari,
begitu banyaknya sampai sering disemutin karena Adrian teledor dan lupa
menghabiskannya. "Junk food
lagi... nggak sehat...." Aku kembali mengomel.
"Aku masak aja ya nanti malam.. spaghetti kesukaan kamu." Aku mendadak terdiam, merasa telah
mengatakan sesuatu yang salah. Adrian jarang memesan spaghetti ke mana pun kami
pergi. Dia bilang, buatan ibunya yang paling enak. Namun, Adrian terus melanjutkan makan,
bahkan mengambil bagianku yang tak habis, dan masih memesan seporsi mi lagi
tanpa banyak komentar. Seakan nggak ada
yang salah. Itu masalahnya. Adrian
selalu bertindak seolah-olah nggak ada yang salah. Aku gemas sekaligus serbasalah melihatnya.
Dia tampak tenang, tetapi aku tahu dalam lubuk hatinya dia pasti menyimpan
seribu satu emosi yang enggan diluapkannya padaku, dan aku khawatir akan
melukainya kalau bertanya. Kian hari, dia makin cuek dengan dirinya sendiri,
tenggelam dalam kepura-puraan yang diciptakannya, seperti sekarang ini.
Kubelai rambutnya
yang mencuat ke luar dari topi baseball merahnya. Matanya merah karena kurang
tidur. Tubuhnya kurus dan mukanya pucat, tanda-tanda kurang istirahat.
"Aduh..." aku bergumam, lebih kepada diri sendiri, "pasti kamu
tidur tengah malam lagi, ya."
"Hmmmm."
"Padahal, kita lagi musim ujian. Sebentar lagi, ujian nasional,
harus banyak-banyak belajar.... Eh, aku punya ide, gimana kalau kita ajak Moses
dan Freya belajar bareng? Lusa aku ajak mereka ke...." Adrian membanting sumpitnya dengan kasar,
lalu menepis tanganku yang sedang membelai kepalanya. Dia nggak memandangku.
"Ayo, kita pulang." "Kamu
kan belum selesai makan.... Porsi kedua belum datang.."
"Kita pulang." Nada itu tegas. Absolut. Nggak bisa
dibantah. Sama-sekali bukan seperti Adrian. Aku nggak kenal Adrian yang seperti
ini. Dia melemparkan beberapa lembar
uang puluhan ribu ke atas meja, dan berjalan ke luar. Awalnya, aku diam saja, masih
kaget karena dia nggak pernah begitu sebelumnya, tapi lalu kusadari, kalau aku
tetap di sana, dia benar-benar akan meninggalkanku. Aku bergegas menyusul. "Yan, kamu kenapa sih?" Dia nggak memedulikan seruanku, hanya masuk
ke mobil dan langsung melaju kencang ke arah rumahku yang nggak jauh dari sana.
Mobil berhenti di depan pagar, mesin menderu-deru diiringi derak jam digital di
dashboard mobil. "Ada apa?"
tanyaku lirih, takut mendengar jawabannya.
"Turun." Perintah itu mengejutkanku. "Aku mau
pulang."
Dadaku terasa sesak,
dan aku tahu sebentar lagi air mata akan turun. Aku memandang Adrian, yang
masih menunduk, menyembunyikan wajahnya dariku. Aku ingin tahu apa yang dia
rasakan; aku sungguh-sungguh ingin tahu. Hanya saja aku bingung bagaimana harus
bertanya. Akhirnya, aku membuka pintu
mobil dan melangkah ke luar. Air mata sudah mengalir bebas di wajahku, dan aku
benci diriku karena begitu cengeng dan penakut. "Aku ada di sini
seandainya kamu butuh seseorang untuk berbagi." Aku berkata padanya
sebelum menutup pintu mobil. "Hati-hati di jalan, ya. Aku sayang
kamu." Pintu mobil dirapatkan. Aku
terdiam sambil berdiri di depan pagar rumah, merasa kebas dan tidak
diacuhkan. Mobil itu melaju pergi. Aku ada di sini, Yan. Aku ada di sini. ***
ADRIAN POV Gue menyetir keluar (ralat: mengebut) dari
kompleks perumahan Anggia. Sekilas, teringat akan bulir-bulir air mata yang
turun di pipi Anggia, ekspresinya yang terkejut. Mungkin dia kaget karena gue
udah dengan ringannya menyuruh dia turun dari mobil, sesuatu yang nggak pernah
gue lakukan sebelumnya. Gua nggak
pernah sekasar itu sama cewek, apalagi sama Anggia. Gue juga nggak tahu jelas kenapa gue bisa
mengusir dia seperti itu. Gue hanya tiba-tiba marah karena Anggia kedengeran
mirip Nyokap, melakukan hal-hal yang biasanya Nyokap lakukan, dan semua itu
mengingatkan gue akan satu fakta yang menyakitkan: nyokap gue udah tiada. Anggia nggak akan pernah ngerti rasanya
kehilangan orangtua, apalagi Nyokap yang paling gue sayang. Nyokap yang melahirkan
dan menuntun gue ke sekolah waktu kecil, menunggu sampai gue berhenti menangis,
dan menjemput gue tepat waktu. Nyokap yang paling ngertiin
gue, nggak pernah marah meskipun nilai ujian gue hasilnya telor bebek semua,
dan gue lebih seneng main basket dan game daripada belajar. Nyokap cuma pernah
bilang sekali, waktu gue diancam nggak naik kelas enam SD, Adrian, Mama pasti
akan kecewa sekali kalau kamu nggak naik kelas. Nada suaranya waktu itu lembut,
tanpa penekanan, nggak ada paksaan. Hanya ungkapan bahwa beliau kecewa. Sejak
saat itu, gue bertekad akan lulus dengan nilai baik... walau baik bagi
kapasitas gue hanyalah nilai pas-pasan. Gue nggak bisa liat beliau kecewa. Dalam hidup gue, Nyokap adalah nomor satu,
lebih dari anggota keluarga gue yang lain. Gue ngerasa beliau udah ngorbanin
segalanya untuk anak-anaknya dari berhenti bekerja untuk mengurus gue dan
Abang, juga menyimpan perasaannya rapat-rapat walau empat tahun lalu
perkawinannya di ambang perceraian karena Bokap ketahuan selingkuh. Nyokap
tetap bersikukuh untuk mempertahankan keluarga kami. Lalu, tiba-tiba Nyokap pergi begitu aja.
Tanpa peringatan. Gue masih inget, beliau janji akan masak makanan kesukaan gue
dan ajak kami sekeluarga liburan ke luar kota kalau gue lulus ujian nasional.
Tapi, apa sekarang beliau masih mampu memenuhi janji itu?
Gue benci kalau gue diingatkan, teringat, dan mengingat
segala sesuatu tentang Nyokap. Gue benci, tahu bahwa Nyokap nggak akan kembali
lagi ke sini, seingin apa pun gue ketemu dia lagi. Gue juga benci karena gue
bersikap biasa-biasa aja, padahal seharusnya gue merasa sedih sampai mau
mati. Barusan, Anggia ngingetin gue
supaya rajin belajar, jangan tidur larut malam, jangan makan sembarangan. Gue
tau dia khawatir. Sejak minggu lalu, dia selalu mengikuti gue ke mana-mana
dengan pandangan itu. Itu, pandangan penuh simpati dan khawatir dan KASIHAN
yang semua orang berikan ke gue. Gue muak dengan pandangan itu. Anggia juga
menelepon gue tiap sejam sekali kalau gue nggak lagi bareng dia, hanya untuk
nanya apa gue baik-baik aja. Seharisnya,
gue bersyukur dan seneng diperhatiin seperti itu. Apalagi, gue memang suka jadi
pusat perhatian. Tapi, gue nggak suka dengan perlakuan semua orang yang
berbeda. Moses yang menepuk pundak gue dan secara langsung ingin bilang, gue
turut simpati dengan kehilangan lo. Teman-teman sekelas yang membuat kartu duka
cita dan membawa rangkaian bunga ke pemakaman. Sanak saudara yang menangis,
mengenakan baju serbahitam, nggak henti-henti menyusut air mata. Bahkan, Anggia
juga begitu. Satu
orang yang gue harapin untuk paling mengerti gue justru
malah bereaksi sama seperti orang lain.
Hanya satu orang yang menatap gue dengan sorot biasa. Hampa. Seakan
mengingatkan bahwa dia pernah ngerasain hal yang sama. Bahwa dia mengerti. Adrian, jangan pernah menyakiti hati seorang
wanita. Ingat itu. Sesal mendera saat
mengingat Nyokap pernah bilang begitu. Waktu itu, gue anggap lalu ucapannya,
menganggap peringatan itu terlalu berlebihan. Tapi, Anggia... dia yang menangis
dan terus berusaha mengulurkan tangannya kepada gue. Akhirnya, gue kalut dan membanting setir,
memutar mobil untuk kembali. Mobil berhenti di tempat yang sama. Anggia masih
berdiri di depan pagar, satu tangan menggenggam kunci erat-erat, pundaknya yang
mungil berguncang oleh tangis. Gue turun dari mobil dan menarik Anggia dalam
pelukan, merasa menjadi pria terberengsek sedunia.
"Maaf, Anggia," gue berbisik, "maaf... gue
bodoh, jahat, kasar. Gue salah. Maaf."
Anggia nggak berkata apa-apa, hanya memeluk gue lebih kencang dan
membenamkan wajahnya di dada gue, menangis tersedu-sedu. Gue hanya bisa balik
memeluknya. *** ERIK POV
Sabtu!!!! Hari kebebasan saat
gue bisa main bola seharian, nonton TV sampai mata sepet, tidur males-malesan
dan nggak usah pusing tentang PR Fisika atau Kimi yang bikin otak ngejelimet.
Malam ini, gue diculik Freya ke acara movie weekend mereka, duduk di sampingnya
yang sedang asyik menyantap nachos keju. Katanya, hari ini mereka mau mencoba
cinema baru di tengah kota, yang menawarkan konsep mewah, pelayanan serba
berkualitas, studio yang lebih besar, dan janji kepuasan yang lebih tinggi.
Gue dateng karena:
1. Freya bersikeras mengajak gue ikut 'berpetualang' di tempat baru. 2. Plus
diam-diam sebenarnya udah cukup lama gue pengin ke sana. 3. Ditraktir. Padahal, gue paling males berbaur dengan
mereka saat sesi double date kayak gini, apalagi berinteraksi dengan Moses yang
superkaku atau Adrian yang nempel 24 jam sama Anggia, seperti kembar siam.
Namun, apa boleh buat, kehadiran gue diinginkan di sini. "Kita nonton film drama aja, yah.
Please, please, please." Anggia setengah merengek. Masalahnya kalau lagi nonton bareng adalah:
Moses cuma suka film berbau teknologi dan teka-teki, kayak Da Vinci Code yang
ditontonnya berkali-kali, sedangkan nonton sekali aja film itu udah bikin gue
mumet. Sementara Anggia sukanya nonton rom-com, segala sesuatu yang romantis,
dan Adrian lebih gemar dengan film komedi yang menyenangkan. Gue? Gue suka
banget segala sesuatu berbau ekstrem-action yang
mendebarkan, horor yang bikin penonton teriak-teriak dan
saling menyambar teman nontonnya dengan malu- malu mau, dan film perang yang
heroik. Makin banyak darah dan kesadisan yang terlibat, semakin seru gue
tonton. Kalau Freya, dia lebih sering masa bodoh dan ikut aja dengan maunya
yang lain. Bukannya nggak punya
pendirian, dia sering bilang, tapi diplomatis.
Moses masih enggan melepaskan pilihan filmnya. "Film drama
membosankan. Sesekali, kita nonton sesuatu yang edukatif kan nggak ada
salahnya. Sayang kan, kita coba bioskop baru, tapi filmnya film
rumahan." Anggia menjulurkan
lidah, menarik tangan Adrian supaya berpaling dan mendukung film romantis.
"Yan, ayo dong... banyak yang bilang film itu bagus.... Freya juga suka
film drama, iya kan?" Freya
mengangkat bahu, acuh tak acuh.
"Ada sepuluh film yang ditayangin hari ini, tapi kok
semuanya berebutan sih?" Sekilas, ia menyenggol kakiku di bawah meja.
"Erik, lo mau nonton apa?"
Kalau boleh milih, gue mau nonton installment terbaru dari franchise
film SAW, yang terkenal sadis, gory, penuh darah, dan segala hal mengerikan
lainnya. Tapi, gue tahu, Freya benci film aneh yang nggak make sense dan sadis.
Melumpuhkan mental bangsa, katanya, setiap kali gue minta ditemenin nonton.
Daripada kena jatah ngambeknya Freya, akhirnya gue menjawab diplomatis ala
sahabat gue tersebut, "Terserah Freya aja deh, dia kan yang paling
netral." Semua pasang mata menatap
Freya. Yang ditatap celingak-celinguk mengintip jadwal film. "Ya udah,
kita nonton drama aja." Anggia
terpekik senang karena film pilihannya yang dipilih Freya, sedangkan Moses
geleng-geleng kepala pasrah. Gue setengah kecewa karena film indie asal Prancis
yang dipilihnya, film yang promosinya nggak gembor-gemboran dan hampir nggak
dikenal sama- sekali. Yaaahh..., seenggaknya aktris utamanya cantik.
Adrian nggak merespons apa-apa. Padahal, Freya kerap kali
mengeluh, tiap kali mereka berempat janjian nonton, Adrian yang paling egois
selalu maksa ingin nonton film action. Karena sering berargumen mengenai
pilihan film, akhirnya mereka berempat lebih sering nongkrong di cafe untuk
menikmati live music. Mungkin dia
pengin nyenengin Anggia. Mungkin
sebenarnya dia selama ini cuma pura-pura macho, padahal suka banget film
manis. Mungkin dia lagi fall in
love. Mungkin. Akhir-akhir ini, perasaan gue mengenai
Adrian-Freya makin nggak bener. Memang mereka masih kayak dulu, jarang
berbincang, apalagi ngobrol lama. Hanya sekedar sapaan hai jika berpapasan di
lorong sekolah, atau senyum simpul basa-basi. Namun...., entah gimana gue harus
menjelaskannya.
Ada sesuatu yang terasa janggal di antara mereka. Dan, hanya
mereka yang tahu. Anggia tampak sama-sekali nggak sadar, dan Moses bukan tipe
orang yang cukup sensitif untuk merasakan hal semacam itu. Freya bangkit berdiri, disusul yang lain.
"Yuk, kita beli tiket." Moses menawarkan diri untuk mengantre,
sedangkan kami berempat menuju counter yang menjual snack. "Popcorn!!!" Anggia langsung
memesan sekotak popcorn karamel manis. Adrian merengut. "Yang asin aja, Nggi, popcorn asin
extrabutter lebih mantep." Anggia
cemberut, bergelayut manja di lengan Adrian. "Yang manis aja Sayang, aku
suka.." Freya menghela napas
sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan. "Kita beli sekotak
yang manis, sekotak yang asin. Moses juga suka popcorn karamel."
"Kalo Erik, suka yang mana?" Anggia bertanya manis
kepada gue, yang sekilas salah-tingkah ditembak begitu. "Alergi jagung." Gue menjawab
asal, dan Anggia tertawa. Freya tersenyum maklum, mungkin bosen dengan guyonan
gue yang standar. Dia sering mengeluh kalau gue mulai melontarkan candaan yang
kelewat narsis atau jorok. Udah itu-itu doang guyonnya, jayus lagi, pujinya.
Kejam. Kami menuju studio film.
Sekilas, gue menangkap Adrian melirik ke arah Freya, lalu tersenyum. Freya
tersenyum balik. FREYA POV Life is not
the amount of breaths you take, it's the moments that take your breath away.
-The Hitch- *** Aku berdiri di depan sebuah kotak besar yang
berisi puluhan buku lama, berimpitan dengan ratusan
pengunjung lain yang memenuhi lokasi bursa buku murah di
sana. Hari ini, tahap pertama ujian akhir baru selesai, dan Anggia mengusulkan
kami hunging buku diskonan sebagai aksi balas dendam selepas ujian yang
menurutnya memperlemah kinerja otak.
Moses sudah menghilang di balik rak buku Biologi yang digemarinya.
Anggia melesat ke arah novel-novel remaja yang sedang sikon 50%. Aku berkutat
di tengah ruangan, mencoba tak terdorong oleh pengunjung yang seenaknya
menginjak kaki orang dan ikut memilih komik murah di sekitarku. Panas sekali. Pengap. Sesak. Sudah ada
antrean panjang di kasir, sedangkan aku malah nyasar sendirian di kerumunan
orang asing. Komik Tapak Sakti yang kucari-cari masih juga belum lengkap
nomornya. Tiba-tiba, seseorang menoel
pundakku. Adrian. Dia sedang tersenyum lebar, memegang nomor lima yang sedang
kucar-cari sejak tadi. "Wah!
Makasih!" Komik ini sudah jarang terbit dan cukup mahal, tapi di bursa
buku, harganya jadi sangat murah. "Memangnya, lo nggak mau beli?"
Adrian berdiri di
sampingku, tangannya masih iseng mengubek-ubek isi kotak untuk buruan
selanjutnya. "Lo aja yang beli, nanti gue tinggal pinjam." "Sialan." Dasar pelit. Dia ikut tersenyum, tidak sadar aku sedang memperhatikannya.
Sudah sebulan lebih sejak kepergian ibunya, dan Adrian masih seperti biasa.
Kadang aku memergoki dia sedang bengong sendirian. Selebihnya, dia masih Adrian
yang ceria. Anggia juga bilang bahwa Adrian tidak banyak cerita tentang ibunya,
dan mereka jarang membicarakannya. Katanya, dia tidak mau melukai perasaan
Adrian. Adrian sepertinya berkata
sesuatu, tetapi suaranya kurang jelas karena kebisingan di sekitar kami.
"Apa?" Aku mencondongkan tubuh ke arahnya, tapi tiba-tiba seorang ibu
dan tiga anaknya lewat dengan keranjang penuh, membuatku terdorong dan hanpir
kehilangan keseimbangan.
Adrian dengan sigap menyambar dan menarikku hingga tubuhku
terhempas ke tubuhnya. "Hati-hati, dong," sahutnya kepada tiga anak
bandel yang cengengesan sambil memeluk buku bergambar mereka. Dia tidak langsung melepasku. Pelukannya
hangat; telapak tangannya menekan punggungku dengan lembut, seolah ingin
mendorongku lebih dekat—walau jarak di antara kami sudah terlalu dekat.
Samar-samar, aku bisa mencium aroma cologne yang maskulin, campuran antara
esensi wood dan rempah. "Kalau
sudah begini, rasanya nggak pengin gue lepasin lagi." Jantungku terasa berhenti berdetak. Aku
pasti salah dengar. Pasti. Aku
melepaskan diri dari pelukannya dan menepis tangannya yang masih mencekal
lenganku, takut aku jatuh. Jantungku berdebar tak keruan. "Thanks."
Aku berkata, sadar betul bahwa suaraku bergetas. Aku mencoba menutupinya dengan
tawa gugup, tetapi terdengar dipaksakan.
Aku menggumamkan
alasan tentang mencari Moses untuk membayar, atau apalah, aku tidak ingat
jelas. Namun, aku ingat berbalik pergi dan meninggalkannya sendirian di sana,
tanpa jawaban. *** ADRIAN POV
Gue dududk di balkon sambil merokok. Sebentuk asbak bulat gue letakkan
di samping, menampung entah berapa tumpuk abu dari sesi merokok berkepanjangan
sejak tadi sore. Belakangan ini, banyak
yang berubah. Bukan hanya Nyokap yang nggak ada. Bayangan beliau yang melewati
kamar gue sambil negur supaya gue nggak main PS seharian masih sering
menari-nari di pikiran. Barang Nyokap sudah dipak dan disumbangkan, hanya
sebotol parfum milik beliau yang gue simpan di lemari, menyisakan kenangan akan
harum Nyokap yang selalu gue suka. Bahkan, bau Nyokap di rumah udah memudar,
digantikan kekosongan.
Bokap masih sibuk di
ruang kerjanya; akhir-akhir ini beliau sering lembur sampai malam, entah
mengerjakan proyek apa. Sering kali, pintunya tertutup, tapi gue tahu Bokap
bukan sedang melukis, tetapi merenung.
Abang gue juga mulai jarang pulang, lebih sering menghabiskan waktunya
di kosnya di Depok, yang dekat dengan kampusnya. Di rumah, hanya ada Mbok Rumi,
yang masih setia mengurusi dan memasak makanan kesukaan kami walau kami jarang
makan di rumah. Kadang Mbok juga memasak makanan kesukaan Nyokap. Bukan hanya keluarga gue yang berubah. Gue
sadar, gue juga mulai beruibah.
Terhadap Anggia, terutama. Setiap dia melihat gue, gue merasa dia
canggung dan takut. Takut salah ngomong, takut bakal gue bentak lagi. Dia begitu
ingin gue berbagi, tapi gue nggak bisa. Gue nggak bisa cerita ke Anggia seperti
dulu lagi. Pernah sekali, gue coba cerita tentang rasa kehilangan gue, tapi
yang gue lihat di matanya cuma satu: kasihan. Simpati. Cuma itu. Gue tahu dia
ingin memeluk gue dan bikin semua kesedihan gue lenyap, tapi dia sama-sekali
nggak ngerti.
Anggia nggak akan
ngertin bahwa dengan kepergian Nyokap, semuanya berubah. Anggia nggak ngerti
bahwa gue butuh waktu untuk diri gue sendiri, untuk menyembuhkan diri, walau
nggak mingkin seratus persen. Yang dia paham dan harapkan dari gue adalah,
pelan-pelan gue akan mengatasi kesedihan ini dan kembali ke diri gue yang dulu.
Raut wajahnya bilang dia ingin gue begitu. Jadi, gue lbih sering berpura-pura
nggak terjadi apa-apa. Gue pikir, gue
udah terlalu nyaman dengan Anggia. Gue pikir, gue nggak akan pernah pasang
topeng di depan dia. Dari dulu, dia melihat gue apa adanya, baik sedih maupun
senang. Namun, sekarang gue nggak bisa begitu. Kalau gue sedih, dia akan
menyalahkan dirinya karena nggak bisa mengerti gue. Dan, ada Freya. Malam itu, dia memeluk gue.
Gue masih inget perasaan gue saat it. Waktu itu, gue nggak bisa mikir; yang ada
di otak cuma suara yang mengingatkan kalau Nyokap udah nggak ada, begitu
berulang-ulang seperti gema. Gue pengin teriak supaya suara itu bungkam, tetapi
yang ada, gue malah ngerasa hilang. Hampa.
Pelukan Freya yang membuat gue sadar, gue nggak sendirian.
Hangat. Tatapannya mengandung kesedihan yang sama. Dia mengerti. Apakah tiba-tiba menyukai seseorang karena
dia mengerti itu salah? Apa menyimpan perasaan yang lain untuk seseorang yang
selama ini nggak gue perhatikan itu mungkin? Kenapa sekarang gue nggak bisa
memperlakukan Anggia seperti dulu? Gue
bingung. Tadi siang, di bursa buku, gue keceplosan mengatakan sesuatu yang
membuat Freya kaget. Gue tahu sampai sekarang dia menghindari gue. Tadi, dia
langsing tersenyum kaku dan mencari Moses, pulang tanpa bicara sepatah kata
lagi. Apa gue salah? Kalau gue ngomong yang sebenernya... apa gue
salah? ***
Gue meraih telepon, lalu menekan nomor yang barusan gue
temukan di buku tahunan sekolah tahun lalu dengan perasaan galau. "Halo." Suara Freya agak
menggumam, seakan baru terbangun dari tidur. "Halo?" ulangnya ketika
gue nggak segera menjawab. "Ini
gue. Adrian." Freya terdiam beberapa
saat hingga akhirnya menjawab ragu. "Ada apa?" Gue memaki-maki diri sendiri dalam hati,
tiba-tiba lupa mau bicara apa, padahal tadi rangkaian kata sudah gue susun
sebagai persiapan. Gue bagaikan lupa pada skrip dialog penting sebuah drama,
lupa sebait lirik lagu saat menyanyi. Semua jadi kacau-balau. "Emmm. Tentang tadi sore...." Gue
memulai, mencoba menyusun kata yang ingin gue sampaikan. "Oh."
Oke. Freya ingin gue
yang melanjutkan. Blank. "Yang gue
bilang tadi sore...." Sekali lagu gue mengutuk diri, skenario gagal total.
"Komiknya ketinggalan." Akhirnya, gue menyelesaikan kalimat dengan
sesuatu yang sama-sekali berlawanan. Sial. Nggak biasanya gue begini. "Oh." Lagi. "Anggap aja gue
pinjemin. Lo telepon cuma untuk bilang itu?" Bukan, gue membatin. Ada hal lain yang lebih
penting. Yang ngeganggu tidur dan mengusik ketenangan gue akhir-akhir ini.
Kejujuran yang entah terkuak sejak kapan, tapi nggak mau pergi lagi. Yang udah
mengetuk pintu hati gue, tapi enggan benar-benar masuk. Gue ingin cinta itu
masuk. Gue pengin bilang, sepertinya
gue jatuh cinta sama lo. Gue pengin bilang, sepertinya lo orang yang gue cari
selama ini, secara nggak sadar. Tapi, gue juga takut akan perasaan yang
sama-sekali baru ini. Gue takut merusak segalanya, nggak tahu gimana harus
bertindak
tanpa menyakiti semua orang. Gue ingin jujur, tapi ditilik
dari reaksi Freya tadi, sepertinya misi ini nggak mudah. Lagi pula, gue nggak ingin jadi lebih
berengsek lagi dari ini. Nggak boleh dan nggak sepantesnya gue bilang suka sama
Freya saat masih berhubungan dengan Anggia. Sementara Freya masih pacaran sama
Moses. Siapa sih yang sebodoh itu sampai bilang hal semacam itu ke sahabat
pacarnya sendiri? Nggak aneh kalau Freya lari tunggang-langgang begitu
mendengarnya. Orang normal mana pun akan berbuat sama. Iya, kan? Masalahnya, dan lebih gawatnya lagi, gue
sama sekali nggak main-main. Kata-kata yang spontan gue ucapkan tadi, dan masih
gue sesali, datangnya dari hati.
"Gue..., kayaknya pengin udahan sama Anggia, Frey." Gue
akhirnya berkata lagi, lebih pelan. Separuh lega telah mengungkapkannya kepada
Freya dan secara nggak langsung mengungkapkan perasaan gue juga, separuh lagi
merasa menjadi orang terjahat di dunia.
"Apa?" Freya tersedak napasnya sendiri, kaget. "Kenap?
Bukannya selama ini kalian baik-baik aja?'
"Justru karena
terlalu baik-baik aja." Gue mengaku. "Gue cerita karena anggap lo
sebagai salah satu teman gue, jadi tolong dengerin dengan objektif. Gue nggak
bermaksud nyakitin Anggia....."
"Lo sayang Anggia?" Hanya satu pertanyaan Freya, seakan mau
memastikan alasan dari pernyataan aneh yang barusan dia dengar. Adrian dan
Anggia? Pasangan paling top di sekolah. Apa kata dunia kalau mereka sampai
putus? Ya, ya, ya, gue ngerti semua orang pasti akan bilang begitu. "Gue sayang. Dulu..., gue jatuh cinta
sama Anggia. Sekarang pun, gue masih sayang dia, tapi rasa itu lebih mirip rasa
untuk seorang sahabat dekat yang punya banyak kesamaan. Sayang gue ke dia
sekarang seperti itu." "Apa
lo tahu, gimana sayangnya Anggia sama lo?" Suara Freya tegas, marah,
bahkan. "Lo pasti tau. Dan, sekarang lo mau putusin dia dengan alasan
standar seperti itu? Lo bilang lo nggak cinta dia lagi?"
Gue mendesah. Freya salah paham. Gue salah langkah. "Lo
sayang Moses, Frey?" Freya diam
sebelum menjawab. "Ya."
"Kenapa?" Ganti Freya
mendesah keras. "Memangnya, kenapa?"
Karena penting bagu gue untuk tahu apa lo bener- bener menyanyangi dia.
Bahwa feeling gue kalau lo berdua nggak cocok itu bener. Tapi gue nggak bisa
mengatakan itu. Jadi, gue nanya, "Lo bener-bener sayang Moses?" Suara Freya bergetar karena amarah.
"Gue dan Moses nggak ada hubungannya dengan lo dan Anggia." "Jawab aja, Freya."
"Ya, gue sayang Moses." Akhirnya, dia menukas
mantap. "Tapi, ini bukan urusan lo. Sori, gue nggak punya waktu untuk
ngobrolin cara-cara lo mutusin Anggia sepihak." Telepon dibanting. Ya..., gue memang
berengsek. Gue akui itu, tapi akan lebih berengsek lagi kalau gue sampai menipu
Anggia dengan perasaan palsu, dan selebihnya, menipu diri sendiri. Iya, kan? ANGGIA POV Love is a tiny elf dancing merry little jig,
and suddenly he turns to you with a machine gun. -Unknown- ***
Malam ini terang sekali. Langit memang tanpa bintang, tapi bulan purnama
lebih terang dari biasanya. Aku duduk di samping Adrian yang sedang menyetir,
mendengarkan lagu jazz di radio.
Aku paling suka
duduk dalam mobil Adrian, dengan wangi aromaterapi lemongrass yang dipasangnya
di dashboard. Adrian sering menggenggam tangan kananku, sebelah tangannya di atas
kemudi. Dan, dalam perjalanan, kami akan mengobrol seru tentang apa saja, dari
kesukaannya makan, kejadian seru di sekolah, penggemar rahasia yang masih
sering meninggalkan surat di loker, sampai rahasia paling memalukan yang bahkan
Freya pun nggak tahu. Namun, hari ini
ada yang lain. Bukan hanya hari ini, tapi beberapa minggu ini. Dia terus menatap lurus ke jalan, kedua
tangannya mencengkeram setir dengan erat. Dia terlalu fokus pada jalan, tanpa
menoleh sedikit pun atau berusaha membuka pembicaraan. Mungkin dia khawatir dengan hasil ujiannya.
Aku tahu Adrian bukannya belajar semalaman suntuk seperti kami semua, tetapi
merokok di balkon sambil baca komik. Dia memang biasanya jarang peduli dengan
pelajaran, tapi nggak pernah senekat itu sampai nggak belajar di malam sebelum
ujian.
Aku merasa dia
berubah. Kami mulai jarang jalan bareng; dan kalau lagi pergi bareng, Adrian
lebih sering cuek atau bengong. Sepertinya, ada sesuatu yang terus- menerus
dipikirkannya, dan kalau ditanya, dia sering mengalihkan topik pembicaraan atau
nggak menjawab.
"Anggia." Aku meraih
tangan kirinya dari setir dan meremasnya penuh sayang. "Kenapa,
Sayang?" Adrian tersenyum sekilas.
"Nggak apa-apa." Kamu larut
dalam hening. "Nggi, kalau suatu
hari kita putus, gimana?" Buat
pasangan yang selama ini hubungannya selancar jalan tol, saling sayang dan
lebih dekat dari dua orang mana pun, pertanyaan ini nggak terdengar lazim di
telingaku. Tangan Adrian terasa dingin, sedingin pertanyaan
yang dilontarkan tiba-tiba itu.
"Maksudnya?" Aku harus bilang apa lagi? "Yaaah...., cuma nanya aja kok. Iseng
aja. Kalau suatu hari kita nggak bareng lagi, bakal gimana." Iseng. Hatiku perih mendengarnya walau yakin
dia hanya sedang bercanda. "Itu
hal yang nggak mungkin terjadi, kan?" Aku melempar balik pertanyaan itu
sambil memaksakan tawa. "Kecuali kamu nggak sayang lagi sama
aku." Adrian diam saja. "Nggak ada segala sesuatu yang pasti di
dunia ini, Nggi," ujarnya bijak. Padahal, buat Adrian segalanya biasa
mengalir apa adanya. Take it easy, dia bilang, ke mana pun hidup membawa.
"Kalau aku sih, pasti berusaha supaya kita nggak putus.
Kalau kita punya cukup komunikasi, rasa percaya, dan keinginan untuk
mempertahankan hubungan ini, semuanya pasti baik-baik aja. Semua tergantung
diri kita sendiri." Aku mulai
kedengaran seperti psikolog cinta yang berusaha meyakinkan diri sendiri. Tiba-tiba Adrian tertawa. "Kok, dibawa
serius sih, Sayang? Aku cuma bercanda." Dicubitnya pipiku lembut.
"Jangan banyak mikir... itu hanya sesuatu yang terlintas di pikiran, kok.
Everything's gonna be okay."
"Kamu sayang sama aku?"
Begitu sering dia mengucapkannya, tapi hanya sekarang ini aku benar-benar
memastikannya. "Sayang,"
jawaban itu terdengar otomatis, seperti program auto-default.
Aku tersenyum. "Aku juga sayang sama kamu." Di
dunia ini hanya Adrian yang Anggia sayang, dan aku bahagia.... Selamanya kita
akan seperti ini, kamu dan aku.
"Iya." Everything's
gonna be okay. Kata-kata itu membuatku
lebih lega. *** ADRIAN POV
Gue duduk di tepi ranjang, memperhatikan Anggia yang sedang mencari-cari
CD yang ingin dipinjamkannya untuk gue. Barusan gue mengantarnya pulang, dan di
perjalanan akhirnya gue bilang ke dia, akan gimana jadinya kalau kita
putus.
Kata putus itu udah sejak lama ada di ujung lidah, tetapi
gue selalu nggak bisa bilang apa-apa. Wajah Anggia langsung pucat begitu gue
tanya hal itu, dan dengan suara bergetar dia bilang bahwa dia yakin, kami
berdua akan selamanya begini; saling sayang, saling memiliki. Namun, gue nggak bisa lagi. Gue jenuh, entah
sejak kapan, dan baru gue sadari saat Freya mengisi kekosongan hati gue.
Mungkin Freya hanyalah orang yang tepat yang datang pada waktu yang salah; saat
gue masih bersama Anggia. Bukan salahnya. Bukan salah siapa-siapa. Cuma
perasaan-perasaan ini yang berubah, itu saja.
Gimana aku bisa bilang putus, Nggi, kalau kamu hampir menangis waktu aku
menanyakannya? Kamu tahu aku paling nggak bisa lihat kamu menangis. "Ketemu CD-nya?" tanya gue sambil
selonjoran. Nyaman sekali kamar ini, wanginya manis, seperti wangi yang gue
hirup setiap kali mencium tengkuk Anggia.
"Nih." Anggia menyerahkan CD tersebut, lalu berbaring di
samping gue; kami berdua memandangi langit-langit
kamar sambil berpegangan tangan. Kamarnya gelap, hanya
disinari lampu meja yang remang. Lagi-lagi, gue memikirkan Freya. "Yan." "Mmmm." "Aku sayang kamu." "Iya." Gue tau, Anggia..., gue tau
banget. "Yan." Dia
memanggilku lagi. "Mmmm." "Jangan pergi."
Kali ini, gue menoleh, nggak langsung menjawab. Kedua
matanya terpejam, tangannya menggenggam erat tangan gue, benar-benar enggan
melepaskan tautannya. Jangan pergi, dia
meminta. Jangan pergi. ***
ERIK POV Gue
tersedak lemon tea dingin. Airnya muncrat ke mana-mana, tapi Freya yang duduk
di hadapan gue masih tenang nggak bereaksi.
"Apa lo bilang tadi???"
Ini respons yang cukup histerikal, bahkan untuk standar gue. Freya malah
berkutat dengan bukunya, sama-sekali nggak melirik gue yang jelas-jelas
kelimpungan. Dia memang selalu enggan mengulang-ulang perkataannya, dan dia
tahu gue dengan jelas mendengar setiap kata yang diucapkannya barusan.
"Adrian bilang
suka ke lo?" Suara gue sekarang turun beberapa oktaf, hampir
berbisik. Dia mendelik kesal.
"Jangan ngomong sembarangan!" "Tapi, tadi lo bilang...." Freya mendesah keras-keras. Mencondongkan
badan ke arah gue dan balas berbisik, "Adrian dan gue nggak ada hubungan
apa-apa. Hanya teman, nggak lebih."
Gue pengin ketawa keras-keras. Ironis banget, sih. "Jadi yang
kemarin itu apa? Dia meluk lo karena kesandung? Dia telepon lo bilang mau putus
sama ceweknya karena lidahnya keseleo?"
Freya menggeleng. "Semua itu kesalahan besar." Nadanya tenang
dan kalem, bikin gue pengin mengguncang-guncang punggungnya dan berteriak di
mukanya, lo buta atau nggak punya perasaan? Secara nggak langsung, itu kan
bentuk pernyataan cinta paling penuh skandal yang terjadi tahun ini.
Namun, tiba-tiba,
gue nggak tertarik lagi dengan cerita heboh itu. Gue lebih tertarik dengan
objek lain: Freya, yang masih duduk dengan santainya di depan gue, seakan nggak
terjadi apa-apa. "Sebenarnya,
perasaan lo ke Adrian gimana sih, Frey?"
Kali ini giliran dia yang memucat. Satu hal: Freya SELALU pucat kalau
dapat pertanyaan yang nggak bisa dia jawab. Berani taruhan, kalau sedang minum,
dia pasti udah keselek dari tadi.
"Nggak ada perasaan apa-apa. Kan tadi gue udah bilang, kita cuma
temenan." Jawabnya sangat nggak meyakinkan. Gue pandangin dia sampai
gerah. "Apa sih, Rik? Nggak percaya? Bagian mana yang kurang
jelas?" Dua: Freya SELALU senewen
kalau dia sedang berusaha menutup-nutupi sesuatu dan hal itu biasanya semakin
membuat bohongnya ketahuan jelas.
"Ngaku aja deh, Frey, gue lagi males basa-basi. Kita
sobatan bukan sehari dua hari yang lalu, kali." Dia masih nggak mau ngaku. Oke. Saatnya
mencoba taktik lain. "Akhir-akhir
ini, gue ngeliat lo dan Adrian tambah dekat, terutama sejak nyokapnya
meninggal. Tapi, bukan cuma saat itu. Mungkin udah lama ya lo ngerasa butuh
orang lain selain Moses?" Freya meletakkan
bukunya di atas meja, tanda yes! strategi gue berhasil. "Lo pernah punya cinta pertama,
Rik?" Gue inget cewek manis saat
masih SD dulu. Dikuncir dua. Pita merah. Lesung pipit. Mematahkan hati gue demi
cowok bengal kelas sebelah yang punya mainan tamiya lebih keren. "Iya...,
lo inget Acha?" Pletak.
Disambitnya kepala gue dengan sendok. "Itu kan cinta monyet. Maksud gue,
cinta beneran. Saat lo
berdebar-debar kalau ketemu seseorang. Mau ngorbanin apa aja
buat orang itu. Yang paling penting, orang itu bahagia... walau lo
enggak." Anggia. Namun, subjek inti pembicaraan ini bukan
Erik, tapi Freya. Dan, gue nggak sedang ingin ber-mellow ria dengan topik cinta
gue yang bertepuk sebelah tangan. "Terus inti pembicaraan ini
apa?" Freya menunduk. "Gue
selalu merasa... Moses bukan cinta pertama gue, Rik." HAH?
Freya kini mendongak, memperhatikan perubahan mimik wajah gue dengan
serius. "Lo tau apa maksudnya, kan?"
Freya dan Moses jadian, bukan karena Freya jatuh cinta pada Moses.
Mungkin dia memang mencoba untuk jatuh cinta, tapi kalau sampai ngomong begitu,
artinya
percobaan itu masih belum berhasil. Moses bukan cinta
pertamanya, artinya hati Freya masih belum terbuka untuk siapa pun. Kecuali... Freya mulai membuka hati pada
Adrian. Itulah tepatnya kenapa dia bertele-tele mengenai konsep cinta pertama,
kenapa dia cerita tentang kejadian di toko buku dengan sedemikian detailnya.
Adrian bisa jadi cinta pertama Freya; itu kalau gue nggak salah menerka isi
hati Freya. Dan, biasanya..., gue nggak pernah salah. Shit.
*** FREYA POV Dering telepon yang berkepanjangan membuatku
terbangun dan bangkit dari tempat tidur. Menyeret sepasang kaki yang lemas ini
untuk menggapai telepon di atas meja.
"Haloo...."
"Freya." "Oh,
Anggia." Aku kembali merangkak ke balik selimut. Ah..., hangat rasanya.
Mau tidur lagi. "Ada apa?"
"Lagi pengin ngobrol aja.... Pasti lagi bobo siang, ya?
Mentang-mentang hari Minggu, kerjanya tidur terus. Keluar kek, rasain cahaya
matahari sore." "Duh,
ngocehnya panjang amat sih, Nggi. Bosen nih keluar terus, lagian lagi bokek,
jadi tidur aja di rumah," gumamku. "Lo sendiri di rumah
aja?" Anggia ketawa. "Ya gitu
deh." Suaranya kurang bersemangat.
"Kok, murung?"
"Semalam Adrian nanya..., gimana kalau kami
putus." Mataku terbuka. Adrian
bilang begitu ke Anggia? "Nggak
tahu maksudnya apa, Frey..., gue jadi nggak tenang." "Mungkin dia cuma bercanda,"
tukasku. "Dia kan sering begitu."
Anggia tertawa kecil. "Yah... mungkin. Tapi masa sih, bercanda
dengan topik serius gitu?"
"April Mop, kali," jawabku ngasal. "Yeee, ngigau. Sekarang bulan Juni,
Neng." Aku ikut terkekeh, tapi
pikiranku penuh. Kenapa sih Adrian harus makin merusakkan suasana? Sudah cukup
kami menganggap tidak ada yang terjadi hari itu, tapi
sepertinya dia ingin memulai permainannya sendiri. Semakin
lama permainan itu semakin tidak lucu.
Adrian dan Freya adalah dua hal yang tidak mungkin. Setiap kali aku teringat Adrian, selalu
wajah Anggia yang pertama kali muncul di kepalaku. Anggia yang setia menunggu
Adrian tiap kali dia latihan basket sambil meneleponku dan curhat. Pesta ulang
tahun kejutan tahun demi tahun, ciuman pertama, Valentine dan cokelat-cokelat
buatan sendiri, pergi jalan-jalan berdua. Anggia yang awalnya sering nangis
kalau tabiat cuek Adrian sedang kumat. Biasanya, dia akan lebih tenang, setelah
satu jam lebih curhat di telepon sambil sesenggukan, ditemani galonan es krim
dan tisu. Selama ini, aku mendengarkan ceritanya dari A sampai Z, seakan aku
sendiri yang menjalaninya. Dan, di mana komitmen yang sama dari Adrian?
Di mana rasa sayangnya, yang cuma sampai di mulut? "Terus..., Adrian bilang apa
lagi?"
"Dia nanya, kalau suatu saat dia nggak ada di sini
lagi, bakal gimana." Suara Anggia masih kurang antusias, tidak seperti
Anggia yang biasa. "Dan, lo jawab
apa?" "Gue bilang, itu
sesuatu yang nggak mungkin terjadi." Dia terdiam sejenak, lalu
melanjutkan, "Aneh ya, kok Adrian bisa mendadak ngomong begitu. Padahal,
selama ini kami baik-baik aja. Jujur, gue nggak bisa bayangin kalau dia
tiba-tiba pergi. Kalau dia tiba-tiba pergi...." "Hus." Aku terduduk di atas
ranjang, masih memeluk guling. "Jangan ngomong yang aneh-aneh, ah." Anggia tertawa, tetapi nadanya serius waktu
bilang, "Gue sayang sama Adrian, Frey. Sayang banget." Sayang. Apakah itu juga satu bentuk rasa
yang kupendam untuk Adrian? Haruskah aku mengakui, bahwa waktu dia memelukku,
aku sebenarnya senang seperti ada sesuatu yang meledak-ledak di hati? Harusnya
aku jujur, walau sangat marah dia
mempermainkan Anggia seperti ini, ada saat-saat aku berharap
bukan Anggia yang menyandang status sebagai pacar Adrian, tapi aku. Aku. Namun, Anggia menyayangi Adrian dengan
segenap perasaannya. Dan aku harus menjaga perasaan itu. "Jaga baik-baik perasaan itu, Nggi."
Begitu pula yang kusarankan pada Anggia. "Jangan terlalu khawatir. Sayangi
dia, itu sudah cukup."
"Iya..., thanks ya, Freya."
Aku termenung. Teringat Moses. Tangannya yang dingin, tapi tak akan
melepaskan genggaman dengan mudahnya. Moses yang juga senantiasa tampak
kesepian. Kita semua manusia-manusia kesepian. Butuh seseorang untuk mengisi
hati yang hampa. Namun, mengapa Adrian
yang sudah punya lebih dari cukup, justru harus mencari lebih? ***
MOSES POV Aku dan Adrian sudah mengenal satu sama lain
sejak kecil. Kalau mau dihitung-hitung, kami sudah bersahabat hampir delapan
belas tahun lamanya; sejak kami berdua dilahirkan di rumah sakit yang sama,
pada bulan yang sama pula. Ibu kami adalah teman baik sejak kuliah, yang lalu
menikah dan melahirkan pada bulan yang sama. Mungkin, aku dan Adrian bahkan
tidak memilih untuk berteman, tetapi waktu yang memilih kami untuk dekat sejak
detik pertama kami berdua menjejakkan kaki di dunia. Kata orang, kami bagai langit dan bumi. Aku
dibesarkan di keluarga yang menerapkan kedisiplinan bagai minum air. Ayah
adalah dokter kandungan di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, sedangkan
ibuku membuka praktik di rumah sebagai dokter umum. Kakak perempuanku juga
masuk jurusan kedokteran. Aku belajar baca tulis sejak usia dini, dan selalu
merasa lebih dewasa dibanding teman-teman sebayaku. Sejak kecil, aku sudah tahu
aku akan menjadi dokter seperti anggota keluargaku yang lain. Aku belajar bahwa
perlu ketekunan untuk mencapai hasil yang sempurna. Kami semua hidup dengan
jadwal harian yang tertempel rapi di meja kerja masing-masing. Kami tidak
membicarakan perasaan kami. Kami keluarga yang tenang,
datar, dan sangat stabil. Segala sesuatu butuh pertimbangan rasional. Sementara Adrian hidup dalam keluarga saat
ekspresi adalah bentuk kehidupan. Ayahnya adaalah seorang pelukis. Kadang
karyanya masuk galeri ternama, laku terjual dan berhasil menuai ratusan juta
rupiah. Kadang tidak ada satu pun inspirasi menyantol di kepalanya, gagal
menyentuh tangan dan ujung kuasnya, meninggalkan kekosongan selama
berbulan-bulan pada kanvas putihnya. Almarhumah ibunya membuka toko bunga kecil
di rumah sehingga rumah mereka penuh dengan berbagai variasi bunga, dari
anyelir, anggrek hingga mawar berbagai warna. Kehidupan mereka naik turun, dari
harus mengencangkan ikat pinggang agar bisa mengirit uang makan hingga membeli
mobil baru saat bisnis sedang subur. Adrian hidup dengan kebebasan dalam
berperilaku dan berbicara. Di luar
perbedaan kami, kami adalah tim yang kompak. Aku yang menepuk-nepuk pundaknya
ketika ia kalah dalam pertandingan basket pertamanya. Dia yang mengantarkan
catatan pelajaran yang ketinggalan ketika aku sakit dan absen sekolah. Aku yang
menyampaikan pesan bahwa Adrian tidak ada di rumah saat gadis-gadis yang datang
pura-pura membeli bunga di rumahnya,
begitu pula dia yang tertawa geli saat perempuan yang suka
kepadaku meninggalkan surat cinta di kolong mejaku. Air dan minyak. Tidak
larut, tetapi saling menemani. Kami saling mengenal luar dalam, jadi terasa
janggal saat dia menanyakan sesuatu yang tidak biasa, hari itu. "Mos, hubungan lo ama Freya udah sejauh
apa, sih?" Pertanyaan yang keluar
dari mulut Adrian sore itu, selepas kami berdua bermain basket one on one di
lapangan dekat rumahnya, jelas-jelas bikin kelabakan. Malu, iya, karena selama
ini ciuman pun belum. Lagi pula, aku bukan tipe cowok yang suka gembar-gembor
masalah percintaan dan 'petualangan' pribadi ke siapa pun, tak terkecuali
kepada Adrian. Satu lagi. Mengapa
tiba-tiba dia bertanya begini? Biasanya dia cukup cuek dengan urusan pribadi
orang lain, apalagi dia tahu betul aku tidak suka membicarakannya. "Moses, jangan berlagak nggak denger,
deh." Adrian menimpukku dengan bola bundar di tangannya, yang
sedikit terlambat kutangkap sehingga menghantam dadaku dan
jatuh ke lantai semen. Aku menatapnya,
bingung harus menjawab apa. "Kayak biasa aja." "Maksudnya?" Aku menengadahkan kepala dan memejamkan
mata. Capek sedari tadi kalah skor dari Adrian; sekarang pun adu mulut juga
pasti kalah telak. "Yaaa..., seperti pasangan pada umumnya. Jalan bareng,
seringnya ngobrol di teras rumahnya, atau ke perpustakaan umum berdua. Lo kan
tahu. "Boring banget, sih,"
celanya sambil tertawa. "Cuma itu?"
"Mau tau aja," balasku tak acuh. Adrian geleng-geleng sambil menepuk bahuku,
seakan kasihan. "Kalau lo sih, gue yakin pasti ciuman pertama
aja gagal total. Atau jangan-jangan, belum pernah,
lagi." Mukaku agak memerah. Ini
topik yang sangat tidak relevan. Namun, mata Adrian cukup jeli membaca
perubahan raut wajah, dan tawanya meledak tanpa ampun. "Hahahahahahaha.
Bener kan kata gue..., serius lo, belum pernah cium Freya? Mati gue. Ini anak
entah norak atau kuper...."
"Sialan." Aku menendang kakinya tapi dia masih tertawa tanpa
henti. "Bukan urusan lo. Gue menghargai Freya, jadi nggak sembarangan
nyentuh dia." Tawa Adrian surut.
Ekspresinya sulit dibaca. "Cewek suka diperlakukan dengan lembut, tapi
bukan berarti mesti ditinggal haus belaian begitu." "Belum tepat waktunya." "Tapi, lo serius kan, sama
dia?"
"Ya serius, lah." Aku mencabuti rumput ilalang
tanpa memandangnya. Kok, Adrian rese sekali ya, hari ini? Adrian ikut duduk di sebelahku, menenggak
habis isi kaleng minuman dingin yang dibawanya. "Freya juga serius sama
lo, kan?" Pernyataan itu lebih terdengar
seperti pertanyaan. Dan, sesuatu yang tidak bisa kujawab. Jadi gue harus lebih hati-hati
dalam memilah kata. "Kadang, gue nggak ngerti perasaan dia. Gue tahu,
sifat Freya memang introvert, makanya dia nggak terlalu banyak omong tentang
hubungan kami dan perasaannya. Tapi, gue rasa hubungan kami selama ini
baik-baik aja." Solid. Dua tahun yang solid. "Menurut lo... perasaan bisa
berubah?" Aku mengangkat kepala.
"Maksudnya?" "Perasaan
kita tahun lalu, bisa berbeda dengan perasaan kita sekarang. Tapi..., kita
nggak bisa mengubah apa yang pernah terjadi dulu. Semua berubah begitu aja,
sedangkan kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti
arus." Aku mengamati Adrian, sulit
memahami apa yang sedang dipikirkannya. Tidak biasanya dia bicara seperti ini.
Dari tadi polahnya sangat aneh; seakan ada sesuatu yang dirahasiakannya tapi
sangat ingin dia ceritakan sampai tuntas. Karena interogasi langsung lebih
sesuai untuk Adrian, aku langsung bertanya, "Lo lagi ada masalah sama
Anggia?" Untuk sesaat, dia tidak
menjawab, cukup untuk membuktikan bahwa aku sudah tepat sasaran.
"Yaaah..., gue ngerasa perasaan gue nggak sama lagi. Gue jenuh, Mos. Gue
tau kedengerannya jahat banget, tapi itu yang gue rasain." "Selama ini, lo nggak nyangka perasaan
itu bisa berubah, ya?" Adrian diam
berpikir. Dia adalah tipe orang yang membabi-buta merasakan. Percaya pada kata
selamanya. Bukannya hal tersebut salah, hanya menurutku tidak realistis.
"Dulu..., gue
pikir gue udah ketemu soulmate. Tapi,
lama-kelamaan, gue merasa kita makin mejauh." Dia terduduk. "Bisa
nggak ya, kalau kita ternyata punya lebih dari satu soulmate? Ternyata ada
seseorang di luar sana yang tepat untuk kita." "Jadi, gara-gara soulmate kedua ini,
perasaan lo untuk Anggia berubah?"
Raut wajahnya sejank berubah, tapi lalu lanjut tertawa. "Gue cuma
nanya, Mos. Kok interpretasi lo terlalu canggih, sih?" Aku mengangkat bahu. "Siapa tau. Kalau
menurut gue sih, daripada lo terus membohongi Anggia dan diri lo sendiri, lebih
baik akhiri aja sekalian." Adrian
berbalik menatapku. "Mungkin akan lebih mudah kalau gue dan dia cuma
sampai tahap pegangan tangan kayak Moses yang katro." Aku menunggu
kelanjutan perkataannya, tapi ketika dia bicara, aku malah tidak bisa berkata
apa-apa. "Gue dan Anggia
udah tidur bareng, Mos. Waktu liburan ke Bali akhir tahun
lalu." "Hah?!" "Yah...." Adrian antara ingin dan
malas menjawab. "Gue agak nyesel juga sih, udah ngelakuin itu." "Terus kenapa waktu itu lo lakuin
juga?" Adrian mengangkat bahu.
"Nafsu, mungkin. Yang jelas waktu itu gue pengin tau. Gue
penasaran." "Lo sadar betul
ada tanggung jawab yang lo bawa setelah hari itu." "Waktu itu gue nggak terlalu mikirin
karena kita lakukan atas dasar suka sama suka. Gue nggak sadar bahwa tanggung
jawab itu harus gue pikul seumur hidup, Mos. Gue bener-bener nyesel sekarang
karena gue nggak dengerin kata hati, hanya nurutin nafsu. Gue tau harusnya gue
nggak begini, toh semuanya udah terjadi. Tapi, gue bingung, gue merasa bersalah
sama
Anggia, dan gue nggak mau hal itu ngebayang- bayangin gue
seumur hidup." Aku menarik napas,
tidak siap dengan pengakuannya sama-sekali. "Terus..., Anggia
gimana?" "Anggia..."
Adrian menutup mata. "Anggia merasa dengan ngasih itu, udah menjadi suatu
bentuk komitmen antara kita berdua. Bahwa kita udah membangun masa depan
berdua. Gue rasa dia nggak menyesal...dia hanya memperlakukannya sebagai janji
bahwa gue akan selamanya ada di sisinya."
"Gimana pun lo harus tanggung jawab." Hanya itu nasihatku
untuk Adrian karena aku menjunjung tinggi kejujuran dan kredibilitas seseorang.
Aku percaya, seseorang menuai apa yang dia tabur. "Gue tau." Dan, kami tidak pernah membicarakannya
lagi.
Terus terang, aku tidak setuju dengan apa yang diperbuat
Adrian dan Anggia. Kadang, kasihan juga melihat Adrian terikat pada Anggia
hanya karena sebuah kesalahan fatal. Sampai sekarang pun, aku masih sering
bertanya-tanya dalam hati. Kalau saja
hal ini tidak menjadi beban pikirannya, apa Adrian benar-benar akan
meninggalkan Anggia? ** Terkadang, aku berharap dapat membaca hati orang.
Melongok ke dalam sanubari mereka,membaca apa yang tertulis di sana. Menghirup
dalam-dalam. keraguan mereka, mengecap asa yang tidak diucapkan, dan menggali
alasan di setiap debar perasaan mereka.
Dan hari ini, ketika aku sedang bersama Freya yang sedang leyeh-leyeh di
atas kursi rotan di teras rumahnya, aku merasa ingin membaca hatinya lebih dari
apa pun. Aku berpura-pura sedang membaca koran pagi, tapi sebenarnya aku
mengamati dia diam-diam dengan sudut mataku.
Dia tampak tegang sedari tadi, sering tersandung dan lupa apa yang
barusan dia katakan. Di tengah percakapan, dia sering bengong sampai akhirnya
bertanya hah? apa? berulang-ulang. Aku menyentuh pipinya
gemas, tapi dia seperti baru dipecut, mundur kaget dengan waajah merona.
Seperti tidak pernah disentuh sebelumnya. Aneh. Kalau aku bisa membaca pikirannya, aku ingin
tahu apa saja yang dia rasakan sekarang. Mengapa begitu asing di hadapanku.
Mengapa tampak muram? Mengapa senyumnya agak dipaksakan. Kenapa bahasa tubuhnya
canggung. Aku bukan Adrian yang bisa
memeluk Anggia dengan bebas. Memegang tangan Freya saja, aku sudah berkeringat
dingin. Apa lagi menciumnya? Aku bergidik mengingat Adrian yang beberapa hari
yang lalu mencurahkan rahasianya yang paling dalam, bahwa dia dan
Anggia.... Singkat kata, aku tidak bisa
seperti itu. Aku ingin melindungi Freya seutuhnya, menjaga hati dan tubuhnya
sebisa mungkin. Sampai dia menolak untuk kujaga. "Mos?"
Pikiran semuku
buyar. "Ya?" Freya
memandangku bingung, sebuah senyum terukir di wajahnya. "Koran kamu
kebalik tuh." Aku lekas-lekas
membalik koran di tangan. Malu. Aku mencoba menutupinya dengan tawa. "Lagi
nggak konsen, nih." "Mikirin
apa?" Freya ikut meletakkan komik yang sedang dibacanya, lalu
mencondongkan tubuh ke arahku, siap untuk mendengarkan. "Cewek itu paling suka diapain,
sih?" Pertanyaan naif itu
tiba-tiba keluar begitu saja; langsung kusesali karena itu pertanyaan paling
bodoh dan irasional yang mungkin pernah kutanya. Freya tidak tertawa, hanya tampak sedang
berpikir. "Cewek... suka dibelai sayang. Suka diajak ke tempat-
tempat romantis, seperti pegunungan teduh atau lihat
matahari terbenam di pantai... suka diajak melihat indahnya malam sambil
candlelight dinner romantis, suka dibelikan bunga dan cokelat. Tapi, nggak
semua cewek kayak gitu...."
"Kalau kamu?" Freya
tersenyum lagi. "Aku?" Aku
mengangguk. "Aku suka diajak makan
roti bakar malam-malam, pakai saus cokelat yang banyak. Aku suka bakpao talas
hangat sambil minum teh melati. Aku suka jalan-jalan di bawah gerimis, suka
hunting buku murah, suka nonton film sambil makan popcorn mentega, suka duduk
di perpustakaan dan baca buku sepuasnya."
Aku sudah tahu semua itu tentang dirinya, dari kesukaannya makan
penganan hangat sampai udara dingin dan benda-benda yang disukainya. Freya suka
embung pagi di dedaunan pohon yang tumbuh di terasnya. Freya suka memandangi
hujan, dan menebak
bentuk awan. Tapi, bagaimana dengan apa yang dia rasakan?
Apakah dia diam-diam ingin dipeluk juga? Dicium? Disentuh? Freya meniup-niup teh yang baru diseduhnya.
Tampak begitu rapuh. Begitu indah. Tanpa sadar aku berlutut di hadapannya,
mendekap kedua belah tangannya yang hangat dengan tanganku yang dingin, dan
memandangi kedua bola matanya yang tampak sedih. Ketika aku menciumnya, aku seperti dapat
menyentuh dasar hatinya yang paling dalam. Hanya kecupan pertama yang manis,
singkat dan hangat. Mungkin perbuatan sejenis ini yang dikategorikan
romantis. "Aku sayang kamu,
Freya." Dan, ketika aku
mengucapkannya, aku memaknainya.
***
FREYA POV Lima
detik. Aku seakan terhipnotis. Mataku terbelalak kaget. Bibir Moses
meninggalkan jejak di bibirku. Inikah rasanya ciuman? Bukankah kata semua
orang, rasanya manis? Aku terkejut. Tak
mampu bergerak. Statis. Moses berhak
mendapatkannya. Dia pacarku. Sudah dua tahun dia yang mengisi hari-hariku.
Tapi, dalam hati, ada sesuatu yang berontak, sesuatu yang terus- menerus
membatin, bukan dia, bukan dia. Aku
tidak bisa menjelaskan kata yang tepat untuk mendeskripsikan rasa yang
berkecamuk di hati saat ini. Bukan
dia. ***
Mereka yang Pergi ANGGIA
POV Sebentar lagi waktu kelulusan tiba.
Kami semua mulai memasuki periode ujian akhir. Kami masih memakai seragam putih
abu-abu yang sama, hanya saja senioritas kami ditandai dengan pudarnya logo
sekolah yang tercetak di bagian saku kemeja, juga dengan makin pendeknya rok
dan celana kami. Sudah banyak yang
berubah sejak tiga tahun lalu saat aku menginjakkan kaki di sekolah ini. Saat
pertama melihat Adrian bermain basket di lapangan, bersimbah keringat, tapi terlihat
sangat tampan. Berkenalan dengan Freya. Berpartisipasi dalam kegiatan OSIS
bersama Moses. Jatuh cinta. Pacaran. Bersahabat. Bukan hanya aku yang berubah, tapi seluruh
komponen dalam duniaku. Bahkan Adrian yang kukira nggak akan pernah berubah. Ternyata,
dia bukan hanya cinta monyetku di bangku sekolah. Ternyata aku benar-benar
menyayanginya seperti seorang wanita. Namun, akhir- akhir ini kami tak sama.
Dia lebih sering merokok
dibanding dulu. Sering termenung. Lebih sering mendekam
dalam diam yang sulit kusentuh. Kadang
aku takut dia akan pergi. "Nggi,
mau teh kotak?" Freya menunduk,
menempelkan kotak teh melati dingin di lenganku. "Thanks." Aku
menerimanya. Kami berdua duduk di bangku panjang di samping lapangan, menonton
Adrian bermain basket dengan murid lain.
"Gue dan Moses akhirnya...." Freya menggumam, lalu berhenti.
"Hmmm. Begitu lah." Aku
menyeringai. "Udah ciuman, maksud lo?" Wajahnya sontak memerah. Aku
terkikik, sampai dia menyenggolku dengan siku. "Aduh! Hahahahaha.
Akhirnya, Frey... selamat yah...."
"Apa perlu sekalian makan-makan buat ngerayainnya?" sindirnya
sambil mencibir, tapi akhirnya dia tersenyum juga.
"Gimana
rasanya? Manis? Mau terbang ke awang- awang?" Aku menggodanya lagi. Freya mengedikkan bahu. "Biasa aja,
nggak seperti yang diomongin orang. Apa ada yang salah sama gue ya?" Aku manggut-manggut maklum, layaknya dokter
cinta. "Normal, deh. Pasti lo kaget karena Moses yang biasanya nggak
romantis bisa begitu."
"Mungkin," jawabnya, kurang yakin. "Untuk setiap orang, rasanya pasti
beda." "Kalau lo sama Adrian,
gimana?" Tiba-tiba, Freya bertanya penasaran kepadaku, tapi mukanya
langsung merah padam lagi. "Maksud gue, saat ciuman pertama?" Kali ini, aku sedikit tersipu. Teringat
malam itu. Adrian memboncengku dengan motor besarnya. Rasanya
sangat bebas; angin sepoi-sepoi, suara mesin menderu- deru,
aku yang memeluk pinggangnya erat-erat. Ketika kami berhenti di depan rumahku,
dia melepaskan helm kuningku dan mengecupku sekali, dua kali. Indah. Karena dia istimewa. "Buat gue, ciuman pertama sama Adrian
memang romantis. Rasanya kayak lo tau bahwa dia memang orang yang tepat untuk
lo." Freya menyelonjorkan kakinya
ke tanah. "Hmmmm. Enak kali ya punya perasaan kayak gitu. Nyaman sama
seseorang. Saling mencintai dan dicintai." Dulu, aku dan Adrian memang begitu.
Sekarang, rasanya aku hampir nggak mengenalinya lagi. Aku memperhatikan dia
yang kini sedang melempar bola ke arah keranjang, dan masuk dengan anggun
seperti biasa. Seperti pada saat dia menyatakan cinta, beberapa tahun yang
lalu. Kini, terasa sudah sangat lama.
"Kenapa sih orang harus berubah?" Pertanyaan itu tanpa sadar
kugumamkan keras-keras.
Freya menatapku
bingung, tapi lalu tersenyum lembut. "Masih masalah yang sama?" Aku mengangguk. Sampai sekarang hal itu
masih membuatku khawatir, panik, seolah dia akan pergi kapan saja dia mau,
tanpa aku ketahui. "Adrian masih
agak tertutup." Aku memulai sesi curhatku. "Sejak kepergian nyokapnya, kan? Lo
nggak bisa salahin dia, Nggi." Aku
meremas kotak teh yang sudah kosong dengan frustasi. "Mau sampai kapan
sih, Frey, dia mau kayak gitu? Dia nggak bisa terus-terusan berduka. Nggak bisa
terus-terus menutup diri dari gue. Gue juga sakit hati kalau lihat dia begini
terus." Freya diam saja.
"Sampai kapan pun, luka dari kehilangan seseorang
mungkin nggak akan sembuh, Nggi."
*** FREYA POV Allie: They fell in love, didn't they? Duke:
Yes, they did. -The Notebook- *** Aku menyandang ransel putih yang sudah agak
kusam itu di pundak, lalu bersiap pulang. Pelajaran Bahasa Indonesia berakhir
lebih cepat dari biasanya, sedangkan Moses ada rapat OSIS untuk melaksanakan
kampanye pemilihan ketua baru karena tahun ini kami akan lulus. Aku duduk sendirian, menunggu bus kota yang
biasa kutumpangi. Kata-kata Anggia kemarin masih terngiang
di telingaku. Gue nggak bisa ngertiin Adrian akhir- akhir
ini, Frey. Gue takut kehilangan dia. Karena demi dia gue rela menyerahkan
segalanya. Ya, memang Adrian
ditakdirkan untuk Anggia. Aku selalu percaya itu. Namun, kenapa di saat-saat
seperti ini Adrian justru berubah dan berpaling dari Anggia? Mengapa sekarang
Anggia nggak bisa lebih mencoba mengerti Adrian? Aku merelakan Adrian untuk Anggia. Sejak
awal, dia bukan milikku. Bunyi klakson
mobil yang keras mengejutkanku. Adrian duduk di balik setir, kaca mobilnya
diturunkan. "Freya, gue anter pulang, yuk." Aku menggeleng. "Gue naik bus
aja." "Ayo," ulangnya,
tak bergerak maju sejengkal pun. Berhentinya mobil Adrian di tengah jalan
menyebabkan macet panjang di belakangnya. Pengemudi lain mulai membunyikan
klakson dengan tak sabar.
"Nggak usah,
gue bisa pulang sendiri." Aku masih bersikukuh, tapi sangat tidak tahan
mendengar suara klakson mobil yang lain. Beberapa bahkan menurunkan jendela dan
berteriak agar Adrian maju atau setidaknya parkir. "Gue nggak akan ke mana-mana sampai lo
naik, Freya." Akhirnya, aku
menyerah dan naik ke mobilnya, sedikit membanting pintu karena kesal. "Nah, begitu dong, penurut. Coba dari
tadi... gue nggak bakal dimarahin orang-orang di belakang." "Keras kepala banget, sih,"
gerutuku. Dia tertawa kecil. "Yang
keras kepala sebenarnya siapa?" balasnya lembut. Aku terdiam. Sudah lama tidak melihat
wajahnya dari jarak sedekat ini. Tidak mendengar dia bicara dengan
lembut. Aku kangen. Ah. Tidak seharusnya aku berpikir
begitu. "Gue harus ke toko buku
sebentar. Turunin gue di mal aja."
Adrian menggeleng. "Gue anterin. Lagian sekarang lo jadi tanggung
jawab gue. Moses bisa ngamuk kalau gue turunin lo sembarangan." Aku mengembuskan napas, kesal. "Lo
anterin gue hanya karena Anggia nggak ada, kan?" Adrian masih tetap tenang menyetir.
"Nggak ada hubungannya sama Anggia."
"Sebenernya mau lo apa, sih?" Pertanyaan ini, aku tanyakan
untuk Anggia. "Maksud lo apa, nyinggung masalah putus ke Anggia, bikin dia
sedih? Berubah sikap ke Anggia, seenaknya nyakitin perasaan dia. Lo pikir ini
permainan yang seru, mempermainkan perasaan semua orang? Lo tau nggak lo lagi
ngapain?"
"Lo mau jawaban jujur atau bohong?" Gayanya masih
sangat tenang, sama sekali tidak memedulikanku yang sudah berapi-api. Dia tidak
menunggu jawabanku, tapi melanjutkan perkataannya, "Jawaban bohong. Gue
sayang sama Anggia dan mau melewatkan hidup sampai tua dengan dia. Dia cinta
pertama dan terakhir gue. Dan, gue baik-baik aja. Gue bisa hidup tanpa mikirin
nyokap gue, gue bisa menghadapi bokap yang terus mengurung diri di kamar, gue
nggak peduli sama abang gue yang jarang pulang. Dan lo, Freya." Suaranya
agak bergetar saat menyebut namaku. "Dan lo, lo bukan siapa-siapa buat
gue. Lo nggak lebih dari pacar Moses. Lo puas dengan jawaban itu?" Untuk sesaat, aku tersentak. Saat menemukan
suaraku kembali, aku sudah gemetaran. "Lo kekanak-kanakan, Adrian.
Berhenti menyalahkan kondisi dan orang lain untuk hal-hal yang udah
terjadi." "Atau lo mau
jawaban jujur?" Dia melanjutkan dengan nada datar yang sama, tak
menggubrisku. "Gue jatuh cinta sama pacar sahabat gue sendiri. Gue
berusaha untuk berhenti, tapi gue nggak bisa, gue mau melepaskan Anggia, tapi
gue nggak bisa nyakitin dia lebih jauh lagi. Gue nggak tahan hidup dengan
topeng... gue nggak bisa jadi diri sendiri. Gue capek."
Mobilnya meluncur dengan cepat, lalu menepi di jalan yang
sepi dengan mendadak. Dia mencekal tanganku erat-erat, suaranya serak sarat
emosi, berusaha menjelaskan sekali lagi. "Lo ngerti gimana hidup penuh
kepura-puraan, Freya, lo orang yang paling tahu tentang itu. Udah berapa tahun
lo mau bohongi semua orang di sekitar lo. Bahwa lo baik-baik aja? Gue sekarang
hidup seperti lo. Bohongin Anggia, bohongin Moses, bohongin diri gue sendiri,
bahwa gue jatuh cinta sama orang yang nggak seharusnya gue sayang!" Cekalan tangannya semakin erat, kini terasa
sakit. Matanya sarat dengan kesepian, kesedihan yang aku sendiri kenali dengan
begitu dalam. Ya, kita sama. Kita berdua hidup dalam kepura-puraan karena takut
melukai orang lain, terlebih dari diri sendiri. "Jujurlah, Freya. Gue hanya minta satu
hal. Jujur, sama diri lo sendiri."
Air mata membanjiri pelupuk mataku. Aku tidak ingin menangis. Aku tidak
mau teringat akan segala kenangan buruk, dikenal sebagai anak piatu, si pendiam
yang antisosial. Freya yang nggak gaul dan nggak cantik, tanpa kelebihan apa
pun selain otaknya yang encer.
Yang membenci dirinya sendiri, karena menjadi seperti
ini. Jujur. Air mata pertama menetes di tangan Adrian.
Responsnya bagai terkena air panas, langsung melepaskan genggamannya yang kini
meninggalkan bekas merah di pergelangan tanganku. Dia mendekapku dalam
pelukannya, berkali-kali berbisik, "Maaf, Freya. Jangan nangis.
Maaf." Aku terisak dalam pelukannya,
merasa ingin melepaskan semua. Ingin jujur, ingin melepaskan semua, menumpahkan
galau yang selama ini tersimpan rapi dalam hati. Karena hanya dia yang tahu.
Hanya dia yang memegang kunci untuk melepaskan semuanya, dan menemukan diriku
yang sesungguhnya di sana. Entah berapa
lama kami berdua berpelukan di dalam mobilnya. Matahari sudah terbenam ketika
aku melepaskan diri, mengusap mata yang sembap oleh air mata, memandang dia
yang baru saja mengungkapkan isi hatinya.
"Gue sayang lo,
Freya. Mungkin ini klise, tapi gue nggak main-main." Adrian merengkuhku lebih dekat, menyapukan
bibirnya di dahiku, mengecup kedua mataku yang terpejam rapat, berhenti di
bibirku, melumatnya dalam-dalam. Hangat dan manis. Sentuhan jemarinya di pipiku
terasa lembut. Begitu nyata, tetapi juga bagaikan mimpi. Seribu satu ledakan
perasaan bermain-main bebas.
Seharusnya, aku mendorongnya menjauh. Seharusnya, aku tidak naik mobil
ini. Seharusnya, aku tidak menumpahkan isi hatiku. Seharusnya, aku tidak jatuh
cinta padanya. Namun, kini semua sudah
terlambat. MOSES POV Aku masuk ke cafe,
mencari-cari siluet Freya yang pastinya sudah duduk di kursi kami yang biasa.
Dia ada di sana, duduk tenang dalam balutan jeans belel kesayangannya, memegang
segelas cola dingin di tangan. Anggia ada di sampingnya, tertawa pada
sesuatu yang dikatakan Adrian, lalu bangkit menuju
toilet. Telat lagi, Moses, sampai nggak
bisa menjemput Freya, aku memarahi diri sendiri. Beberapa minggu ini, aku
mendapat kerja part time di sebuah klinik. Semacam magang, shift malam setelah
sekolah dan akhir pekan dari pagi hingga sore. Pengalaman yang kudapat sejauh
ini sungguh berharga, dan akan terlihat bagus di resume-ku, tapi sebenarnya di
balik alasan yang kuungkapkan pada Freya saat itu, ada sesuatu yang lain yang
membuatku menerima pekerjaan tersebut.
Aku butuh uang. Bukan, bukan
untuk membayar uang sekolah yang menunggak. Bukan untuk tabungan masa depan.
Namun, untuk sebuah kado istimewa untuk Freya. Ulang tahunnya tinggal sebulan
lagi. Aku membayangkan sebentuk cincin platinum. Agak mahal, memang, tapi aku
pernah melihat Freya memandanginya sewaktu kami melewati etalase perhiasan di
sebuah mal. Cincin yang menurutku sangat 'Freya', polos tanpa hiasan
batu-batuan apa pun.
Aku ingin segera menyematkan cincin itu di jari manisnya dan
melihatnya tersenyum. Aku menghampiri
Freya dan mendaratkan kecupan ringan di pipinya. Freya agak terkejut dan
pipinya merona merah. Ternyata, menunjukkan rasa sayang dengan kejutan kecil
semacam itu bagus juga. Tadinya aku sangat anti pada yang namanya ciuman di
depan umum, pelukan dan merangkul. Namun, ternyata efeknya sangat besar, selain
bisa melihat sosok Freya yang tersipu, aku merasa lebih dekat dengannya. "Hei," sapanya, masih dengan senyum
tersipu. "Aku udah pesan minuman untuk kamu tadi." Diserahkannya
secangkir macchiato hangat kesukaanku. Freya yang paling tahu. "Duh. Dunia serasa milik berdua."
Adrian menghajar punggungku dengan bercanda. Tapi sakit juga, karena tenaganya
cukup besar. Wajahnya tersenyum, tapi matanya tidak. Mungkin dia masih pusing
dengan masalahnya. Akhir-akhir ini, dia dan Anggia rasanya sering bertengkar,
ribut-ribut kecil yang bikin Adrian 'melarikan diri' ke rumahku hanya untuk
sekedar ngobrol dan merampok makanan di kulkas. Kasihan juga, di rumahnya lebih
sering kosong. Jadi walau
waktu belajarku terganggu, aku merelakan sedikit dari
kesibukanku untuknya. "Iya, sampe
nggak sadar ada orang yang menyebalkan," balasku sambil tertawa. "Sial." Adrian menggerutu,
menenggak habis root beer di hadapannya. "Jangan pacaran di depan gue,
dong. Gue masih belum terbiasa dengan Moses yang kayak gini." Aku bertukar pandang dengan Freya, tapi dia
diam saja. Semakin lama, Adrian semakin sensitif. Ini artinya masalahnya dengan
Anggia sudah cukup parah. Mungkin aku harus meluangkan waktu untuk menemaninya
main PS walau dia selalu menang dan aku tidak pandai bermain, setidaknya
permainan itu selalu membuatnya lebih tenang.
Itulah gunanya sahabat cowok, bukan?
***
FREYA POV Pelajaran
Biologi berjalan seperti biasa. Jika waktu kelas satu kami membedah katak dan
tikus, di kelas tiga kami lebih banyak mempelajari teori yang agak membosankan.
Aku terus menguap sepanjang hari, mungkin kurang tidur. Wajahku masih sering panas jika teringat
ciuman Adrian. Sudah beberapa waktu berlalu, tetapi masih segar dalam ingatan.
Rahasia itu kami simpan rapat- rapat. Aku masih menganggap segala sesuatu
berjalan seperti biasanya—aku dan Moses, Anggia dan Adrian. Kupandangi wajahku yang pucat di cermin
kamar mandi. Membasuhnya dengan air dingin beberapa kali, setidaknya untuk
membangunkanku walau sedikit.
Tiba-tiba, Anggia menghambur masuk ke toilet, sebelah tangan menutupi
wajahnya. Tubuhnya gemetaran.
"Anggia? Ada apa?" Aku buru-buru menghampirinya, tapi dia
masih tidak bersuara, menutupi wajah dan memunggungiku. Baru kusadari, dia
menangis. Aku
menggosok-gosok punggungnya lembut, berusaha menenangkannya.
Kadang, kalau sedang PMS, Anggia sering sensitif dan mudah tersinggung. Mungkin
hari ini dia sedang haid. Namun, dia
menepis tanganku kasar, isakannya semakin keras seakan dari tadi dia berusaha
menahannya sekuat tenaga. Aku mendengar langkah kaki dan segera membimbingnya
masuk ke salah satu kubikel toilet, memeluknya agar ia lebih tenang. Aku tahu
dia tidak ingin ketahuan sedang menangis.
"Ada apa sih, Nggi?" Aku bertanya pelan. Dia masih berusaha
menepis tanganku dan melepaskan diri dari pelukanku. Dia tidak menjawab,
menutup wajah dengan tangan, dan terus menangis. Air mata sudah merembes
keluar, membasahi wajahnya. Aku mengelus-elus rambutnya, kebingungan. Aku tidak
tahu bagaimana menenangkan orang yang sedang kalut dan menangis histeris, apa
lagi jika Anggia menunjukkan penolakan seperti ini. "Adrian." Samar-samar aku mendengarnya
berkata di tengah tangisnya. Dia terus mengulang-ulang nama itu sambil
terisak.
Pundakku basah oleh air matanya. Tanpa kusadari, air mata
juga meleleh perlahan di pipiku. "Maaf ya, Anggia, maaf." Tanpa dapat kuhentikan, Anggia berlari keluar
dan memanggil taksi; masih menangis, menumpahkan seluruh kesedihannya
sendirian. Aku memandangnya menghambur masuk ke taksi yang lalu meluncur cepat
keluar gerbang sekolah, dia tidak menoleh sedikit pun. Aku yang menghancurkan
segalanya, tapi ironisnya aku juga masih menganggap diriku sendiri sebagai
sahabatnya. Sungguh, aku tidak
pantas. *** ADRIAN POV
"Adrian?" Gue menoleh,
mendapati Freya sudah berdiri di ambang pintu. Kelas sudah kosong, kebanyakan
murid sudah
pulang. Gue tahu sejak tadi Freya membolos kelas terakhir.
Anggia nggak kelihatan batang hidungnya. Dan gue juga tahu, kenapa Freya
mencari gue. "Ini tentang Anggia,
kan." Freya mengangguk mengiyakan
dan berjalan menghampiri gue yang sedang duduk di tepi jendela, memperhatikan
murid-murid lain yang sedang aktif di lapangan. "Anggia...." Freya
buka suara. "Tadi dia pulang naik taksi. Dia nggak berhenti nangis."
Suaranya melembut, seakan menyayangkan keputusan gue. "Lo ngomong apa ke
Anggia, sampai dia nangis begitu?"
"Gue kasih tau dia yang sebenernya," jawab gue seadanya, dan
ekspresi Freya berubah keruh.
"Kenapa?" Cuma itu yang keluar dari mulutnya. "Lo masih mau melanjutkan kebohongan
ini?" Gue balik bertanya, separuh menantang. "Atau..., lo lebih suka
menganggap semua ini nggak pernah terjadi?"
Freya tercenung. Ada bekas air mata di wajahnya, dan gue
pengin banget mengusapnya. Namun, bahasa tubuhnya menunjukkan penolakan yang
tegas. "Bayangin perasaan
Anggia," bisiknya pelan. "Dia sayang sama lo, tapi tiba-tiba
diputusin sepihak karena lo ketemu orang lain dan perasaan lo berubah. Pikirkan
Moses, yang susah-payah berusaha demi gue, orang paling baik yang pernah gue
kenal... dan ternyata pacarnya jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri... orang
yang udah dia anggep saudara." Lalu, "Kita nggak boleh egois,
Yan." Gue menghela napas, berat.
Apa yang dikatakan Freya memang ada benarnya; tapi segala sesuatu memiliki dua
sisi. Gue bukan orang yang bisa terus berpura-pura. "Apa itu lebih baik daripada pacaran
tanpa rasa sayang? Hanya status semata? Baik Anggia maupun Moses nggak pantes
dibohongin, Freya. Mereka terlalu berharga untuk nggak tahu yang
sebenarnya." Anggia. Raut wajah
yang nggak pernah gue liat sebelumnya... entah marah, entah sedih, entah
kecewa.
Tadi siang saat
waktu istirahat kedua, gue duduk di pojokan kami yang biasa sambil makan roti.
Anggia sedang membaca selembar surat beramplop merah jambu, yang tadi pagi
diterimanya di loker. "Liat nih,
surat dari anak baru di kelas kita." Anggia mengacungkannya sambil
tertawa. "Mungkin dia nggak tau kita pacaran, jadi masih terus ngirimin
surat ini buat aku." Gue menatap
Anggia, berusaha memahami dia seperti dulu, menyayangi dia seperti dua tahun
lalu, tapi gue merasa hampa. "Balas suratnya dong," jawab gue
sekenanya waktu itu, separuh bercanda, separuh nggak main-main. Dia cemberut. "Kamu mau aku balas suart
cinta dari orang lain?" Gue
tersenyum, kaku. "Mungkin ada cowok lain yang lebih pantes dapetin kamu,
Nggi."
Senyum itu pupus, sudut bibir yang tadinya terangkat kini
berubah datar. "Maksud kamu?"
Gue merobek plastik roti cokelat yang kedua, berusaha agar nada suara
gue tetap netral. "Aku bukan orang yang cocok buat kamu." "Kamu yang nggak cocok, atau aku yang
udah nggak cocok lagi untuk kamu?" Pertanyaan itu mengejutkan, karena
Anggia bertanya dengan serius dan tepat sasaran, seakan dia sudah lama
tahu. Sebelumnya, udah banyak sekali
pertanyaan sejenis yang gue alihkan dengan bohong. Udah terlalu sering gue tutupi
yang sebenarnya dengan bualan manis untuk membesarkan hati Anggia. Namun, hari
ini, gue nggak kepengin bohong. Gue nggak mau menutupi, mengalihkan
pembicaraan, dan lari dari masalah yang gue buat sendiri. Jadi gue memberanikan
diri untuk menjawab, "Kita berdua udah nggak seperti dulu." Kilatan mata Anggia awalnya adalah amarah,
lalu baru luka yang gue tangkap di raut wajahnya. "Kamu sayang aku,
Yan?" Ketika gue nggak langsung menjawab, dia bertanya sekali lagi,
"Kamu masih sayang aku?"
Gue ingin dengan
jujur bilang tidak, tapi mungkin itu akan sangat menyakitinya. Jadi gue jawab,
"Nggak tau." Diam. Gue
menutup mata. Maaf, Anggia. Saat ini kamu pasti sangat sedih. "Berapa lama kamu mau nunggu untuk
kasih tahu aku yang sebenarnya?" Suaranya begitu tenang. Begitu gue
membuka mata, dia sedang tersenyum sedih. "Sebenarnya... kamu suka sama
orang lain, iya kan?" Gue bingung
harus menjawab apa. Kasih tahu dia yang sebenarnya? Tapi, dia pasti akan tanya
siapa orang itu, dan persahabatannya dengan Freya bisa hancur. Bukankah gue dan
Freya setuju menutup rahasia ini rapat-rapat dan menjalani semuanya seperti
biasa? "Orang itu Freya,
kan?" Gue mengangkat muka, masih
enggan menjawab. Namun, wajah gue membeberkan segalanya. Dia tahu.
Anggia tersenyum sepintas, lalu menunduk. "Kamu nggak
usah bilang apa-apa. Aku kenal kamu, Yan. Sebenarnya kamu nggak perlu bohong...
aku tahu kok, setiap kali kamu berbohong." Suaranya mulai bergetar, namun
tetap melanjutkan perkataannya. "Waktu kamu bohong bilang ada acara di
rumah karena malas keluar, waktu kamu ngerokok, tapi nggak mau aku tahu, waktu
kamu bilang kamu baik-baik aja walau sebenernya enggak... aku tahu
semuanya." Hati gue seakan ikut
remuk, ketika melihat air mata pertama jatuh. "Nggi, aku...." "Aku ke WC sebentar ya." Dia
menukas cepat dan berlalu. Gue bahkan nggak mengejarnya. Gue tahu, gue udah nyakitin Anggia. Tapi,
gue juga merasa lega. Dia pantas mendapatkan cowok lain yang bisa bikin dia
bahagia, dan orang itu bukan gue.
"Anggia pernah bilang kalau dia nggak bisa bayangin hidupnya tanpa
lo." Freya berkata sambil menatap ke luar jendela, membuyarkan lamunan
gue. "Kalau lo pergi, dia...."
Gue mengangguk. Dia
nggak perlu melanjutkan. "Gue pernah mikir, gue nggak akan pernah pergi
dari Anggia. Bahwa dia cinta pertama dan terakhir gue. Tapi, ternyata gue
salah." Freya menatap gue dengan
pandangan sedih. "Lo juga bisa salah tentang gue. Suatu hari nanti lo akan
bangun pagi dan mikir, kalau selama ini lo salah tentang gue." Gue tersenyum. "Mungkin. Tapi sekarang
gue yakin, kalau gue memang sayang sama lo. Cuma itu yang penting." Freya diam di samping gue, menatap hujan
rintik-rintik yang mulai turun, membasahi kaca dan butir-butirnya mengalir ke
bawah, seperti air mata. ***
ANGGIA POV Hujan
di luar semakin lebat saja. Aku menatap ke luar, segalanya berwarna abu-abu;
rintik hujan menutupi pandangan dan sakit kepalaku masih mendera. Lebih parah
lagi, aku masih nggak bisa berhenti menangis.
Setelah pulang dengan taksi tadi, aku mengunci pintu kamar rapat-rapat
dan berdiri di samping jendela, menatap ke luar dengan pandangan hampa. Air
mata masih mengalir dari tadi, tetapi aku terlalu kacau untuk peduli. Rasa
sakit di dada juga masih terasa walau aku berharap sakit itu cepat hilang dan
nggak kembali lagi. Adrian. Aku butuh Adrian
supaya sakit ini hilang. Seharusnya aku
sudah tahu, bahwa dia memang sudah berubah. Hanya saja, aku sulit merelakan.
Sulit memberi tahu diri sendiri bahwa semua orang bisa berubah, dan aku harus
menerimanya. Namun, yang menyakitkan ternyata bukan kenyataan bahwa aku harus
melepaskan dia, tapi mendengar dari mulutnya sendiri bahwa sebenarnya kami
berdua bukan apa-apa.
Dia sudah lama berhenti mencintai aku, sedangkan aku
menyayanginya seperti tidak akan berakhir.
Mungkin kita udah nggak cocok lagi. Apa maksudnya? Selama ini kami
baik-baik aja. Setelah nggak cocok lagi, apa berarti kami lalu nggak mencoba
dan berhenti begitu saja? Dan, dia
nggak menyanggah saat aku menyebut nama Freya.
Aku tahu kadang matanya mengekori sosok Freya. Pernah sekali dia salah
menyebut namaku, saat kami sedang nonton di bioskop, dan saat kupanggil
namanya, dia menyahut, "Ada apa, Freya?" Bukan Anggia, tapi
Freya. Tadinya, aku menganggapnya nggak
sengaja karena kami memang sering nonton berempat dan kadang- kadang Freya
duduk di samping Adrian. Namun, bukan hanya itu. Malam itu di rumah sakit,
Adrian mengenakan jaket yang aku tahu bukan miliknya, dan sampai sekarang,
jaket putih itu masih tergantung rapi di lemari pakaiannya. Malam itu, dia
hanya duduk di sampingku tanpa bilang apa-apa, padahal aku melihat
bekas air mata di wajahnya. Mungkin hanya Freya yang pernah
benar-benar melihat Adrian menangis. Kenapa bukan aku? Ponsel yang kuletakkan sembarangan di atas
ranjang berbunyi. Dengan malas, aku meraihnya, melihat caller ID. Freya. Kenapa bukan Adrian yang meneleponku
sekarang, mengkhawatirkan keadaanku? Kenapa bukan Adrian yang menelepon untuk
minta maaf, justru Freya? Telepon terus
berdering. Aku mendiamkannya. Aku ingin
tetap menunggu Adrian. *** ERIK POV
Gue sedang menenteng bola dan setengah berlari ke arah
lapangan ketika gue menangkap siluet Freya di balik jendela kelas 3 IPS. Gue
mengernyit; matahari memang masih menyilaukan walau sudah sore. Tapi bener, gue
nggak salah lihat... itu Freya, berdiri di samping Adrian dengan punggung yang
membelakangi lapangan. Gue nggak bisa melihat wajahnya, tetapi pasti ada
apa-apa. Gue menunggu di bawah tangga sampai Freya melewatinya. "Hey." Gue sapa begitu dia
melintas dengan tas putihnya. Freya berbalik, agak kaget, dan refleks tersenyum
pada gue. Gue tau senyum itu; artinya dia lagi nggak mood buat senyum, tapi
terpaksa karena malas menjelaskan kenapa wajahnya nggak sedap dipandang. "Hai, Rik." "Buru-buru?" tanya gue. Dia
menggeleng. "Kantin yuk, sebentar."
"Tapi lo kan ada ekskul bola." Dia menunjuk ke arah lapangan.
Anggota tim gue sudah mulai main.
Gue mengangkat bahu.
"Ketua tim boleh telat, dong."
Freya menatap gue dengan pandangan nelangsa. "Sejujurnya gue lagi
nggak mood ngobrol, Rik." "Lima
belas menit. Gue traktir es Milo kesukaan lo." Freya akhirnya mengiyakan dan mengikuti gue
ke kantin. "Ayo cerita ada apa," perintah gue. Ia memberikan senyum
terpaksa itu sekali lagi, berusaha untuk ngeles. "Nggak usah pura-pura
senyum bajing deh, Frey, cepet cerita."
Dia mendorong gelas berisi Milo dingin itu sambil mengembuskan napas
lelah. "Anggia tau kalo Adrian suka sama gue. Dan, mereka...." Freya
tampak nggak sanggup menyelesaikan perkataannya barusan. Gue tersedak siomay tahu yang sedang gue
kunyah. Benar-benar tersedak, sampai Milo Freya habis gue tenggak. Dengan masih
terbatuk-batuk, gue ingin memastrikan satu hal yang pertama kali muncul di
benak gue ketika mendengar cerita Freya, "Adrian dan
Anggia sekarang udah putus?!"
"Ssshhh." Freya menepis tangan gue yang mencekal lengan
bajunya dengan kesal. "Jangan keras-keras. Gue nggak mau ini jadi
skandal." Gue bukannya kaget
Anggia tahu tentang Adrian dan Freya. Anggia kan, nggak buta. Gue aja yang
nggak seberapa dekat dengan Adrian bisa tahu, apa lagi Anggia yang menyandang
status pacarnya. Pasti dia merasa ada yang salah. Tapi, Anggia dan Adrian
putus? Ini berita baru. Dan pastinya akan mengarah ke konflik yang lebih besar
bagi seluruh pihak yang terlibat, dan maksud gue adalah Moses dan Freya. "Adrian ngomong apa lagi? Terus lo
jawab apa? Sekarang Anggia gimana?" Gue mendararkan pertanyaan
bertubi-tubi kepadanya, dan Freya balik memelototi gue supaya menurunkan volume
suara. "Gue juga nggak tau."
Akhirnya dia menjawab pelan. "Kok semua bisa jadi kacau begini? Nggak ada
seorang pun yang tahu tentang gue dan Adrian."
"Kita semua
bukan orang bego, Frey," gue berusaha membuatnya mengerti, "kita
punya mata, dan yang paling penting lagi, kita semua punya hati. Apa yang lo
sembunyiin, mungkin Anggia udah tau duluan dari kapan-kapan." "Menurut lo, gue harus jujur ke Anggia
tentang hal ini?" Gue menggaruk
kepala yang nggak gatal. Gimana yah ngomongnya ke Freya supaya dia mengerti?
"Gini deh." Akhirnya gue mencoba mengilustrasikan, "Coba lo
tempatin diri sendiri sebagai Anggia, dan Anggia jadi lo. Suatu hari Adrian
bilang, dia suka sama sahabat lo sendiri. Perasaan lo bakal gimana?" Freya memiringkan kepala, meringis.
"Sakit, itu jelas." "Dan
lo pasti pengin tau kan, perasaan Adrian sepihak, atau Freya juga membalas
perasaan itu?"
Freya mengangguk lagi, lemah. Dia sudah mengerti. Gue
mengunyah siomay terakhir lalu melemparkan pertanyaan lain, "Nah, sekarang
sebagai Anggia, lo berharap Freya akan bilang apa?" Freya terdiam sekarang. Memang nggak mudah,
tapi gue yakin dia tahu jawabannya. Freya akan mengucapkan kebohongan terakhir
yang dia ketahui akan menjadi yang terbaik untuk mereka berempat. Gue nggak pernah merasa kebohongan ini
salah. Karena saat gue menanyakan, lo ingin semua ini berakhir gimana? dia
sendiri sudah tahu jawabannya dengan sangat jelas. Freya, ini cerita lo. Lo
pengarangnya, jadi tentuin ending lo sendiri, dengan cara lo sendiri. Atau mungkin karena gue sayang Anggia, jadi
gue nggak pengin liat hatinya hancur?
ANGGIA POV Aku masih
duduk di depan kanvas begitu hujan berhenti. Sudah sore, kelas pasti sudah
bubar. Freya dan Adrian, apakah akan pulang bersama? Kanvas putih di hadapanku sudah tergambar
separuhnya. Sebentuk tubuh sudah kulukis, dia yang sedang bermain basket.
Goresan wajah Adrian, yang kutuangkan dalam cat warna-warni. Lukisan itu belum
selesai. Apakah lukisan ini pantas
kuselesaikan? Bel rumah berbunyi. Tak
lama kemudian, terdengar suara si mbok dari luar kamarku. "Non, ada Non
Freya...." Aku membiarkan dia masuk. Aku tahu, melihat Freya akan membuatku
semakin sedih. Cewek yang sekarang disukai Adrian bukan aku,
tetapi dia. Tapi, aku ingin memastikan satu hal, dan untuk
itu aku membutuhkannya. Aku punya
begitu banyak pertanyaan. Apa yang telah mereka lakukan di belakangku? Apa yang
selama ini direncanakan Adrian? Apa Freya juga menyukai Adrian? Aku ingin
menutup telinga rapat-rapat, tetapi suara itu terus bergema. Dugaan-dugaan
rancu membuatku kian kalut. Freya
melangkah masuk, tersenyum kecut saat melihatku. Aku mencoba tersenyum balik.
Apa yang dilihat Adrian dalam diri seorang Freya...? Apa karena dia dapat
mendengarkan keluh kesah dengan lebih sabar? Aku kalah apa? "Lo nggak apa-apa?" Dia bertanya,
mengambil posisi di atas karpet, agak jauh dariku. Nadanya hati-hati. Aku mengangguk, mengikuti permainan ini
dengan baik. "Nggak apa-apa kok."
"Nggi," panggilnya lagi, setelah diam memandangiku melukis.
"Lo dan Adrian... nggak apa-apa?"
Aku masih terus
melukis, ingin berhenti mendengarkan setiap kata yang menorehkan lebih banyak
luka, lagi dan lagi. Apa yang Adrian bilang tadi sangat jelas, nggak mungkin
salah. Kita udah nggak seperti dulu. Diam. Aku nggak mau dengar lagi. "Kalian... putus?" tanyanya,
lirih. Aku meletakkan kuas dan
memperhatikan wajahnya yang berubah pucat. Apa itu ekspresi yang tulus? Atau
hanya dibuat-buat? "Memangnya
kenapa?" Jawaban itu kedengarannya defensif, marah. Ingin rasanya benci
pada Freya. Kenapa dia harus simpati padaku sekarang? Mungkin bahkan bukan
simpati yang dia rasakan—lebih tepatnya, kasihan. Aku paling benci
dikasihani. "Kalian ribut
gara-gara gue kan, Nggi?" Senyumku
mengembang, padahal aku ingin menangis. "Lo suka sama Adrian?"
Sekarang hanya itu yang ingin
kuketahui. Perasaan sepihak-kah? Atau mereka berdua memang
saling suka? Aku ingin tahu. Aku harus tahu.
Ah. Lagi-lagi pikiranku melantur.
"Jawab, Freya. Suka, kan?" Kuulangi pertanyaan itu. "Lo
nggak usah bohong. Gue udah capek dengerin semua orang bohong sama
gue." Freya menghela napas.
"Pertama-tama memang ada rasa ketertarikan, gue akui itu. Tapi hanya
itu.... Nggak lebih." Aku
menatapnya, mencari-cari jejak kebohongan yang mungkin bersembunyi di balik
kelam hitam bola matanya. Mencurigainya sepenuh hati memperhatikan bahasa
tubuhnya yang mungkin dapat menguak yang sesungguhnya. Aku nggak tahu apa dia
sedang berbohong padaku atau sedang berkata jujur. Bukannya aku nggak mau
percaya... aku takut percaya.
"Perasaan gue ke Adrian cuma rasa kagum... kayak cewek-cewek kelas
sebelah yang selalu iri sama hubungan kalian. Gue iri, Nggi. Kalian punya
hubungan
yang sempurna, yang nggak gue miliki sama Moses. Tapi,
sekarang gue sadar... seharusnya rasa iri itu nggak pernah ada." Aku ingin percaya, Freya. Sepertinya dia tahu aku masih skeptis karena
dia lalu melanjutkan, "Gue sayang Moses. Gue nggak pernah ada maksud
terselubung, untuk selingkuh apalagi. Gue memang salah udah pernah menyimpan
perasaan lain buat Adrian, itu nggak sepatutnya. Tapi, gue cuma anggep dia temen
baik. That's all." Dia mengambil napas dalam-dalam dan mengucapkan
pernyataan terakhir dengan pasti, "Gue anggap dia sebagai pacar sahabat
yang paling gue sayang." Aku masih
memandangnya lekat-lekat. Benar apa yang kamu bilang, Freya? Gimana caranya
supaya aku bisa percaya? "Gue
salah apa, Frey?" Aku nggak mampu menyembunyikan nada terluka dari
pertanyaan itu. Jika sebuah hubungan berubah... bukankah berarti ada sesuatu
yang salah dalam hubungan itu? salahku apa...?
"Gue minta
maaf, kalau lo menyalahartikan hubungan gue dan Adrian sehingga kalian jadi
salah paham begini. Akhir-akhir ini, dia masih sulit menyesuaikan diri dengan
keadaan yang sekarang... jadi lo berdua nggak sedekat dulu. Dia yang berubah,
Nggi. Bukan berarti lo yang salah. Coba ngertiin dia... dan biar dia ngertiin
lo." Freya membelai rambutku, seperti yang biasa dilakukannya kalau aku
sedang bad mood, sedih, kesel, apa pun itu yang membutuhkan pundaknya sebagai
tempat bersandar. Tapi, aku nggak bisa menganggap segalanya sama lagi. Aku meraih selembar foto dari bingkai perak
di atas meja. Adrian dan aku, hari pertama liburan kami ke Bali, berdua. Freya
mengambil foto itu dari tanganku.
"Gue dan Adrian bukan pacaran maen-maen, Frey." aku berkata,
memainkan bidak catur terakhir untuk memenangi pertandingan ini, satu-satunya
cara untuk membuat Freya mundur teratur, sekaligus jalan terakhir yang akan
membawa Adrian kembali. "Malam itu, pas liburan ke Bali berdua, kita udah
make love." Wajah Freya menegang,
tetapi hanya sebentar. Dia kembali tersenyum. Senyum itu dipaksakan. Aku sudah
cukup mengenal dia untuk menyadarinya. "Adrian nggak
akan ke mana-mana. Dia pasti kembali. Semua ini dari awal cuma salah paham.
Maaf, ya. Aku sudah menang. ***
FREYA POV How much
do you still want me to love you? -Toto, Lea-
*** Aku berjalan keluar dari
rumah Anggia dengan langkah gontai. Masih terkejut dengan pengakuan Anggia
barusan. Dia dan Adrian.... Tadi Anggia
kelihatan begitu hancur. Dia diam saja di depan kanvasnya, memainkan kuas,
mencelupkannya
terus-menerus pada warna hitam pekat, tapi tidak kunjung
menyapukannya pada lukisan yang baru separuh selesai itu. Seakan-akan, kapan
saja dia akan mencoreng garis hitam besar di atas kanvas dan merusakkan
semuanya. Awalnya, aku tahu dia sama-sekali
tidak percaya padaku. Tapi, lama-kelamaan, dia melunak. Dan, aku sudah berjanji
untuk tidak pernah merebut Adrian dari sisinya karena hanya itu yang dapat
mempertahankan hubungan mereka. Sejak
awal, Adrian memang bukan untukku.
Sebuah mobil meluncur mulus ke arah perumahan Anggia, lalu berhenti di
dekatku. Aku mendongak, agak terkejut, dan melihat Adrian keluar dari mobil.
Wajahnya cemas. "Lo abis dari rumah Anggia? Gimana dia?" Benci. Aku benci melihat Adrian, sangat
benci. Anggia sudah menyerahkan semuanya, tapi itu saja tampaknya masih belum
cukup untuk Adrian.
"Udah mendingan. Lebih baik lo jenguk dan minta maaf ke
Anggia, bahkan kalo lo harus berlutut dan memohon sekali pun, lo tetap harus
minta maaf." Adrian mengulurkan
sebelah tangan untuk menyentuhku, tetapi kutepis kasar. Dia terperangah.
"Lo kenapa? Kok marah?"
"Gue salah menilai lo." Cowok tidak bertanggung jawab.
Pengecut. Mementingkan diri sendiri. "Setelah apa yang udah lo lakukan
sama Anggia, sekarang lo pergi nggak bertanggung jawab. Pergi minta maaf dan
jangan pernah sakitin sahabat gue lagi."
Muka Adrian pias seketika. "Anggia bilang..?" Aku mengusap air mata yang tanpa sadar telah
mengalir bebas. "Semua ini sebuah kesalahan, dan gue akan anggap nggak
pernah terjadi apa-apa di antara kita. Gue nggak bisa nyakitin Anggia dan Moses
lagi...." Wajah Moses terbayang di
benakku. Dia tidak boleh sampai tahu.
"Freya."
Adrian memegang tanganku dan enggan melepaskannya walau berusaha kutepis.
"Itu yang kamu mau?" Wajahnya
tampak sedih, memandangku seakan untuk terakhir kalinya. Pertanyaan itu mengandung
begitu banyak arti. Kami berdua sama-sama tahu jawabannya, tetapi kali ini
Adrian memberikanku kesempatan terakhir untuk menjawabnya, untuk mengambil
keputusan, untuk memulai atau mengakhiri.
Aku mengangguk. Menepati janji kepada Anggia, ingin melindunginya, ingin
setia kepada Moses, ingin menghargai diri sendiri, dan ingin memberikan
kesempatan kedua pada Adrian untuk memperbaiki apa yang telah berubah. "Kita akhiri saja sekarang." Adrian memandangku lama, sampai akhirnya dia
mengangguk, menerima keputusanku. "Oke. Gue akan anggap... nggak ada
apa-apa di antara kita berdua." Dia mengulurkan sebelah tangan untuk
menjabat tanganku.
"Deal? Gue akan kembali ke Anggia dan menyayangi dia
dengan sepenuh hati. Gue nggak tahu apa gue bisa, tapi gue akan coba. Dan lo..
lo tetap jalanin hubungan dengan Moses, seperti nggak terjadi apa-apa. Itu kan
yang lo mau?" Benar. Tapi, kenapa
rasanya begini sakit? Tanganku gemetar
menyambut jabatan tangannya. Dengan sekali tarik, ia merengkuh tubuhku ke
pelukannya, lalu berbisik di telingaku, "Terakhir kali gue peluk lo
seperti ini, Freya. Selamanya mungkin nggak akan bisa lagi." Setetes air matanya menyentuh leherku, dan
aku mengucapkan selamat tinggal dalam hati.
*** MOSES POV Hujan rintik-rintik membasahi kaca jendela
mobilku. Entah kenapa seharian ini hujan terus, padahal tadi
sempat berhenti sebentar. Meeting OSIS telah selesai, ketua
baru sudah dipilih, dan aku mengundurkan diri dengan lega. Sebentar lagi,
persiapan ujian nasional dimulai, dan murid-murid kelas tiga harus bekerja
ekstra keras demi kelulusan. Aku
terpaksa mengantar portofolio OSIS milik Anggia ke rumahnya karena hari ini dia
bolos meeting, padahal posisinya sebagai sekretaris sangat penting. Aku juga
harus menyelesaikan beberapa laporan yang belum diselesaikannya. Freya bilang,
Anggia tidak enak badan, jadi pulang lebih awal. Kompleks perumahan Anggia sangat asri.
Rumahnya yang paling besar di kompleks itu. Walau aku hanya pernah ke sana sekali,
aku masih ingat interiornya yang mewah. Kebunnya luas dengan garasi berisi
empat mobil mewah yang berjejer rapi, pos satpam kecil di tepi pekarangan, dan
pagar tinggi besar yang melindungi rumah besar di dalamnya. Anggia memang lebih
beruntung dibanding kebanyakan orang, tapi kurasa bahkan materi tidak bisa
menjamin kebahagiaannya karena saat ini dia mulai kehilangan hal-hal yang lebih
penting.
Aku melihat sedan hitam terparkir sembarangan di pinggir
jalan, tak jauh dari rumah Anggia. Seperti mobil Adrian karena sedan itu sudah
dimodifikasi bagian depan dan belakangnya.
Aku memperlambat laju mobil, sedikit merunduk untuk melihat plat
mobilnya. Kaca jendelaku buram oleh air hujan.
Dua sosok tubuh sedang berpelukan.
Itu Adrian, kan? Tidak salah lagi, pasti Adrian, dengan punggungnya yang
lebar dan tubuh yang tinggi. Orang itu juga mengenakan seragam sekolah kami.
Gadis di pelukannya tidak terlalu jelas kelihatan, mungkin Anggia. Apa mereka
bertengkar di jalan, ya? Aku hampir berhenti, tapi tidak jadi. Mereka pasti
butuh privasi. Lebih baik langsung kutitipkan portofolio ini di rumah Anggia;
tidak ada bedanya. Aku hampir melaju
melewati mereka ketika Adrian melepaskan pelukannya. Gadis yang bersamanya itu
mendongak. Heh. Itu... Freya? Rambut pendek, tubuh kurus tinggi.....
Klakson mobil di
belakangku membuatku kaget. Aku segera memarkir di depan mobil Adrian, lalu
turun. Mereka berdua terlonjak kaget oleh bantingan pintu mobilku. Lebih
terkejut lagi, pasti, karena melihatku.
Mataku menangkap tangan Freya, masih digenggam Adrian. "Ada apa?" Suaraku serak, meminta
penjelasan. Apa yang sedang mereka lakukan? Tadi pelukan di jalan, sekarang
berpegangan tangan. Dan, kenapa Freya seperti habis menangis? Wajah Freya pucat pasi, demikian juga dengan
Adrian. Sorot matanya sendu, seperti yang tidak pernah kulihat sebelumnya. "Ada apa?" Aku mengulangi
pertanyaan itu, pada waktu yang bersamaan sangat takut untuk mendengar
jawabannya.
"Nggak apa-apa, cuma nggak enak badan...." Freya
menukas cepat-cepat, gugup. "Aku mau pulang, Mos. Adrian mau ke rumah
Anggia." "Tadi..."
kalian sedang apa? "Nggak ada
apa-apa." Freya mengulang, tapi aku tetap berdiri di sana dengan perasaan
tak enak, menunggu penjelasan. Aku yakin ada sesuatu yang sedang mereka
sembunyikan. Untuk sesaat, mataku
bertemu pandang dengan Adrian. Kami saling menatap, lama, sampai akhirnya dia
berkata, lirih. "Moses, gue sayang
Freya." Langkah Freya terhenti.
Sama seperti detak jantungku. Berhenti satu detik. Mungkinkah aku salah dengar? Atau Adrian
cuma bercanda?
Jika bercanda,
kenapa raut wajahnya begitu serius?
*** FREYA POV Di sepetak tanah kosong, tak jauh dari
kediaman Anggia, dengan hujan gerimis yang turun, kami bertiga berdiri lunglai
dengan perasaan yang kacau. Entah
bagaimana Moses tiba-tiba kebetulan melewati kompleks perumahan ini dengan
mobilnya. Melihat aku dan Adrian berpelukan. Klise, memang, tapi itulah yang
terjadi. Ketidaksengajaan menjadi kebetulan; mungkin itu takdir yang disengaja
karena kami memang sudah tidak diperbolehkan bohong lagi. Moses
masih berdiri memandang kami berdua, meminta penjelasan. Tangannya terkepal,
air hujan membasahi kaca matanya, tapi dia tetap berdiri di sana, menunggu. Aku
harus bilang apa?
"Gue sayang Freya." Adrian akhirnya mengakui. Aku
sangat menyayangkan keputusannya berkata jujur. Aku membencinya karena telah
mengakui segalanya, yang berarti melukai perasaan kami semua. Aku membenci
diriku sendiri karena tak sanggup berkata jujur, dan membiarkan Adrian yang
selalu melakukannya untukku. Aku tidak suka rasa sakit ini, menusuk-nusuk
hatiku dan tidak mau pergi. "Gue
nggak tahu sejak kapan, tapi gue sayang Freya. Anggia udah tahu yang
sebenarnya. Gue salah sama kalian berdua. Maaf." Rahang Moses mengeras, wajahnya menegang.
"Kalian pacaran di belakang gue dan Anggia?" "Bukan begitu!" Aku menjawab
cepat. Bukan begitu kejadiannya. Moses salah paham. "Jadi?" Moses tertawa getir,
matanya menatap kami tajam, sekali lagi meminta kejujuran. "Kalau nggak
pacaran, terus diam-diam salinng sayang? Diam-diam jalan bareng? Atau bahkan
udah ciuman?"
Tidak ada yang menjawab. Semua sudah terungkap. "Oh, jadi begitu." Moses
menyindir, suaranya semakin parau. "Kapan dong mau
cerita-cerita?" Bukan maksudku
untuk menutupi kesalahan dari Moses, tetapi saat itu aku merasakan keinginan
yang amat sangat untuk melindunginya. Aku tidak ingin hubungannya dengan Adrian
berantakan hanya karena kesalahan dua orang egois. Namun, jauh di lubuk hatiku,
aku tahu sebenarnya aku hanya takut dia membenciku. Aku takut dia mengetahui seperti
apa aku yang sebenarnya. "Mungkin
gue cuma kalian anggap orang tolol. Kalau tadi nggak kepergok, mungkin
besok-besok udah pacaran di belakang gue dan Anggia. Mungkin selamanya nggak
akan ada yang tahu, kalau kalian pintar menyembunyikannya. Iya, kan?" "Bukan begitu, Mos." Adrian
berusaha menjelaskan. "Loe kan sahabat gue...."
"Gue nggak butuh sahabat macam lo." Moses menyahut
tenang, lalu menarikku ke dalam mobil, membanting pintunya keras, dan duduk di
balik kemudi. Mesinnya dinyalakan, lalu mobil melaju cepat keluar dari kompleks
perumahan itu. Bayangan Adrian masih
terlihat dari kaca spion, makin lama makin samar, dan hilang begitu mobil
berbelok. *** ADRIAN POV
Tangan gue berhenti di gagang pintu kamar Anggia. Mama Anggia tadi
menatap gue dalam-dalam lalu mengangguk, seakan udah tahu apa yang terjadi. Gue
ingin melanjutkan apa yang diinginkan Freya, seperti tadi dia bilang ke gue,
bahwa semua ini harus berakhir. Gue
ingin tanya balik ke Freya, apa yang berakhir? Selama ini, bahkan nggak ada
hubungan apa pun yang berhasil kita mulai. Tapi, gue diam saja, nggak kepingin
ada air mata lagi. Gue harus melanjutkan hidup, kembali seperti sebelum gue
merusakkannya.
Dan, Moses. Freya
mungkin akan membenci gue karena udah membeberkan seluruh rahasia kita. Namun,
di satu sisi... gue merasa berutang sama Moses. Gue merasa bersalah. Dia harus
tahu yang sebenarnya, walau artinya gue akan memperumit kekacauan ini. Tadi dia menatap gue dengan tajam, menunjukkan
secara gamblang semua dosa-dosa yang udah gue lakukan. Seolah ingin menuduh,
gue udah menghancurkan hidup Anggia, hidup Freya, hidupnya, dan gue masih
meminta lebih. Anggia duduk diam di
depan kanvas, mengenakan kaus putih hasil lukisan gue. Waktu anniversary
pertama, kami masing-masih melukis di atas sehelai kaus putih sebagai kado
untuk satu sama lain. Lukisannya indah— wajah gue digambarnya dengan begitu
sempurna. Sementara karya gue acak-acakan, bentuk yang menyerupai seorang gadis
dengan gaun merah dan senyuman lebar, tapi Anggia bilang itu lukisan terindah
yang pernah dia lihat. Kini dia memakai kaus itu lagi, kali ini dengan muka
habis menangis. "Anggia."
Dia menoleh, lalu
tersenyum. Dia sedang menangis, tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nggi, gue harus gimana? Gue menghampiri dia dan memeluknya erat.
"Maaf ya, Anggia. Cuma kamu yang seharusnya ada di sini... sekarang,
besok, dan sampai kapan pun. Janji kita begitu, kan?" Ya, janji itu. Gue pernah berjanji begitu. Dia diam saja, tapi gue merasakan anggukan
kepalanya. Kita akhiri semuanya di
sini, bahkan untuk hal yang belum dimulai sekali pun. Biarlah Anggia menganggap
semuanya sudah selesai, bahwa sebenarnya memang tidak ada yang perlu dia
risaukan. ***
MOSES POV I can see the pain living in your eyes And I
know how hard you try But you deserve so much more -Air Supply, Goodbye- ***
Freya duduk diam di sampingku, meletakkan tangan di pangkuan dan tak
berbicara sepatah kata pun. Kalau dia mendengar lebih jeli lagi, mungkin dia
akan mendengar detak jantungku yang tak keruan. Sedikit banyak aku sudah mengerti, bahwa
ternyata telah ada yang terjadi antara dia dan Adrian. Hanya aku yang kurang
peka. Aku yang tidak sadar, tidak menduga, dan tidak mau tahu. Akhirnya, aku
menyadari, kenapa selama ini aku tidak bisa membaca pikiran Freya. Aku tidak
tahu apa yang dipikirkannya saat dia tersenyum padaku. Aku tidak tahu
perasaannya
saat dia menangis. Bahkan, aku tidak tahu apa yang
sebenarnya dia inginkan. Aku memang
bukan orang yang tepat untuknya. Hatinya bukan untukku karena itulah dia sering
terlihat begitu asing. Jawaban itu yang paling tepat menjadi alasan sakit hati
ini. "Maaf." Kata itu meluncur dari mulutnya. Aku ingin
menangis. "Untuk apa?" Dia diam saja. Tidak usah dijelaskan, aku
sudah tahu. Aku berhenti di depan
rumahnya. Langit begitu gelap.
"Habis pulang, mandi air hangat, jangan terlambat makan dan tidur
lebih awal." Aku mengucapkannya dengan sedikit terbata-bata. Tidak akan
ada kesempatan
lagi untuk mengucapkan hal yang sama lain kali. Dia
mengangguk. "Freya." Hening.
"Kamu sayang dia?" Dia
mendongak, tak juga menjawab, tapi segalanya sudah cukup jelas terlukis di
wajahnya. "Lebih baik kita putus
saja." Kalimat itu tergantung di bibirku. Kalimat yang paling tidak ingin
kuucapkan. Freya mengangguk lagi,
membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke rumah. "Freya." Dia menoleh ke belakang. "Aku tetap sayang kamu."
Dia mengangguk dengan senyum sedih di wajahnya. "Ya,
aku tahu." Dia masuk ke rumah, menutup pintu rapat-rapat dan tidak keluar
lagi. Aku menangis diam-diam dalam
mobil. Kenapa tidak bisa mencintaiku, Freya? ADRIAN POV Semalaman, gue nggak bisa tidur, terus
terbangun dengan bersimbah keringat. Wajah Anggia yang sedih, raut Moses yang
kecewa, dan Freya... yang mungkin nggak akan pernah bisa gue raih, semuanya
muncul silih berganti dalam sebentuk mimpi putus sambung yang sulit gue pahami
maknanya. Pagi tiba lebih lambat dari
biasanya. Gue menggosok bersih badan gue, muak dengan bau tembakau yang
menyelimuti tubuh, bahkan bantal gue. Siap-siap berangkat ke sekolah, walau
tahu gue bakal datang kepagian. Baru pukul enam lewat lima menit. Dari jauh gue sudah melihat Moses, tenggelam
di balik buku Kimia, mengenakan kacamata bacanya yang tebal. Freya yang
seharusnya duduk di sampingnya belum
hadir, tapi Moses tampak biasa aja. Mungkin dia mau
memaafkan Freya. Mungkin dia masih bisa maafin gue. "Mos." Gue hampiri dia. Dia
mendongak, tanpa ekspresi. "Gue mau ngomong sama lo." Tanpa gue duga, dia setuju dan mengikuti gue
ke kebun belakang sekolah. "Ada apa?" "Gue tau lo masih marah." Gue
membuka percakapan. Nggak ada gunanya berbelit-belit kalau bicara dengan Moses.
Lebih baik apa adanya. "Gue nggak
marah," sahutnya tenang.
"Bagus deh." Gue tersenyum lega. Sudah gue duga, dia bukan
pendendam; selalu menyelesaikan masalah dengan tangan dan kepala dingin. "Gue nggak marah," ulangnya dengan
lebih pelan, "tapi gue nggak bisa maafin. Gue nggak bisa lupa. Dan gue
rasa gue nggak akan bisa jadi temen lo seperti dulu lagi."
Gue memandang Moses, kaget. Tatapan matanya
tenang, emosi yang bergejolak dalam hatinya nggak terpancar di sana. "Mos, gue nggak mau berantem sama lo
gara-gara masalah cewek. Gue balik ke Anggia dan nggak akan ganggu Freya
lagi." "Dan dengan begitu, lo
anggap semua masalah ini selesai?"
Gue memandang rumput ilalang dengan frustasi. "Ya, gue tau gue
salah. Makanya, gue ajak lo ngomong, untuk minta maaf. Gue dan Freya nggak ada
hubungan apa-apa. Gue nggak mau kita berhenti berteman hanya karena masalah
kecil." Moses mengangkat muka
dengan angkuh. "Masalah kecil, lo bilang? Cuma gara-gara masalah cewek?
Ini bukan cewek biasa, Adrian. Lo lagi ngomongin Freya." Dia menggelengkan
kepala, seakan gue anak kecil yang sulit dimengerti. "Perubahan hati itu
lo anggap sebagai masalah kecil, kan? Segala sesuatunya selalu lo lakukan
seenaknya. Lo pernah mikir konsekuensinya sebelum
bertindak?" Kata-kata pedas
semacam itu nggak gue harapkan akan keluar dari mulutnya. Dan dia belum
selesai. "Sebelum lo mainin Anggia, apa lo mikir gimana perasaan dia?
Sebelum lo bilang cinta ke Freya, apa lo mikirin gimana perasaan dia? Apa lo
pernah mikirin perasaan gue? Lo bilang kita sahabat. Lo juga bilang lo sayang
Anggia. Tapi, semua itu lo anggap mainan. Gue nggak butuh sahabat yang kayak
gitu." Ironisnya, Moses nggak
pernah mengkritik gue seperti ini sebelumnya. Memang dia nggak selalu setuju
dengan kelakuan gue, tapi dia nggak pernah memperlihatkan muak dan benci
sedalam sekarang. "Lo ngomong
gitu, apa mikirin perasaan gue?" Apa lo mikir kalau gue juga merasa
bersalah udah ngambil sesuatu yang paling dijaga Anggia, yang diberikannya
secara tulus kepada gue? Apa lo mikirin gue yang ngerasa jadi. Manusia paling
berengsek di dunia, tapi gue nggak bisa berhenti sayang Freya seberapa keras
pun gue berusaha?
Moses tersenyum, tetapi senyumnya dingin; sedikit mengejek,
bahkan. "Lo mungkin nggak bisa kontrol perasaan lo, , tapi lo bisa kontrol
perbuatan lo." Itu caranya untuk bilang kalau gue nggak dewasa, dan gue
harus berhenti beralasan. Gue diam saja
ketika dia berlalu. Namun, sebelum dia benar-benar pergi, gue ucapkan kata-kata
terakhir gue untuknya, "Gue sayang Freya, Mos. Gue bener-bener sayang
dia." Yang nggak gue duga adalah
Moses berbalik, mencekal lengan gue, dan menghajar pelipis gue dengan kepalan
tangannya. Nggak terlalu kuat, tapi gue tahu seluruh kemarahannya tertumpu di
sana. Nggak terlalu sakit, tapi gue sadar dia benar-benar ingin melukai gue.
Dan gue pun memukulnya balik, dengan frustasi yang sama. Gue benci lo, Mos,
karena lo yang akhirnya bersama Freya. Gue benci karena hidup gue berantakan
dan lo bilang semua ini gue yang salah.
Kami saling memukul. Sakit di wajah gue berdenyut- denyut. Gue balas
menghajarnya, dan dia meringis kesakitan saat gue meninju perutnya.
Kami terus berkelahi bagai dua binatang liar, hingga gue
mendengar seorang murid berteriak, dan suara Freya memekik tertahan. "Berhenti! Adrian! Moses!
Berhenti!" ***
FREYA POV Pagi ini
adala hari yang berat. Terpaksa membuka mata ketika cahaya matahari menembus
tirai di kamar, terseok-seok mengambil handuk, lalu berjalan ke kamar mandi.
Ingin terus meringkuk dalam selimut yang hangat, memejamkan mata dan tidak
terbangun selamanya, meneruskan mimpi yang tidak akan pernah terjadi di kenyataan. Namun, ternyata berusaha menahan perasaan
tidak lebih berat dari harus mengakuinya. Dan lagi, hari ini harus melihat
Moses, Adrian dan Anggia.
Suara seseorang nyaring berteriak ketika aku sampai di pintu
gerbang sekolah. “Moses dan Adrian berantem di kebun belakang!” Dalam hidupku, belum pernah aku lari secepat
sekarang. Aku mengikuti langkah puluhan murid lain yang penasaran ingin
melihat. Aku menemukan keduanya sedang
bergulat di atas tanah, tubuh mereka kotor. Wajah Adrian babak belur, begitu
juga Moses yang kacamatanya telah patah, tergeletak di atas rumput liar. “Berhenti!”
Mereka tidak mendengar dan tetap saling memukul. Dasar bodoh! Apa yang
mereka perebutkan, seperti dua orang anak kecil? Apa yang mereka ingin menangi?
Apa cinta dan persahabatan sebuah piala, dan hanya satu yang berhak
mendapatkannya? Aku membuang ranselku
ke atas rumput dan berlari ke arah mereka, berusaha memisahkan. Perkelahian ini
imbang—walau Moses tidak pernah berkelahi, kini dia
sedang berusaha sekuat tenaga, tidak rela menyerah. Aku
berdiri di antara keduanya, harus menghentikan semuanya. “Berhenti!”
Entah tangan siapa yang melayang, mengenai ujung mataku. Rasanya pedas,
lalu pedih, lalu hampa. Diam. Segala sesuatu seperti diperlambat. Dan, aku
mengecap darah di ujung bibirku.
“Freya!” Entah itu suara siapa.
Perlahan, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas tanah. Rasanya
sakit berdenyut-denyut. Sesosok tubuh memelukku erat-erat, sontak membopongku
pergi. Aku memejamkan mata. Ingin istirahat, ingin tertidur selamanya di balik
selimut hangat. Bermimipi, bahwa kita
bertemu lagi di sana. ***
ANGGIA POV Aku datang terlambat, seperti biasa. Malas
memulai hari. Namun, ternyata kelas
kosong. Penasaran melihat hampir seisi murid kelas tiga berlari menuju kebun
sekolah, aku mengikuti mereka. Begitu tiba di sana, aku melihat Freya. Adrian
sedang melayangkan tinjunya ke arah Moses. Freya melompat ke tengah mereka,
berusaha melerai, dan tangan Adrian yang terkepal tepat mengenai wajah Freya.
Darah mulai mengucur dari luka itu, dan ketika aku meneriakkan namanya, dia
sudah kehilangan kesadaran. Adrian
memeluk tubuh Freya erat-erat, menggendongnya menuju UKS. Moses terduduk di
atas tanah, memandangi punggung Adrian yang semakin menjauh. Aku bukan orang
bodoh. Tentu saja pertengkaran ini untuk Freya. Bukan hanya menulut ego mereka,
tapi juga mempertarungkannya di atas persahabatan.
Kemarin, Adrian berkata dia akan menepati janji dulu; untuk
bersamaku sekarang dan selamanya. Namun, janji itu kini terasa terlalu usang,
kata-kata yang diucapkan sudah kadaluwarsa. Adrian mengucapkanya karena
terpaksa, dan seperti orang bodoh aku mengangguk menyetujuinya, bersuka-cita
untuk segala alasan yang salah. Seberapa
keras pun dia mencoba untuk berbohong, pandangan matanya saat melihat darah di
wajah Freya tadi bukan pura-pura. Saat dengan panik dia melupakan luka tubuhnya
sendiri dan bergegas membawa Freya pergi, itulah perasaannya yang sebenarnya.
Dia bahkan nggak sadar aku ada di sana.
Aku menghampiri Moses, menyerahkan selembar saputangan. Dia mengambilnya untuk menyeka keringat dan
darah di wajah. “Freya dan Adrian
memang ada apa-apa, kan?” Aku bertanya lirih.
Moses diam saja. Nggak perlu dijawab. Aku pun sudah
tahu. ***
ADRIAN POV Gue dan
Moses diskors tiga hari. Untuk gue, mungkin ini udah biasa, karena gua juga
sering bolos dan pernah sekali menghajar murid kelas sebelah yang menyingkap
rok Anggia waktu kelas satu dulu. Namun, buat Moses, si sempurna peraih nilai
tertinggi dan rekor ketua OSIS paling berhasil di sekolah ini, skors adalah
pengalaman pertamanya yang nggak terlalu menyenangkan. Lebih parahnya lagi, gosip menyebar dengan
cepat. Ada yang bilang gue dan Moses bertengkar memperebutkan Anggia sebagai
bunga sekolah. Ada yang bilang karena Freya. Ada yang bilang gue dan Anggia
udah putus. Segala jenis gosip ngalor-ngidul sudah tersebar, dan gue tahu
sekarang Anggia sedang pura-pura nggak peduli.
Freya masih terbaring di UKS. Tadi gue nggak sengaja
melukainya, nggak melihat dia yang tiba-tiba melompat ke tengah-tengah gue dan
Moses. Untung lukanya nggak parah, hanya sedikit sobek di ujung matanya, dan
sekarang sudah diperban. Gue memang
bego. Di saat seperti ini pun, gue masih berharap. Matanya terbuka. Dia memaksakan seulas
senyum. “Maaf, Frey. Gue nggak
sengaja.” “Mmm,” gumamnya. “Kamu mau
bunuh Moses, ya?” Gue ketawa. Udah
pingsan masih bisa bergurau. Dan, ucapan kamu yang digunakannya untuk pertama
kali terasa akrab, hangat. “Pergilah.”
Tangannya yang terkulai lemah mendorong gue pergi.
“Kalau gue pergi, selamanya gue nggak akan bisa ada di sini
kayak gini lagi untuk lo.” Gue ingin memastikan untuk terakhir kalinya, apa dia
masih memilih Moses. Dia menekan tangan
gue dengan jarinya. “Pergi.” Hati gue
bagai tersundut ujung rokok. Pelan-pelan, terbakar menjadi abu. “Baik-baik ya
sama Moses.” Gue terpaksa bilang begitu.
Freya tersenyum hambar. “Gue dan Moses udah putus, kok.” ***
MOSES POV Skors tiga hari adalah
hukuman perbuatanku yang menyulut pertengkaran dengan Adrian. Tadinya, aku
tidak menyangka akan ada suatu emosi yang tiba-tiba menggelegak dalam diriku,
yang membuatku langsung melayangkan tinju padanya. Aku tidak menyangka dia
akan melawan dan membalas pukulanku. Aku juga tidak
menyangka Freya akan terkena pukulannya.
Namun, itu semua sudah bukan urusanku. Aku tidak bisa peduli kepada
Freya lagi, karena hubungan kami sudah berakhir. Kukira, aku akan baik-baik saja setelah
mencba menenangkan diri semalaman. Bahwa aku sudah cukup dewasa untuk
menerimanya, untuk melepaskan lalu bergerak maju tanpa menoleh ke belakang.
Namun ternyata melihat sosoknya masih membawa sakit tersendiri bagiku—sakit
yang tak dapat dideskripsikan.
Melihatku juga akan menjadi beban tersendiri bagi Freya. Jika ada sebuah
cara untuk melindunginya, mungkin menjauh adalah cara yang terbaik. Tadi, Adrian membabi-buta menggendong Freya
ke UKS. Aku sendiri terpaku diam, merasa kebas. Anggia lalu berjongkok di
hadapanku, menyerahkan saputangannya. Di matanya tak terpancar sedikit pun rasa
kasihan, hanya tersirat pengertian yang dalam. Dia juga mengalami hal yang
sama.
“Mos.” Suara Adrian
mengejutkanku, tapi aku enggan berbalik untuk menghadapinya. Kulit kami sudah
sama- sama biru lebam, tangan dan tubuh kami penuh biru luka. “Kali ini lo mau
dengerin gue ngomong, atau mau adu jotos lagi?” Akhirnya, aku berbalik, sebuah cara yang
lebih dewasa daripada ngambek seperti anak kecil. Sebelah matanya telah
diperban, salah satu hasil pukulanku tadi. “Mau ngomong apa lagi?” “Gue mau minta maaf.” Terus terang, aku bukan tipe orang yang
mudah memaafkan. Aku tidak ingin mendendam, tapi tidak bisa begitu saja
melupakan segalanya yang telah terjadi. Dia sudah tidak jujur. Selama ini, kami
berbagi cerita, tapi tak sekali pun dia menyebut nama Freya hingga akhirnya
kupergoki mereka berdua. Itukah arti persahabatan di matanya? Begitu juga dengan Freya. Dia selalu diam
dan menyimpan perasaannya sendiri.
Kenapa aku harus
memaafkan mereka yang jelas-jelas berbohong, seratus persen sadar apa yang
sedang mereka lakukan? “Gue merasa
beralah sama lo dan Anggia. Mungkin lo nggak akan bisa maafin gue dan Freya,
tapi gue mau pastiin satu hal. Gue dan Freya nggak pernah pacaran diam-diam di
belakang kalian. Kita nggak sehina itu, Mos. Dan, selamanya, kita nggak akan
punya hubungan khusus.” Aku membuang
muka. “Apa maksudnya?” Adrian menghela
napas. “Lo pasti udah ngerti maksud gue.” Gue dan Anggia, lo dan Freya. Itu
yang dia siratkan. Freya pasti sudah memberi tahu dia perihal putusnya
kami. Aku ingin menertawakan
kesederhanaan pola pikirnya. Dipikirnya manusia itu barang, bisa ditukar dan
diambil kapan pun kita mau. Betapa kekanakannya dia, betapa naif.
“Masalah gue dan Freya bukan urusan lo.” Adrian menggeleng, menyayangkan perkataan
itu. “Dia butuh lo.” “Ha!” Aku tertawa
sinis mendengarnya. “Dia butuh gue, tapi hatinya bukan buat gue. Mungkin gue
bisa pacaran sama dia, tapi perasaannya nggak akan pernah jadi milik gue. Lebih
baik gue lepasin dia.” “Gue harus tetap
ada di sisi Anggia....”Suara Adrian semakin pelan. “Gue nggak bisa....” Ya, aku mengerti, tentu saja. Anggia tidak
sekuat kelihatannya. Jika Adrian meninggalkannya, entah hal bodoh apa yang bisa
gadis itu perbuat. “Terserah lo mau
ngapain. Itu bukan urusan gue.”
Pandangan Adrian mengiba—pertama kalinya dia memandang gue dengan
tatapan seperti itu. “Gue bener- bener minta maaf. Apa kita nggak bisa
sahabatan lagi kayak dulu?”
Itu hal sulit yang
lo minta dari gue, Adrian. Udah terlalu banyak yang lo ambil dari gue. Jadi
sebagai jawabannya, aku berlalu dan meninggalkannya di sana, tanpa sepatah kata
lagi di antara kami. *** FREYA POV
Losing you is painful to me -Air Supply- *** Sulit rasanya menyimak pelajaran dengan tenang
ketika sakit di pelipis masih berdenyut-denyut. Moses duduk di sampingku dengan
tenang, menyalin dari papan tulis tanpa menoleh sedikit pun.
Sesekali, terdengar bisikan usil dari bangku belakang,
perkataan tak enak didengar seperti, lo denger tadi? Moses dan Adrian berantem
buat Freya! Kami berdua berusaha sebisa mungkin untuk pura-pua tidak
mendengar. Di kantin lebih parah lagi.
Suara-suara berdengung menggosipkan kejadian tadi pagi, tanpa peduli bahwa kami
berempat ada di sana, sudah muak dengan cerita asal-asalan yang mereka
sebarkan. Erik duduk di sampingku dengan pandangan simpati, menepuk-nepuk
pungungku dan menawarkan diri untuk mengantre di kantin supaya aku dapat
menyendiri di sudut. “Jadi, lo dan
Moses putus?” tanyanya dengan suara prihatin. Gue mengangguk. Sejujurnya, ada
sedikit rasa sedih yang menyelinap. Tak dapat lagi mendengar suara Moses
mendiskusikan pelajaran, senyumnya yang kalem, kebaikannya. Lebih sedih lagi
karena akulah yang telah menyakiti hatinya. Namun, aku juga tidak bisa berbuat
apa-apa. Aku paham sisi terdalam dirinya tidak bisa menerima dan memaafkan.
Sejak pagi, dia tidak bicara sepatah kata pun, hanya menulis dan menulis seakan
aku tak ada di sana.
“Udahlah....” Erik menyodorkan sepiring tahu goreng. “Makan
nih, dari pagi lo belum makan apa-apa.”
“Thanks, Rik.” “Lo dan Adrian
gimana?” “Tuh, Adrian, lagi duduk sama
Anggia di sana.” Aku berusaha bercanda, tapi lelucon itu terdengar hambar. Erik
memandangiku dengan serius. “Jadi,
kesimpulan dari semua ini apa?”
“Apanya?” Dia mengibaskan tangan
dengan tak sabar. “Yaa..., ini semua. Lo berempat berkorban, tapi tetap aja
menderita.” Aku tersenyum. “Adrian dan
Anggia punya happy ending, kan?”
Erik memandang sekilas ke arah mereka berdua, lalu kmbali
menatapku. “Lo pikir mereka bahagia?”
Mungkin tidak, hati kecilku berjata. Tapi, aku diam saja. “Anggia lewat. Gue tinggal, ya?” Erik menenggak
habis minuman di mejanya sebelum berlalu. Anggia sedang berjalan ke arah kami,
tapi menghindari kontak mata denganku.
“Nggi.” Dia menoleh. Lidahku
kelu, tak tahu harus bilang apa.
“Adrian... kalian balikan lagi, kan?”
Tolong bilang iya. Tolong bilang iya.
Sepintas dia tersenyum. “Iya.” Sepertinya dia tidak terlalu ingin bicara
padaku. Kemudian, matanya menangkap luka di dahiku. “Luka itu masih sakit?”
“Udah
mendingan.” “Bagus deh.” Dia tersenyum
lagi, tapi matanya sama sekali tidak tersenyum. “Lo masih marah, Anggia?” Anggia mengangkat bahu. “Enggak, kok. Kenapa
harus marah?” Aku tidak bisa
menjawab. “Gue ke toilet dulu, ya,
Frey. Bye.” Tanpa menunggu jawaban, dia
berlalu dari hadapanku. Kemarin kehilangan Moses. Sekarang, mungkin aku sudah
kehilangan Anggia juga. ***
Graduation MOSES
POV Hari ini adalah hari terakhir aku
mengenakan seragam sekolah ini. Hari kelulusan akhirnya tiba setelah bulan-
bulan berat yang penuh dengan mengulang pelajaran, teori, minggu-minggu ujian,
dan menunggu hasil dengan deg-degan.
Nilai Freya masih tetap baik seperti biasa walau sedikit merosot dari
prestasinya yang terdahulu. Sementara aku tetap meraih nilai keseluruhan
terbaik, seakan hal-hal belakangan terjadi tidak berpengaruh pada
konsentrasiku. Karena aku tidak akan
membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak
baik-baik saja. Aku tidak ingin meninggalkan sekolah ini dengan membawa dendam,
luka, dan perih di hati. Jika suatu saat aku mengenang masa-masa SMU, aku tidak
ingin mengatakan aku pernah membenci teman terbaikku.
Kenapa masih sulit
melupakan walaupun sudah terluka?
Pertanyaan itu terus-menerus mendera, setiap malam sebelum aku mencoba
tidur, setiap pagi saat bertemu pandang dengan Freya, setiap kali melihatnya
menunggu bus sendirian. Apakah aku
menyesal? Kadang aku menyesal sore itu,
keputusan untuk mengucapkan selamat tinggal. Hingga saat ini, sesal itu masih
membekas, tapi aku tidak bermaksud menarik perkataanku kembali. Aku terlalu
angkuh untuk memintanya kembali, mungkin. Ego ini yang membuatku tidak
mengacuhkannya, mematung setiap kali dia melintas, tidak pernah ingin
memaafkan. Freya, dia terus mencoba.
Mencoba menyapa Anggia bahkan saat Anggia dan Adrian lewat sambil bergandengan
tangan, mencoba tersenyum saat Anggia pura-pura tak melihat, mencoba mengucapkan
selamat
pagi meski tak kubalas. Aku tahu hatinya tersayat setiap
kali dia mencoba, tapi dia terus melakukannya.
Betapa bodohnya dia. Dan, bodohnya aku, yang semakin sakit dengan
membencinya. Memaafkan bukan berarti
kalah. Begitu juga dengan menerima,
melepaskan, dan mencintai. Aku baru saja menyadarinya. Aku tidak ingin melewati
hari terakhir sekolah dengan keadaan seperti ini. Aku capek setiap hari
berusaha menghindari mereka. Dan, jika mata kami bertemu pandang, aku tidak
ingin lagi pura-pura sibuk atau tidak melihat. Sudah terlalu munafik aku
berbuat seperti itu. Murid-murid kelas
tiga berseliweran dalam seragam kotor yang kini berwarna-warni dengan semprotan
pilox. Aku memandang Freya dalam kemejanya yang masih putih bersih, rok
abu-abunya masih polos tak ternoda warna. Dia menggenggam spidol biru di
btangannya, walautak ada seorang pun yang menghampirinya untuk menorehkan tanda
tangan di atas seragamnya.
Aku menarik napas
panjang, memantapkan hati untuk berbicara dengannya. Freya tampak kaget ketika aku menepuk
pundaknya, lalu mencoba tersenyum. “Hai, Moses.” Sudah berapa lama aku tidak mendengar
suaramu memanggil namaku? Aku sudah
tidak ingat. “Selamat yah, lagi-lagi
dapat nilai tertinggi. Kamu memang hebat.” Pujian itu tulus. Aku mengangguk,
lidahku seakan kelu tidak bisa berkata sepatah pun. “Kamu mau masuk universitas
mana?” “Universitas Indonesia.” Ah.
Akhirnya aku bisa menjawabnya. Freya
tampak terkejut, tapi senang. “Aku juga masuk UI. Jurusan kedokteran. Kamu?”
Jawabannya juga
membuatku kaget. Dan, senang. “Sama, aku juga.” Hening. Bingung harus berbuat apa, akhirnya
aku meraih spidol yang ada di tangannya dan bertanya, “Mau ditandatanganin di
mana?” Freya menunjuk bahunya. Aku menuliskan namaku di sana, meninggalkan
bekas permanen. “Mos,” panggilnya lembut.
“Aku mau minta maaf...” Tanpa sadar,
aku menyentuh bibirnya dengan ujung jariku, memohon padanya untuk diam. “Jangan
bilang apa-apa. Aku yang minta maaf.”
Freya memiringkan kepalanya. “Kamu nggak salah. Kenapa harus minta
maaf?” “Karena sulit unutk
memaafkan.”
Tawa kecilnya membuatku lebih rileks. “Kamu nggak salah
apa-apa, Mos. Aku yang salah, karena nggak bisa lebih mengerti kamu, dan nggak
bisa sayang kamu sebagaimana aku harus. Karena sudah menyakiti hati kamu. Kamu
nggak pantas kuperlakukan begitu.” Jauh
di dasar hatiku, sejujurnya aku sadar... aku bukannya tidak bisa memaafkan dia
karena tidak bisa menerima fakta bahwa dia sudah jatuh cinta pada sahabatku
sendiri. Sama-sekali bukan karena itu. Aku marah padanya karena dia tidak
pernah mencintaiku. Marah pada diri sendiri karena aku tidak dapat membuatnya
sayang padaku. Namun, ternyata ada
beberapa hal yang jatuh di luar kuasaku. Ada beberapa hal yang tidak bisa
kupaksakan, dan hati Freya bukanlah rumus Matematika yang bisa dengan mudah
kupecahkan. Bukan teori Fisika yang dapat kutelusuri, atau kuciptakan atas nama
diriku. Dia bukan benda untuk dimiliki.
Begitu aku menyadarinya, hanya satu bhal yang bisa kuperbuat. Memaafkan.
Memaafkan diri sendiri, juga memaafkan Freya dan Adrian.
“Kita tetap jadi teman kan?” Freya mengangguk, tersenyum lebar. “Tentu
saja.” Ketika aku meminta untuk
memeluknya, dengan lembut tangannya melingkar di pinggangku, dan kami berpelukan
sebagai sahabat. Hangat. Aku mencium aroma cologne yang dipakainya, membuatku rindu akan masa
lalu. Aku masih menyayanginya. Lebih
dari apa pun. *** ADRIAN POV
A friendship that can be ended didn’t even stant -Mellin de
Saint-Gelais, Oeuvnes poétiques-
“Moses! Adrian! Ayo foto bersama!” Tangan Deva, eks wakil ketua OSIS,
menarik gue dan Moses serentak,
lalu menjejerkan ka,i dalam suatu barusan. Moses nggak
merespons, memandang lensa kamera dengan kaku, seperti biasa memperlakukan gue
seolah gue kasat mata. Nggak ada di sana.
“Senyum dong, Mos, mukanya serem banget,” komentar Deva sambil memberi
aba-aba untuk menjepret foto kami berdua.
Gue melirik ke arah Moses, yang kelihatan necis dalam seragamnya yang
masih rapi walau di sekitar kami nggak ada satu pun murid kelas tiga yang
seragamnya nggak dipenuhi coretan aneka warna. Ada beberapa hal yang nggak
pernah berubah. “Ini mungkin jadi saat
terakhir kita foto berdua, Mos,” gue menggumam. “Kita nggak akan ketemu lagi.
Kalau pun kita ketemu lagi, lo akan pura-pura nggak pernah kenal gue. Iya,
kan?” Lo mau selamanya benci sama gue,
Mos? Gue nggak pengin kehilangan sahabat sebaik lo.
Cuma dia yang ngerti walau gue lagi bete dan nggak banyak
omong. Cuma dia yang bisa baca pikiran gue hanya dengan sekali pandang. Cuma
dia yang ngerti selera humor gue, walau kadang dia malas nanggepin.
Saran-sarannya selalu jitu; dia punya visi ke depan yang tegas dan dewasa,
kalau dibanding dengan teman-teman sebaya kami yang lain. “Pernah nggak, lo merasa menyesal?” Pertanyaannya membuat gue terdiam. Namun,
gue udah punya jazwaban sendiri. “Gue nggak pernah menyesal sama-sekali.” Dia menunduk, nggak ingin bertemu mata
dengan gue. “Gue nggak pernah nyesel
udah pernah sayang sama Anggia. Gue juga nggak nyesel karena menyayangi Freya.
Gue nggak pernah menyesali kata hati gue. Tapi..., gue tetap merasa bersalah ke
lo, Mos. Gue merasa bersalah, hubungan kita berempat jadi seperti ini. Gue
nggak bermaksud untuk sengaja nyakitin lo. Mungkin lo anggep gue Cuma bicara
bullshit, tapi gue benar-benar minta maaf.”
“Lo masih sayang
sama Freya?” Gue memilih untuk nggak
menjawab pertanyaan itu. “Gue belajar, bahwa ada beberapa hal yang ternyata
nggak bisa dipaksakan.” Moses bergeming
dalam diam. Gue menyerah. Udah berkali-kali gue berusaha meminta maaf, tapi dia
tetap keras kepala. Mungkin ini bisa jadi usaha gue yang terakhir, selagi gue
masih bisa ketemu dia. Gue menepuk pundaknya ringan sambil berkata, “Semoga
sukses, Mos.” Baru saja gue akan
berbalik meninggalkannya yang masih mematung, saat dia menarik ujung seragam
gue. Gue berbalik, melihat dia sedang tersenyum. “Kapan-kapan kita main bola lagi, ya.” Untuk ukuran seorang Moses, gue yang paling
ngerti, kata-kata itu merupakan beban yang lebih berat dari sekedar ucapan
maaf. Itu caranya meambaikan bendera
outih mengakhiri peperangan, caranya mengucakan kata damai.
Jadi gue pun tertawa, ingin memeluknya, tapi nant disangka homo. Lagi pula, dia
paling benci gue peluk-peluk. Gue bukan teddy bear, selalu dia mengomel
begitu. “Sebenernya kadang gue pengin
banget nonjok lo sekali lagi, Mos, biar lo sadar dan berhenti marah sama
gue.” Nada suaranya ketika menjawab gue
memang datar nggak beremosi, tapi seulas senyum tersungging di wajahnya. “Gue
juga pengin banget nonjok muka coverboy lp. Mario, tapi sayangnya lo tetep
sahabat gue ang paling baik.” Kali ini,
gue benar-benar memeluknya, tak menghiraukan protesnya yang berusaha melepaskan
diri. *** FREYA POV
Erik membuka tutup spidol dan dengan lincah mencoretkan
sepotong kalimat di atas seragamku.
“Hei, hei, lo tulis apa?” Aku berusaha memalingakan muka untuk membaca
tulisannya di punggungku, tapi masih saja tidak terbaca. Erik tertawa ngakak, puas bisa mengerjaiku
untuk kesekian kalinya. “Gue tulis omongan jorok sekali pun, lo nggak akan bisa
liat.” Aku memukul lengannya
keras-keras. Lalu berhenti, mengambil sejenak waktu untuk memperhatikan
sekeliling-suasana yang tidak akan pernah kudapatkan lagi, waktu yang tidak
akan kulalui lagi. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa sentimentil. “Setelah hari ini, gue nggak akan bisa makan
siang di kantin setiap hari bareng lo, Rik.”
“Lo bisa main ke kampus gue, ikut menyelinap ke kelas.”
Aku mulai tersenyum. “Atau lo bisa ke rumah gue.” Erik nyengir. “Sip.” “Gue pasti bakal kangen banget sama lo.”
Kupandang dia lekat-lekat. Ternyata, begitu besar sayangku pada berandal yang
satu ini. Erik hanya tertawa
cengengesan. “Ah, kayak gue mau pergi jauh aja, padahal rumah gue tetap Cuma
berjarak beberapa meter dari rumah lo.” Dilihatnya mataku mulai berkaca-kaca.
“Udah ah, jangan nangis. Malu ih..., udah gede masih cengeng.” “Eriiiiiiiiiiik...” Aku memeluk lengannya,
mengusap sedikit air mata yang mengucur jatuh ke pipi. Tiba-tiba, Erik berubah serius. “Frey, gue
punya satu resolusi penting.” Aku
melepaskan pelukanku. “Mau pindah kampus gue?” nilai ujiannya pas-pasan, jadi
bisa dibilang beruntung dia tidak sampai tinggal kelas. Setelah
beberapa minggu camping di rumahku sampai malam, kerja
kerasnya akhirnya membuahkan hasil.
“Bukan, bukan masalah itu.” Dia mengibaskan tangan seolah sekolah adalah
hal terakhir dalam pikirannya. “Gue pengin nembak Anggia.” Aku tersentak. “Anggia udah punya Adrian,
Rik. Kepala lo nggak kebentur terus amnesia, kan?” Erik menjitak kepalaku, separuh main-main.
“yeee... dibawa serius malah bercanda. Adrian nggak pantes buat Anggia. Lagian,
gue bukannya pengin ngerusak hubungan mereka. Gue hanya ngerasa ini kesempatan
terakhir gue untuk mengungkapkan isi hati.”
Gue nggak mau nyesel. Frey.
Kata-katanya itu terus terus terulang di kepalaku, saat ia melenggang
pergi dengan sekotak spidol warna- warninya. Apakah itu keputusan yang tepat?
Apakah sungguh akan ada yang tersesali jika ada beberapa hal yang tak
terucapkan
Sekilas, kupandang
Adrian yang sedang tertawa-tawa di ujung lapangan bersama anggota tim
basketnya. Mata kami bertemu pandang dan aku tersenyum. Seulas senyuman selamat
tinggal. Dia bals tersenyum. Dan dengan itu, aku pun mengucapkan selamat
tinggal yang sesungguhnya. Karena ada
beberapa hal yang lebih baik tidak terucap.
*** ANGGIA POV But I’m just a girl, standingin front of a
boy, asking him to love her. -Julia Roberts, Nothing Hill-
Seragamku sudah coreng-moreng dengan coretan spidol,
gambar-gambar dan pesan selamat tinggal oleh teman-teman. Aku juga telah melukis
karikatur wajah mereka di atas seragam, yang lepas hari ini nggak akan dipakai
lagi. Dibuangkah? Disimpan dalam kardus di gudangkah? Atau mendapat tempat
istimewa di dalam leari? Entah. Begitu
cepat waktu berlalu, aku harus akui hari kelulusan ini adalah the best part og
being in high school. Hari saat kami semua mengendurkan dasi, menggulung lengan
kemeja, dan sesuka hati mewarnai seragam masing-masing dengan pilox. Dan
guru-guru nggak akan memarahi. Dan kami bebas melakukan apa pun yang kami mau. Because this is our day. “Sini! Sini!” Aku ditarik-tarik ole
teman-teman untuk berpose di depan kamera digital yang dibawa Angel. Namun,
mataku masuh terus memandang Freya, yang masih duduk menunduk di sudut
lapangan. Sendirian. Mungkin Adrian
nggak sadar, tapi aku melihatnya mencuri-curi pandang ke arah Freya. Setiap
kali kami
melintas, matanya mengekori bayang Freya. Mungkin dia
berusaha sekeras mungkin untuk ngga melakukannya, tapi toh kami berdua
sama-sana sadar satu hak. Adrian
betul-betul jatuh cinta kepada Freya.
Seberapa keras pun aku berusaha melupakannya, berpura-pura nggak terjadi
apa-apa, tetap aja itu nggak mengubah kenyataan. “Hei.” Napas Adrian menggelitik telingaku
begitu dia melingkarkan tangan di pinggangku. Seragam putihnya sudah berubah
menjadi campuran warna abstrak dengan coretan cakar ayam warna hitam. Aku
menangkap tulisan friends forever di sudut lengan, nomor telepon di ujung
kerah, dan beberapa tulisan kacau lain yang nggak terbaca. Aku mengambil spidol
merah, menggambarkan hati mungil di bagian dada, dan menuliskan namaku di
sana. Jadi aku akan selalu ada di hati
kamu.
Kubiarkandia menggenggam tanganku, tersenyum, menangis,
tertawa, semuanya. Mulai hari ini, kami bukan murid SMU lagi. Kami akan
meneruskan hidup masing-masing, terpisah, mungkin jarang atau bahkan nggak
ketemu lagi. “Hei, kok nangis, sih.”
Adrian mengusap air mataku, lembut. “Kita kan bukannya nggak bisa ketemu
lagi.” Aku masih sesenggukan. “Iya...
tapi aku kan nggak bisa liat kamu main basket di lapangan ini. Nggak bisa makan
siang bareng di tangga. Nggak bisa pacaran di kebun belakang sekolah,
ngumpet-ngumpet biar nggak ketahuan.” Loker yang kami bagi selama tiga tahun.
Pernyataan cinta. Semua. Semua. Adrian
menyentil ujung hidungku sambil terkekeh. “Tapi, kita masih bisa pergi bareng.
Melukis bareng. Makan di Kedai Cumi bareng.”
Aku memandangnya lekat-lekat, merasa seperti anak kecil yang butuh
diyakinkan. Benarkah? “Kita bakal kayak gini terus, kan, Yan?”
Adrian mempererat pelukannya. “Kamu ngomong apa sih,
Sayang?” Iya, kan? Dia mengangguk. Untuk sekarang, hanya
jawaban itu yang aku butuhkan. *** ERIK POV
Anggia tersenyum ketika melihat gue berjalan menghampirinya. “Hai, Erik! Selamat atas kelulusannya.
:Tanpa diminta, dia mencoretkan namanya di atas seragamku dengan spidol pink di
tangannya Untuk beberapa saat, kami
berbasa-basi tentang universitas, jurusan, nilai, liburan... tapi semua itu
nggak penting. Hanya ada satu hal yang ingin gue tanyakan. “Lo bahagia, Nggi?” Dia tercenung, nggak menyangka pertanyaan
itu keluar dari mulut gue. Mungkin juga, nggak ada yang pernah menanyakan hal
itu kepadanya. Dan, dia sendiri belum pernah benar-benar memikirkannya. Lama, sampai dia akhirnya tersenyum tipis.
“Gue bahagia.” “Walau lo nggak
sahabatan sama Freya lagi?” Ekspresi
wajahnya berubah. “Gue belum siap ketemu Freya lagi,” dia mengaku. “Mungkin gue
jahat, tapi....” Gue tunggu dia sampai
menyelesaikan kalimatnya, tapi dia nggak bisa melanjutkan. “Walau Adrian nggak
sepenuhnya menyayangi lo?”
Lagi-lagi, dia mengangguk dengan senyum sedih menghiasi
wajahnya. “Ya. Gue masih ingin berharap.”
Reality check. Lo butuh kenyataan, Nggi, bukan fairy tale yang selalu
berahir indah. Ini hidup, Nggi. Gue bukannya mau bikin lo bingung,
tapi..... “Gue sayang lo.” Pernyataan barusan jujur, dari hati. Lama,
gue menganggap rasa suka utuknya hanya sekedar naksir cewek cakep dari kelas
sebelah. Gue kira, perasaan gue untuk dia sedangkal jumlah percakapan yang kami
miliki bersama. Gue kira, gue hanya sebatas suka melihat senyumnya, wajahnya
yang imut, sikapnya yang ramah. Namun,
hari ini gue sadar, perasaan gue untuk dia ternyata lebih dari semua itu. Lebih
dari sayang yang gue sangka gue ingin melindungi dia. Gue sayang dia- apa pun
yang telah terjadi. Dan kalau gue nggak ngomong sekarang, selamanya gue akan
menyesal.
Anggia menatap gue. Sedih. “Maaf ya, Erik. Gue nggak bisa
terima perasaan lo.” “Gue nggak
berharap perasaan gue diterima.” Dia terhenyak,
bingung. “Gua hanya ingin lo bahagia...
dengan semua pilihan lo. Apa pun kondisinya.”
Cinta itu nggak memiliki, Nggi. Begitu pula dengan gue; walaupun
sekarang rasanya sakit. ***
[Epilog] ANGGIA POV Aku membalas lambaian Adrian yang kelihatan
agak mabuk akibat alkohol yang kami tenggak malam itu, lalu menutup jendela
mobil. Pricilla masih merokok di
sampingku, duduk di balik setir dengan tenang dan nggak
tampak mabuk sekali pun. Kami baru saja merayakan pertunagan Pricilla dengan
kekasihnya Kenneth. Pricilla adalah
teman baikku di London. Nggak terasa, udah dua tahun berlalu sejak kami semua
lulus SMU. Aku melanjutkan kuliah di bidang seni atas rekomendasi kenalan Papa
di London, sedangkan Adrian menyusulku ke sini walau dia mengambil jurusan yang
berbeda. Mungkin, kami berdua
menganggap London sebagai tempat yang sempurna untuk melupakan apa yang terjadi
di kala SMU, tetapi kurasa... sebenarnya akulah yang sedang melarikan diri. “Adrian seems a little strained.” Pricilla
membuka pembicaraan. “He’s just a
little tipsy.” Aku memberi alasan.
Pricilla mengembuskan asap rokoknya. “No, I mean, he seems like he has a
lot in mind.”
Kini, giliranku
menghela napas. Dia tahu sekilas cerita waktu SMU dulu, tapi nggak seluruhnya.
“To be honest.” Aku mengakui kepada Pricilla, “I don’t think he still loves
me.” “You mean he’s still in love with
that girl, what’s her name... Freya?”
Nama yang disebut Pricilla membuatku kurang nyaman. Sampai sekarang, aku
dan Freya putus hubungan. Hilang kontak. Waktu kelulusan, aku pulang sebelum
dia sempat bicara denganku. Aku menghindarinya, terus dan terus, seperti
berlari dalam lingkaran. Dan kini, aku enggan menjawab pertanyaan
Pricilla. “I gave up everything for
Adrian. Do you have any idea how that feels?”
Pricilla diam saja mendengarnya, masih terus menyetir. Ketika berhenti
di lampu merah, dia berpaling kepadaku dan bertanya, “Did you regret it?”
“Menyesal?” Aku bertanya balik, lalu menggeleng. “Of course
not.” Pricilla tersenyum. “Then why are
you acting as if you’re a victim” Aku
terdiam, berusaha mencerna kalimatnya baik-baik. “When you make decisions, you deal with
consequences. Kamu memberikan segalanya untuk Adrian dengan tulus, jadi jangan
mengharapkan timbal baliknya. Don’t blame it on him. Don’t expect anything in
return.” “I guess I just can’t live
without him.” Aku menutup wajah dengan telapak tangan, kembali teringat Adrian
dan Freya. Apakah sebenarnya mereka yang jadi korban? Korban keegoisanku yang
mencoba mengikat Adrian dengan segala cara, hanya supaya dia tetap ada di
sisiku? Pricilla membunyikan klakson
sekali. “Being able to live with or without someone is just a matter of
perspective,” ujarnya bijak, dan lagi-lagi aku terhenyak.
“Kalau kamu dan
Kenneth berpisah sekarang, is it going to be alright for you?” Aku ingin
tahu. Pricilla menyentuh lenganku
dengan ujung jemarinya yang dingin. “Anggia, as women, we need to protect
ourselves from getting hurt. But sometimes hurt is inevitable that we just have
to deal with it.” Kali ini, Pricilla
nggak berkata lebih lanjut, membiarkanku tenggelam dalam bau asap rokok yang
menyesakkan, dan seribu satu pikiran yang menyatu. Sebenarnya selama ini, aku
berjuang untuk kebahagiaan siapa? Kebahagiaan Adrian, atau kebahagiaanku
sendiri? *** FREYA POV
Aku mengangkat telepon yang sejak tadi berdering, tergesa sambil
mengetik tugas kuliah untuk besok.
Sudah hampir pukul sepuluh malam, dan tugas itu bahkan belum
selesai setengahnya. “Halo?” Tidak ada jawaban. “Halo?” Aku mengulang, mulai tak sabar. “Freya?”
Aku hampir menjatuhkan gagang telepon, saking terkejutnya. Suara itu
sudah terlalu lama tak kudengar, tapi masih kukenal dengan baik. “Anggia?”
“Betul!” Suara itu terdengar ceria. Bahagia. “Apa kabar?”
“... Baik,” jawabku, terbata. Hening. Di ujung sana, Anggia terdengar
seperti sedang menggigit-gigit ujung pensil, kebiasaannya jika sedang gugup,
seakan dia menyesal telah menelepon. Akhirnya, dia kembali bicara. “Denger-denger, sekarang lo kuliah di kedokteran.” “Ya,” aku menjawab, sama gugupnya. “Moses
juga.” “Oh.” Sudah dua tahun berlalu sejak kelulusan SMU.
Aku dan Moses masuk jurusan kedokteran; kami berdua dibekali dengan beasiswa
penuh karena nilai yang mendekati sempurna. Sekarang, kami sering berangkat ke
kampus bersama, mengerjakan tugas bareng, seperti sahabat dekat. Aku sudah jarang bertemu dengan Erik, tapi
cowok yang satu itu memilih jurusan Teknik Industri di sebuah universitas
swasta. Kadang, kami berdua masih mampir
ke sekolah lama untuk sekedar makan pisang goreng dan minum
es cokelat. Aku sudah tidak pernah lagi
melihat Anggia dan Adrian sejak hari
kelulusan, dan ketika aku akhirnya menguatkan hati untuk mengunjungi rumah
anggia, Mama Anggia memberi tahu bahwa Anggia sudah pindah ke Inggris. Sampai
sekarang aku masih menyesal tidak mengunjunginya lebih awal, untuk meminta
maaf. Katanya, Anggia telah pergi ke
London, masuk universitas kesenian di sana untuk belajar seni lukis. Adrian, yang
menyusulnya, dikabarkan sedang menuntut ilmu di bidang bisnis. Apakah sekarang dia masih sering bermain
basket? Pikiran itu menguap begitu
saja, segera kutandaskan jauh-jauh.
“Gimana kuliah di sana?” Aku membuka percakapan.
Anggia mendesah. “Berat. Udah masuk semester empat, dan kami
semua harus bikin lukisan untuk exhibition awal tahun depan, hasilnya dinilai
pula.” Aku tersenyum, rindu dengan
Anggia yang biasanya bercerita tanpa henti. “Lo kedengerannya bahagia.” Anggia tak menjawab, seolah tahu ada sesuatu
yang ingin kutanyakaan, tapi tak berani kuucapkan. “Adrian baik-baik aja, kalau
itu yang ingin lo tanyakan,” katanya.
Aku terdiam. Teringat akan kejadian dua tahun lalu, keputusan yang
akhirnya membuat Anggia dan Adrian pindah ke London tanpa melihat ke belakang
lagi. “Lo masih sayang Adrian,
Freya?” Aku tertawa gugup, seketika
melupakan tugas yang masih terbengkalai. “Lo telepon untuk nanyain gue
ini?” “Gue telepon untuk minta maaf.”
Aku memijat kening,
tiba-tiba merasa sangat lelah. “Gue yang salah, Nggi.” “Gue yang minta maaf... karena ngejauhin lo
begitu aja.” “Gue yang salah,” ulangku
lagi. “Kenapa waktu itu lo nggak bilang
kalo lo sayang dia, Freya? Kenapa waktu itu lo harus bohong?” “Karena lo sahabat gue, Nggi. Gue rela
kehilangan yang lain, daripada gue harus kehilangan lo.” Di ujung telepon, Anggia tidak bisa menahan
air mata yang jatuh. Hatiku sakit mendengar isakannya. Teringat segalanya yang
telah terjadi; bahkan setelah dua tahun rasa sakit itu masih membekas. Mengapa
setelah semuanya berlalu, hatiku masih perih saat mengingatnya?
“Lo tau kenapa gue marah? Gue marah karena lo nggak jujur
sama gue.” Anggia melanjutkan dengan suara parau. “Gue kecewa. Bahkan sampai
sekarang pun lo nggak pernah mau bilang yang sejujurya, apa yang lo
rasain....” “Gue nggak bisa.” “Adrian masih sayang sama lo.” Akhirnya,
Anggia berkata. “Dia akan balik ke Jakarta hari Kamis. Dia sampai di bandara
pukul tujuh pagi. Kalau lo masih sayang sama dia, tolong temuin dia. Sampaikan
semua yang ingin lo katakan.. yang nggak pernah lo sampaikan dua tahun
lalu.” “Gue nggak punya apa-apa untuk
disampaikan ke Adrian.” Aku sudah tidak ingin berharap. Tidak ingin mengulang
apa yang sudah lewat. Semuanya sudah berlalu.
“If you can’t do it for me, at least do it for yourself, Freya. Jangan
ada kata sesal.” Nada Anggia melembut. “Gue putus sama Adrian. Cuma ini yang
bisa gue lakukan untuk lo.”
Sebelum koneksi
telepon tersebut terputus, Anggia sempat bertanya. “Kita tetap teman, kan,
Freya?” Aku mengiyakan, lalu
menelungkupkan kepala di atas meja dan menangis. ***
ADRIAN POV She’s out of my life
I don’t know wheter to laugh or cry -Josh Groban, She’s Out of My Life- ***
Bermalam di pesawat sangat melelahkan. Gue berusaha tertidur dalam
posisi duduk yang sangat nggak nyaman, berimpitan dengan penumpang lain yang
tidur dan mendengkur seenaknya. Gue berusaha membaca
majalah, tapi mata gue pedih karena lelah dan remang cahaya
lampu kuning yang disediakan di cabin. Gue memejamkan mata, dan teringat
Freya. Entah di mana dia sekarang.
Terakhir kali, gue mendengar kabar dari Deva kalau Freya dan Moses kuliah di
tempat yang sama. Waktu itu gue sempat ngerasa khawatir, apakah mereka pacaran
lagi? Kini, Freya adalah halaman
Facebook yang jarang di- update. Gue sering me-refresh halamannya, sekedar
berharap ada posting baru yang mengabarkan keadaannya, tapi nihil. Gue juga teringat Anggia. Beberapa hari yang
lalu, dia mengajak gue ke sebuah pasar malam. Kami berdua memandang kembang api
yang meledak-ledak di langit, dan dia memeluk gue erat, seolah kami nggak akan
ketemu lagi. Hari itu, dia bilang, dia ingin kita berdua jujur pada perasaan
masing-masing. “Kamu nggak usah bilang
apa-apa... aku udah tahu. Maaf ya, Yan, selama ini aku tahu tapi pura-pura
nggak tahu.”
Dia tahu gue sering
pura-pura nggak dengar ketika nama Freya disebut. Dia tahu gue pura-pura tegar,
pura- pura mencintai, pura-pura bahagia.
Gue ingin memberikan argumen, ingin memenangkan hatinya, seperti yang
selalu gue lakukan beberapa tahun ini. Namun, dia terlalu mengenal gue.
Tatapannya seakan melucuti kebohongan gue satu-persatu. “Kalau kita putus, kita tetap akan jadi
sahabat baik, kan? Kita nggak akan pura-pura nggak kenal kalau berpapasan, kita
nggak akan saling lupa... ya kan?” Gue
bisa melihat luka dikilatan matanya ketika mengucapkan semua itu. Dan gue hanya
bisa mengangguk lemah. Dia berdiri di samping gue, menangis tanpa suara. Bahasa
tubuhnya menunjukkan dia nggak ingin disentuh.
“Kita putus, ya.” Dia memaksakan diri untuk tersenyum di balik air
matanya. “Aku mau relain... kamu dan Freya. Asal kamu janji akan bahagia.”
“Maaf, Anggia.” Untuk semua yang sudah terjadi. Untuk
janji-janji yang nggak gue penuhi.
Permintaan terakhirnya adalah supaya gue menemaninya malam itu, menonton
kembang api yag menari-nari di langit.
Anggia bilang, dia lega udah menyampaikan apa yang sejak dulu ingin
dikatakannya, sesuatu yang seharusnya disampaikannya, tapi nggak pernah
dilakukannya karena nggak punya cukup keberanian. Dia bilang, dia ingin berdamai, dengan Freya
dan dengan dirinya sendiri. Dia bilang,
setiap akhir adalah sebuah permulaan yang baru. Sometimes things fall apart so
other things can come into place. Dan,
gue memercayainya. ***
MOSES POV Aku sedang mengetik bahan untuk makalah
ketika sebuah pesan singkat muncul di layar komputerku. Aku membaca pesan itu,
dari Adrian. Mos, Anggia putusin
gue. Pesan itu membuatku lega.
Akhirnya, Anggia menentukan pilihannya, setelah sekian tahun bersama seseorang
yang dia tahu tidak bisa mencintainya. Aku pun mengetik balasannya. Jadi? Langkah selanjutnya apa? Adrian mengetik jawabannya dengan
cepat. Gue bakal balik ke Jakarta dalam
waktu dekat ini.
Aku menarik napas.
Untuk Freya? Adrian tidak
menjawab lagi setelah itu. Aku berhenti mengetik dan menunggu. Selama ini,
Freya memang terlihat baik-baik saja. Namun, dia tampak antusias setiap kali
mendengar ceritaku mengenai Anggia dan Adrian, yang kudapatkan dari e-mail
e-mail pendek Adrian yang sesekali menyambangi inbox-ku. Selama ini sudah ada
beberapa lelaki yang berusaha mendekatinya, tapi tidak ada satu pun yang
menarik perhatiannya. Semua itu membuatku percaya, dia masih menyimpan rasa
untuk Adrian. Kembalilah untuk Freya. Aku mengetik kalimat itu. Anehnya, aku benar-benar berharap Adrian
akan kembali untuk Freya. Sudah terlalu
lama senyum tidak terukir di wajahnya.
*** FREYA POV
Pagi ini, aku bangun dengan malas-malasan. Masih pukul enam pagi, tapi
pintu kamarku sudah digedor- gedor. Aku membuka pintu dalam keadaan setengah
siap, muka penuh sabun cuci muka dan rambut berantakan. Moses dan Erik sudah berdiri di ambang
pintu, tidak sabar. “Ada apa sih
pagi-pagi?” gerutuku. “Hari ini kan gue naik bus ke kampus.” “Nggak usah, gue anterin,” tukas Erik. “Kok
belum siap, sih? Udah jam berapa nih?”
Aku menunjuk jarum jam yang merangkak lambat. “Baru pukul
enam lewat lima menit! Hari ini kan kita kuliah siang, Mos?” Moses mengangkat bahu. “Dosen tadi SMS,
bilang jadwal mendadak diganti jadi pukul tujuh.” Hah? Sebagai asisten dosen, Moses memang
selalu mendapat info terbaru, termasuk mengenai perubahan jadwal kuliah. Tapi,
kenapa dia tidak meberi tahu aku lebih awal? Aku buru-buru mencuci muka,
menyikat rambut seadanya dan menyambar tas. Kamu berlari kecil ke arah mobil,
tapi aku baru menyadari satu hal ganjil dari seluruh setting ini. “Terus ngapain Erik ikut?” Kulirik dia
dengan curiga. “Hari ini gue nggak
kuliah. Boleh dong, gue ikutan?” Moses
tersenyum simpul, membenarkan perkataan tersebut. Erik menyetir cepat, masuk
tol dan tidak berhenti.
“Eh, Rik, lo salah jalan. Ini bukan arah ke kampus....” Erik
diam saja, masih memandu mobil. Moses juga tidak berkomentar. Dan tiba-tiba aku sadar, apa yang sedang
mereka lakukan. Mereka sedang berkomplot membawaku ke bandara untuk menjemput
Adrian yang hari ini pulang ke Jakarta. Hari itu, aku sudah memutuskan untuk
melepaskan Adrian. Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan
melupakannya, bahwa dia selamanya hanya akan menjadi bagian dari lembaram buku
masa laluku. Aku tidak akan membiarkan
diriku terjerumus lagi. Demi Anggia, dan demi diriku sendiri. “Kalau kalian mau jemput Adrian, lebih baik
turunin gue di sini. Biar gue pulang naik taksi.” “Lo harus ikut turun.” Erik menyahut,
tegas. “Temuin Adrian, Freya. Sekali
ini aja.” Moses meminta dengan tenang, tangannya di bahuku. “Buat apa?”
“Menyelesaikan
semuanya.” Jawaban Moses singkat, dan Erik setuju dalam diam. Mobil berhenti di area parkir bandara. Moses
dan Erik menuntunku masuk. Aku tidak ingin masuk, tapi sesuatu membuatku terus
berjalan masuk, mencari-cari sosok seseorang. Aku memandang kerumunan penumpang
pesawat yang baru lepas landas dari London, tanganku berketingat karena
gugup. Perasaanku tidak menentu. Aku
tidak siap bertemu Adrian, tidak siap ada di sini. Aku tidak punya apa pun
untuk disampaikan padanya, hanya ingin memintanya menjaga Anggia baik-baik,
jangan sampai Anggia menangis lagi. Tidak apa-apa, asal Anggia bahgia.... Namun, suara kecil dalam hatiku mengatakan,
aku sangat ingin bertemu dengannya..
Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihatnya keluar dari gerbang.
Dia masih jangkung seperti dulu, bahkan lebih tinggi dari yang terakhir
kuingat. Rambutnya kecokelatan, agak panjang menutupi
telinga. Senyumnya masih sama. Dia masih seperti dulu. Senyum membeku di wajahnya ketika dia
melihat Moses. Lalu Erik. Lalu menyapukan pandangan kepadaku. Aku berdiri di tengah bandara yang ramai
sesak dengan orang, manusia yang melambaikan selamat tinggal, dan orang-orang
yang baru saja bertemu kembali. Pikiranku kosong, seribu satu hal yang tadinya
kupikirkan mendadak lenyap. Sudah bertahun-tahun kuyakinkan diri sendiri bahwa
aku telah melupakan pria ini, tetapi begitu dia muncul, aku menyangkal semua
pernyataan itu dalam hati. Aku masih menyayanginya. “Freya.”
Suara itu. Aku merindukannya.
Tanpa terasa, air mata menetes, bulir bening mengalir di pipiku tanpa dapat
kuhentikan.
“Selama ini..., kamu baik-baik saja?” Ada berapa banyak hal yang belum sempat aku
sampaikan, Adrian? Dia menatapku,
seakan menunggu jawaban, tapi tak sepatah pun keluar dari mulutku. Kupejamkan
mata, teringat ucapan Anggia-jangan sampai ada sesal lagi, Freya, dan kurasakan
dorongan pelan Moses di pundakku membawaku selangkah lebih dekat kepada Adrian-bentuk
dukungannya sebagai seorang sahabat.
Yang perlu kulakukan adalah merapatkan jarak di antara kami. Mencari
keberanian itu, mengambil kesempatan itu, mengucapkan tiga kata itu. Namun, aku
justru diam terpaku, tak sanggup berkata maupun berbuat apa-apa. Sudah dua tahun kita terlambat, Adrian.
Masihkah kita punya kesempatan untuk memperbaikinya? “Mungkin udah terlambat untuk aku buat
ngomong ini, tapi aku sayang kamu, Freya.”
Aku juga sayang
kamu. “Maaf, waktu itu aku nggak cukup
kuat untuk melindungi kita semua. Untuk melindungi Anggia, Moses, dan
kamu.” Maaf, karena aku yang terlebih
dulu melepaskan kamu. Ketika dia
memelukku, aku tidak cukup kuat untuk menolaknya. Tidak cukup kuat untuk membohongi diri
sendiri bahwa selama ini dia tidak berarti apa-apa untukku. Aku terisak di
balik pelukannya yang hangat, menemukan satu-satunya hal yang selama ini kami
cari. “Jangan pergi lagi.” Hanya itu jawaban yang dapat kuberikan
padanya. Namun, jawaban itu ternyata cukup untuknya karena dia mengangguk dan
mempererat pelukannya.
Ada suatu saat kita tidak dapat memilih yang terbaik. Ada
suatu saat di mana kita berbuat kesalahan, dan hidup dalam kenangan penuh
penyesalan. Tapi saat ini, aku hanya ingin mengikuti kata hati-ke mana pun ia
membawaku. Dan kali ini, ia membawaku
menuju cinta. ***
DISCLAIMER : Teks di
atas adalah hak cipta / hak milik dari pengarang.. Seluruh media yang tersedia di situs ini hanyalah untuk keperluan
promosi dan evaluasi. Jika Anda suka dengan novel ini , belilah buku-nya untuk mendukung pengarang yang bersangkutan agar terus berkarya untuk kemajuan karya anak bangsa